Yang Suka Ribut bukan Kita-Rakyat!

yang ribut poltisi
sumber gambar: cabarus.com

SAVANA- Manusia Indonesia adalah manusia paling tangguh seantero jagad. Ketangguhan itu bisa dilacak melalui eksistensi hasil dialektika mereka dengan alam dan laju sosial kehidupannya; produk kognisi, wicara, kebiasaan, dan kebudayaannya.

Ratusan tahun manusia Indonesia (baca; nusantara) dijajah oleh berbagai bangsa liyan, tetap saja ras Sunda lestari dengan ke-Sunda-annya, ras Jawa lestari dengan ke-Jawa-annya, ras Bugis lestari dengan ke-Bugis-annya, ras Mahuze lestari dengan ke-Mahuze-annya,  dan berbagai ras, suku, dan bangsa-bangsa yang tumbuh-kembang subur di bumi Indonesia, lestari dengan akar primordial dan nurani kebudayaannya.

Manusia Indonesia juga adalah manusia paling bisa dan fasih meniru dialek, logat, karakter unik bangsa-bangsa liyan. Manusia Indonesia bisa sangat fasih berbicara menggunakan bahasa asing. Mau bahasa dan dialek Arab, Inggris-British, Inggris-American, Korea, Spanyol, Perancis, Russia, atau apapun itu.

Saya berani menjamin, tidak ada lidah bangsa lain yang se-paling-bisa lidah manusia Indonesia. Ini jadi bukti bahwa sebetulnya secara kolektif dalam brain memory (memori otak) manusia Indonesia, dalam indera-inderanya, syaraf-syaraf otaknya telah ada pengalaman hidup (life-experince) sebagai bangsa berperadaban “tua”. Atau boleh jadi manusia Indonesia adalah sebetulnya nenek moyang manusia modern. “Mereka” yang liyan, yang berada di luar “kita” adalah adik-adik, anak-turunan “kita” manusia Indonesia.

Orang Indonesia dengan tanpa sekolah pun banyak yang berani dan “bisa” membuka bengkel. Bengkel motor, bengkel mobil, bengkel pompa air, servis TV, dan lain-lain. Orang Indonesia hanya bermodal rasa penasaran bisa membuka kios reparasi dan servis HP. Asal muasalnya HP milik sendiri rusak, kemudian diotak-atik, eh malah bagus lagi. Tiba-tiba saja sebulanan kemudian membuka layanan servis HP atau sumafon. Coba cek di luaran sana! Tidak akan dijumpai orang-orang semisal tadi. Di Finland sana, tempat produksi Nokia dulu, orang kalau HP-nya rusak ya ganti, beli lagi.

Dengan ketangguhan berbudaya, kebisaan, keotentikan manusia Indonesia tersebut, sekarang media atau beberapa tokoh Nasional berkata bahwa rakyat geram, rakyat tengah dilanda kegaduhan, grass-root ‘akar rumput’ tengah berada pada potensi horizontal-chaos, lhaa mimpi kali ya?

Saya bisikin nih. Rakyat Indonesia masih dengan aktivitas biasanya. Apalagi yang berada di kampung-kampung, yang memang mayoritas jumlah terbesar warga negara Indonesia ini berhuni di sana, di pedesaan. Mereka yang petani, masih dengan kesibukannya bertani; masih pusing memikirkan mengapa tidak pernah ada upaya yang merata dari wakilnya supaya jika kemarau sekali pun mereka bisa bercocok tanam. Emak-emak penjajak ikan asin, sayur-mayur, kudapan tradisional di Pasar Daerah, masih sibuk bangun tengah malam lalu dini harinya segera beranjak ke pasar.

Anak-anak jalanan masih sibuk ngamen di lampu merah. Mahasiswa Indonesia masih sibuk membuat makalah dan memikirkan mengapa stok makalah di gugel itu-itu saja. Dosen-dosen masih dengan kesibukannya dodok lan ngabsen (baca; duduk dan ngabsen) mahasiswa di kelas-kelas kuliah. Para pedagang kaki lima masih sibuk berbelanja ke pasar dan melayani siapa pun konsumennya tanpa menanyakan pendukung petahana atau oposisi. Tukang gali kuburan masih sibuk ngasah cangkulnya agar tajam dan berdo’a semoga esok-esok ada yang mati; terutama politisi yang bikin gaduh cuaca demokrasi hari ini. Wkwkwk.

Tapi kok tampaknya di medsos kita ini rakyat Inonesia ribut melulu ya?

Duhai kolega, handai-taulan, sedulur sekalian, medsos itu dunia maya. Maya identik seperti dengan fiksi. Dunia maya tidak murni 100% mendeskripsikan realitas sosial nyata. Medsos merupakan produk teknologi modern. Di mana realitas “sejati” dengan asumsi, persepsi, sudut pandang, jarak pandang, dan atmosfernya yang alami terhalangi dan diperantarai, bahkan tereduksi.

Maka apa yang tampak di medsos bukan “sama dengan” apa yang ada di dunia real. Kalaupun warta di medsos itu benar, tetap kondisinya akan jauh berbeda dengan, tatkala kita secara langsung melihat realitas yang holistik, seutuhnya di dunia nyata.

Terlebih hari-hari sekarang medsos itu dijejali, disesaki, dan diframe oleh syahwat politik. Kepentingan-kepentingan politik, persepsi politik, paradigma politik, bermain di sana. Mesin politik yang paling andil untuk memproduksi isu, opini, hoaks, dan cacimaki terutama sekali “bukan” bermuasal dari rakyat Indonesia. Ia menggelosor, diedarkan melalui otak-otak para “orang” yang mempunyai “kepentingan” duduk di kepemerintahan. Yang ribut, yang mengkonstruk ruang (space) konflik adalah “mereka” yang di atas, bukan “kita” yang di bawah. Kita hanya kebagian getahnya.

Kita-Rakyat (sengaja ditulis dengan awalan kapital dan diperantarai tandabaca hubung sebagai “secara” semiotik perlawanan “politis” terhadap “lidah” politisi yang kerap “nyaplok” kata “rakyat” seenaknya) adalah korban. Kita-Rakyat adalah (dijadikan) alat kepentingan “mereka”. Kita-Rakyat paham bahwa demokrasi ialah human-power (kekuatan manusia-rakyat), adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Pejabat adalah budak rakyat, Kita-Rakyat adalah tuan “mereka”. Semestinya mereka sadar, baik yang sudah jadi pejabat atau pun yang hendak jadi pejabat, sadar bahwa mereka tidak lebih tinggi derajatnya dibanding Kita-Rakyat.

Mereka harus bin wajib menghormati Kita-Rakyat. Bukannya Kita-Rakyat dijadikan “alat” kepentingan, bukannya Kita-Rakyat dijadikan “apologi-politis”. Kebutuhan rakyat Indonesia semestinya seperti perilaku “nyunggi” dalam tata peradaban wicara Jawa. Bahwa “nyunggi” ialah mengangkut barang dari satu tempat ke tempat lain menggunakan kepala.

Maka, kebutuhan Kita-Rakyat harus paling tinggi di atas segala kepentingan politik kekuasaan. Rakyat Indonesia adalah mulia. Lha, bukannya memberbaiki diri agar cuaca demokrasi ini benar-benar memuliakan rakyat, malah bikin gaduh kedamaian rakyat! Situ politisi atau polusi? #Eh.

Tuliskan Komentarmu !