Yang Gelisah, Yang Mengubah

rosihan fahmi
Ilustrasi: Rizki Agustian

“ Aku Gelisah, Maka Aku Mengubah” -rf-

Gelisah untuk Ada

“Aku gelisah, maka aku mengubah”. Jargon tersebut merupakan plesetan atau pemaknaan ulang terhadap jargon modern: Cogito ergo sum; sebuah ungkapan yang diutarakan oleh Rene Descartes, sang filsuf ternama dari Perancis yang berarti: aku berpikir maka aku ada.

Kalimat ini membuktikan bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan seseorang sendiri. Akan tetapi dalam situasi hari ini, merasa dan skadar meyakinkan diri “ada” saja tidaklah cukup. Mengapa? Terlalu egois pabila hanya ada dalam individu pribadi saja tanpa pernah mau dan bersedia melibatkan dalam “ada bersama”. Akan tetapi, seringkali kita menemukan kesulitan ketika hendak merumuskan eksistensi “ada bersama”.

Kecenderungan manusia modern kini, ketika hendak meneguhkan eksistensi “ada bersama”, seringkali terjebak pada aspek simbol-simbol meterial berdasarkan “kesamaan”. Misal, pabila memiliki motor atau mobil merek “A”, maka mereka berkumpul sesuai merek motor atau mobil tersebut. Atau pabila memiliki kesamaan hobi, maka berkumpullah mereka, dan hal tersebut menjadi bagaian dari cara mereka eksis atau cara mereka mengada, ditandai dengan sejumlah atribut-atribut kelompok dan sejumlah simbol-simbol kelompoknya. Tidak berhenti di sana memang, seringkali kelompok-kelompok seperti itu pun melakukan manuver-manuver kegiatan yang berbasis sosial sebagai bentuk pengejawantahan rasa kepedulian mereka.

Pada dasarnya, situasi gelisah pada pribadi juga komunal, akan selalu terus mengada, selama gairah manusia untuk mengada terus tumbuh. Akan tetapi hendak dibawa ke arah mana situasi gelisah dalam mengada kita? Barangkali ini yang kemudian bisa dijadikan batu pijakan untuk memulai perubahan.

Arah Gelisah

Situasi gelisah. Suatu situasi yang bikin gak nyaman, gak tentram, bikin gak asyik, bikin gak enjoy, bikin gak tenang, bahkan cenderung khawatir. Banyak faktor tentunya, yang mampu menyebabkan kita ada pada situasi ini. Secara hakiki barangkali ada beberapa hal yang bisa bikin kita merasa gelisah.

Pertama, ketika diri merasa pudar keyakinan pada Illahi Rabbi. Segera perbaiki, karena ini merupakan pondasi dasar dari seorang muslim sejati. Kedua, gak siap menerima “kejutan hidup”. Perbaiki dengan memperluas cakrawala pengetahuan dan iman. Hanya dengan cara itu, kita akan selalu siap dengan segala “kejutan: konsekuensi logis dan anlogis” dalam kehidupan yang terjadi dalam diri.

Ketiga,  bersikap ikhlas dan sabar. Segera luruskan niat dan tujukan pada Illahi Rabbi, input dan out put dalam setiap tindakan diri, karena dengan jalan tersebut, kelapangan dada kan menjelma dalam bahagia. Keempat, gak perlu berkeluh kesah. Ketika ada pada situasi seperti ini, jadikan moment tersebut sebagai ajang evaluasi: “haasibu anfusakum qobla an tuhaa sabu”. Menghisab diri merupakan tindakan prepentif terhadap segala bentuk kekecewaan dan frustasi diri, sehingga mampu mengarahkan diri pada kedewasaan dan berpikir dan bertindak dalam bahagia. Suatu tantangan tidak akan pernah berakhir pabila kita tak mampu melampauinya. Begitu pun ketika kita mampu melampauinya, maka kita akan langsung dihadapkan pada tantangan hidup dengan level yang lebih sulit lagi. So, yang perlu kita lakukan: terus bergerak tanpa arak!

Kelima, prasangka negatif. Jangan pernah dibiarkan prasangka negatif mendominasi diri. Simpan itu sebagai bentuk kehati-hatian dalam sikap berani untuk melakukan tindakan yang mampu memberi arti, baik untuk diri, Ibu Pertiwi hingga Illlahi Rabbi. Keenam,bersyukur biar gak kufur. Biar mudah untuk bersyukur perluas pergaulan, dan wawasan hidup. Jangan kuuleun! Gak baik buat kesehatan jasmani dan ruhani. Bergerak, bergerak, bergerak, dan menebar ke seantero jagat raya biar lo kaya!

