Tertambat Pada yang Datang Terlambat

sumber gambar: fisipol.ugm.ac.id

SAVANA- “Aku tidak ingin cinta yang sejati. Tapi, biarkan aku mencicipi cinta yang bukan sesaat. Biarkan aku berjuang dan bertahan di sana. Biarkan aku tersiksa untuk terus belajar bersetia. Aku rela tenggelam di sana, sebagaimana segelintir orang yang beruntung mendapatkannya”. Deg! Tiba-tiba terbayang perjuangan cinta dengan kekasih atau sang mantan. Itulah mungkin yang dirasakan oleh para pembaca ketika memasuki prolog halaman 8 novel Puthut EA yang berjudul Cinta Tak Pernah Tepat Waktu.

Dalam novelnya ini, Puthut amat pandai memainkan perasaan pembacanya. Dimulai dari tokoh utama yang menyebut subjeknya dengan istilah “aku” membuat para pembaca seolah pembaca adalah pelaku utama dalam novel tersebut. “Aku” merupakan seorang lelaki berumur 28 tahun yang berprofesi sebagai “pembunuh bayaran” (penulis buku bayaran). “Aku” dalam novel tersebut merupakan tokoh yang selalu gagal dalam perjuangan asmaranya. Bukan karena tidak laku, namun justru karena mudahnya tokoh “aku” itu untuk mendapatkan seorang perempuan yang ia inginkan.

Kisahnya dimulai dengan pertemuan “aku” dengan sang mantan pada suatu pesta. Mantannya yang satu ini merupakan kekasih yang paling dicintainya, perpisahannya pun masuk dalam kategori nahas, “aku” ditinggalkan sang mantan karena sang mantan lelah dengan segala sikap dan perilaku dalam hidupnya, belum lagi perencanaan hidup si “aku” di masa depan tidak jelas.

Saat pertemuan dengan sang mantan itu, sang mantan sudah menikah dan memiliki anak. Namun, “aku” masih saja belum melupakan perasaannya, cantik senyumnya, cantik cemberutnya masih saja muncul dalam pandangnya. Mereka membincangkan romantismenya di masa lalu. Bahkan sang mantan sempat mengungkit jumlah mantan yang “aku” miliki, dengan bertanya, “sebetulnya aku itu mantan kamu yang keberapa sih? Yang kelima apa ke lima belas?”. Hingga tiba di akhir waktu pertemuannya itu, sang mantan dijemput suaminya di seberang jalan sana, si “aku” bertanya, “apakah kamu mencintainya?” Dia menjawab, “dia mencintaiku”.

“Aku” dalam novel itu bertemu dan tertarik dengan banyak perempuan. Dari mulai perempuan yang dikenalkan oleh ibunya hingga perempuan yang ia temukan di kafe rahasia. Ibunya mengenalkan pada seorang perempuan berprofesi sebagai dokter. Hal itu dilakukan karena geram terhadap anaknya yang sudah memiliki cukup umur namun tak kunjung memperkenalkan perempuan padanya. “Aku” sempat tertarik pada perempuan itu, namun batinnya sering bergejolak. “Aku” takut dengan pernikahan dan menyimpulkan bahwa “aku” lebih baik sendiri. Kurang lebih itulah yang “aku” rasakan saat bertemu dan berkenalan dengan banyak perempuan.

Dalam bab selanjutnya, “aku” diceritakan menikah dengan seorang perempuan bernama Kikan. Perempuan itu merupakan perempuan yang benar-benar “aku” impikan, tidak terlalu cantik, namun cukup pintar untuk menemani diskusi di kesehariannya. “Aku” sangat bahagia ketika menikah dengan perempuan bernama Kikan itu. Namun nahas, ternyata kisah bahagianya itu hanya mimpi.

Dalam novelnya ini ada satu bab khusus, yang berjudul “Bab Khusus, tentang Kamu, untuk Kamu”. Disitu Puthut memainkan perannya bak motivator super cerdas, memberi motivasi kepada pembaca, dengan mengganti nama subjek “aku” dengan “kamu”. Dari situ Puthut seolah “memarahi” pembaca. Dan dengan kalimat-kalimat mendalam, Puthut dapat menyentuh perasaan terdalam dari pembaca. Puthut memotivasi pembaca agar  menjalani hidup dengan jauh lebih baik lagi.

Terakhir, “aku” menemukan sesosok perempuan di Kafe Rahasia. Perempuan itu amat sangat cantik. Perempuan itu menjadi pelayan di kafe tersebut. Sempat berdiskusi dengan semua rekan-rekannyanya agar dapat membantunya, justru rekan-rekannya menimpali dengan kalimat penuh ketidakpercayaan. Namun disitu “aku” berjanji, bahwa jika perempuan itu dapat menerimanya maka perempuan itu akan “aku” nikahi.

Rekan-rekannya pun percaya. Mereka mencoba mencari tahu perempuan itu dari mulai nama, umur, hingga latar belakang pendidikan. Didapatlah info dari sesama pelayan di Kafe tersebut, bahwa perempuan itu bernama Kikan, kuliah di UGM. Namun kembali nahas ternyata perempuan itu sudah menikah. “Aku” pun kembali merasa kesakitan yang luar biasa.

Selepas itu, “aku” hendak pergi ke suatu daerah. Saat duduk dan menunggu kereta maju, “aku” harus kembali menahan sakit. “Aku” melihat Kikan menuju kereta yang tengah ia naiki. Kikan diantar oleh seorang laki-laki, yang merupakan suaminya. Lebih gilanya lagi, posisi duduk Kikan berhadapan dengan “aku”. Disitu mereka mencoba berbincang. Hingga sampai pada ungkapan dari “aku, “Aku dulu naksir kamu”. Yang kemudian ditimpali oleh Kikan, bahwa Kikan pun berharap agar bisa berkenalan dengan “aku”. “Aku” heran, dan bertanya bukannya saat itu ia sudah menikah. Kikan menjawab, bahwa dia menikah baru dua bulan yang lalu.

Novel Puthut ini banyak memberi pelajaran, khususnya untuk para lelaki agar dapat selalu menerima pemberian Tuhan. Karena Tuhan paham apa  yang lelaki butuhkan. Novel ini mengajarkan agar menjadi lelaki sejati. Di belakang covernya, dalam sinopsis, Puthut menuliskan, “hidup acapkali bukanlah soal yang Anda inginkan, melainkan apa yang Anda miliki”.

Tuliskan Komentarmu !

Amirul Muttaqien merupakan mahasiswa IQT Semester 6 di STAIPI Bandung.