Yang Langka Yang Jadi Rebutan

tabung gas langka
Ilustrator: Rizki Agustian

SAVANA- Oktober baru saja mendarat. Satu, dua, langkahnya mulai menjejak. Orang-orang berkerumun di satu rumah. Tangan kanan kiri menjinjing tabung gas kosong berwarna hijau. Mereka menunggu dengan ketekunan.  Setelah beberapa lama kemudian, tabung gas berjejer rapi membentuk barisan seperti TNI apel pagi. Ada yang diikat tali plastik sebagai penanda. Pemilik tabung gas sesekali riuh menanyakan keberadaan mobil pengangkut LPG.

Satu dua orang mulai gelisah ketika mobil pengangkut LPG tidak kunjung tiba. Anak yang mereka tinggalkan sudah merengek kelaparan. Tapi apa daya, untuk sekedar memasak telur goreng saja gas tidak punya. Bagaimana hendak memasak? Ingin memasak nasi, listrik pemadaman bergilir. Lengkap sudah. Lapar akan menimbulkan emosi yang tidak stabil.

Terik mentari mulai meninggi. Keringat mulai mengalir dari pelipis wajah mereka. Semakin banyak orang-orang berdatangan. Antrian tabung gas hijau melon semakin mengular. Dari mulut gang, mobil gas terlihat hendak memasuki lokasi di mana orang sudah berkerumun. Seketika orang yang sedikit emosi karena menunggu berubah beringas. Memburu ke arah mobil. Sementara muatan gas belum dibongkar.

Barisan tabung gas yang rapi berubah menjadi berantakan. Tidak mengikuti aturan. Semua hendak dilayani duluan. Semua mengajukan tabung masing-masing. Satu orang mendapat jatah satu tabung.  Padahal beberapa di antaranya sudah ada yang membawa dua atau tiga tabung.

Harga di pangkalan sesuai harga pasar. Tetapi di beberapa warung ada yang menjual melebihi harga pangkalan. Beda harga bisa 60% dari harga jual kebanyakannya. Tapi, masih banyak juga yang membelinya. Mereka tidak memasalahka soal harga, ketika langka dan barang yang dicari ada. Paling jatah belanja sedikit dikurangi.  Jika ingin memasak ayam, maka diganti telur ayam saja. Yang penting berasal dari ayam juga. Perut tetap terisi, anak-anak tetap tenang dengan keadaan kenyang. Meskipun  sedikit ngedumel di belakang.

Teringat ketika beberapa tahun silam. Peristiwa sama ketika minyak tanah langka. Orang-orang berebut membeli minyak tanah di pangkalan. Rela menunggu beberapa jam lamanya. Pemandangan orang-orang membawa dregen sudah biasa. Anak-anak menangis karena ibu mereka tidak memasak akibat kehabisan minyak tanah. Tangisan itu menjadi instrumen yang selalu didengar.

Tidak jarang pula akibat jatah minyak tanah yang tidak merata, membuat pertengkaran sesama tetangga. Ada juga yang beralih ke kayu bakar untuk memasak.  Tetapi,  lama kelamaan juga mereka tidak kuat untuk membeli kayu yang harganya ikutan memuncak. Hingga akhirnya perlahan minyak tanah hilang dari predaran. Kini berganti gas subsidi yang mulai hilang.

***

Di warung kopi, bapak-bapak dengan rokok yang tersulut di bibirnya. Di hadapannya tersaji segelas kopi dan sepiring gorengan. Di bangku yang lain, terlihat ada yang membaca surat kabar dua hari lalu, beritanya masih cukup up to date untuk jadi bahan obrolan. Dari pojok tempat duduk Ucok yang dari jam 7 lagi sudah di sana, mulai membuka suara.

“Rasanya kita rakyat kecil ingin di bunuh perlahan saja oleh pemerintah,” ucap Ucok kepada Sangkot yang duduk berhampiran.

“Kenapa begitu, Lae?” Sangkot belum paham apa yang dibicarakan Ucok.

“Ngga kau dengar anak-anak menangis kelaparan, tetapi ibunya masih mengantri untuk mendapatkan satu tabung gas?” dengan logat batak yang kental Ucok menahan emosinya.

Sangkot berpikir. Akhirnya ia membenarkan apa yang diucapkan ucok barusan tadi.

“Gas hijau mulai langka, pemerintah perlahan ingin menghilangkannya. Subsidi gas akan dicabut. Sudah disiapkan tabung gas merah jambu non subsidi. Merah jambu bukan membuat hati rakyat jatuh cinta. Malah semakin murka,” Sangkot meleter panjang lebar. Ucok tersenyum kecut mendengar ucapan Sangkot.

“Pandai pula kau hari ini. Pagi tadi kau dikasih sarapan apa sama istrimu jadi cerdas begini,” tutur Ucok sambil guyonan.

“Sarapan tabung gas kosong, Bang, Karena ke pangkalan selalu kehabisan. Mau beli di warung harganya melambunh tinggi, bagai balon gas yang sengaja diterbangkan,” Sangkot sedikit emosi.

“Bentar lagi kita pun akan hilang seperti minyak tanah.Tapi kita hilang karena mati kelaparan.”

Seketika orang yang ada di warung kopi Kak Lasma pun tertawa mendengar obrolan Sangkot dan Ucok.  Mereka sama-sama menertawai hidup yang sememangnya lucu dan seringkali menyulut emosi. Menertawai nasib kemiskinan mereka yang mengandalkan subsidi dan berharap kepada janji-janji penguasa yang kerap ingkar.

Mengemis suara rakyat jelata ketika hendak memburu kekuasaan. Dengan alih-alih memberi sedikit bantuan namun lebih banyak kerugian.  Orang-orang di atas, yang duduk di kursi kekuasaan hanya melihat dengan gelak tawa. Sambil berkata, “kalian saja yang tidak mau kerja.”

Baca Juga: Kota Para Bianatang

Tuliskan Komentarmu !