Ketujuh, play the games obey the rules! Fahami dan batinkan setiap aturan yang termaktub dalam Quran dan sunnah, biar ngeunah! Kesulitan bergerak rerata hanya karena tidak faham aturan main, hingga akhirnya menemukan kesulitan dalam bermain. Dan terakhir kedelapan, break on through to the other side! Dalam level ini, energi kreatif yang berdasar nilai-niali Illahi Rabbi menjadi kata kunci dalam mengarahkan gelisah untuk mengubah. So, bersyukurlah pabila ada dalam gelisah. Tak perlu resah, cukup arahkan pada Lillah, biar gak meleleh!

Penting banget menjadikan delapan point tersebut dijadikan sebagai ramuan jitu untuk mengubah gelisah untuk mengubah diri, famili, hingga Ibu Pertiwi. Tapi bagaimana memulainya?

Gelisah untuk Mengubah

Ada anggapan bahwa penting untuk keluar dari zona nyaman itu perlu dilakukan. Situasi zona nyaman, sejatinya terjadi ketika kita mampu melampaui situasi batas: tantangan dan halang rintang sebelumnya, yang berimbas pada kita mendapatkan “bonus: zona nyaman”. Zona nyaman bukanlah tujuan, namun penting difahami sebagai bonus dari buah tindakan yang kita lakukan. Tentunya banyak cara dan jalan bagi seseorang ataupun kelompok hingga ada pada zona nyaman. Entah berdasar dari tindakan kemampuan mengelola profesi diri, organisasi, perusahaan, komunitas, hingga urusan bangsa dan negara.

Zona nyaman itu mirip-mirip jebakan betmen: satu sisi penting dihindari, namun sisi lain adalah hal yang diharapkan untuk merasa nyaman. Karena itu, zona nyaman bisa menyebabkan terlena, tanpa tekanan, hanya untuk bersenang-senang. Al hasil, just play the games and forget the rules!

Jika berani menggunakan perspektif lain, tak perlu juga kita keluar dari zona nyaman. Yang diperlukan justru memperluas zona nyaman tadi, yang asalnya hanya bisa dinikmati seseorang atau sekelompok sahaja, kawasan zona nyamannya diperluas hingga seluruh warga bisa saling menikmati dan merasakan apa yang kita rasakan nyamannya ada di zona nyaman. So, gimana caranya biar kita mampu memperluas zona nyaman kita? Itulah barangkali yang penting kita lakukan dengan cara berbagi untuk kebaikan negeri atas nama Illahi Rabbi.

Pertama, bermula dari gelisah diri. Misal, merasa gelisah karena situasi masjid di mana kita tinggal, wc dan tempat wudlunya kotor dan bau. Tak perlu banyak berpikir, bersihkan dan wangikan sekemampuan kita. Situsi gelisah tak akan mampu terobati hanya dengan berpikir, ia butuh pengeluaran konkrit: tindakan yang dianggap menyelasaikan masalah. Lakukan terus menerus membersihkan wc dan tempat wudlu masjidmu, hingga orang lain iri ingin berbuat hal yang sama yang kamu lakukan. Ketika itu terjadi, tindakan diri bukan lagi bikin iri, namun bisa berbuah inspirasi.

Kedua, masalahku adalah masalah kita bersama. Pada dasarnya manusia pada setiap era dan zaman, selalu ada pada titik malasah yang sama. Hanya level dan bunga situasi yang selalu memburamkan titik pangkal masalah yang sesungguhnya. Dengan cara berbagi cerita, berbagi pengalaman, akan mampu merangkum, sejatinya masalah yang tengah kita hadapi adalah juga merupakan masalah mereka jua. Pertemukan sejumlah diri pada titik pangkal masalah yang sama, hal ini akan mampu menjadi trigger atau pemicu dalam tindak gerak bersama berdasar akar masalah yang sama. Lakukan mind map masalah bersama untuk kepentigan bersama.

Ketiga, konstruksi, evaluasi dan maknai. Membentuk dengan segala asupan amunisi pengetahuan dan pengalaman menjadi bahan utama dalam merancang tindakan perubahan. Jangan berbangga diri pada setiap tahapan yang pernah dilalui, segera eveluasi dan lapangkan kepentingan tindakan diri, organisasi untuk Illahi Rabbi, sehingga segenap alam turut menikmati perubahan ini.

Dan terakhir, jangan pernah lelah untuk terus menerus memaknai ulang pada setiap tindakan. Memaknai tindakan bermakna memberikan arti pada setiap laku perbuatan. Tindakan yang mampu memberikan makna “value” pada diri yang asasi kan mempermudah terintegrasi, terhubung dengan diri-diri lainnya, hingga mampu menjadi inspirasi perubahan untuk Ibu Pertiwi atas nama Illahi Rabbi adalah harga mati!

Dengan demikian, hadirnya diri bukan hanya untuk kepentingan pribadi. Munculnya gelisah diri gak hanya sekadar mencipta iri dengki. Dalam berbagi, dan saling memberi arti untuk kemaslahatan ummat adalah kata kunci dalam berbakti kepada Illahi Rabbi.

Wallahu a’alam

 

Tuliskan Komentarmu !