Warisan Perjuangan Ulama Salaf

warisan ulama salaf
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Islam memberikan perhatian lebih terhadap Ilmu. Kedudukan ilmu menjadi hal yang sangat sentral di dalam tubuh Islam, mengingat wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabiyullah, Muhammad s.a.w adalah lima ayat pertama surat al-Alaq yang diawali dengan perintah membaca serta diakhiri dengan pengajaran.

Manusia dituntut untuk belajar dan mengajar, dan seluruhnya bersumberkan dari Allah sebagai dzat yang Mencipta dan Mengajar. Dari Allah asal mula kejadian dan dari Allah datangnya segala pengajaran dan segala ilmu pengetahuan. Begitu yang disampaikan Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fii Dzilalil Qur’an.

Muhammad s.a.w sebagai utusan Allah, telah berhasil menciptakan masyarakat yang tinggi tradisi ilmunya. Pada saat itu masyarakat yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad s.a.w dikenal dengan istilah masyarakat madani, kesuksesan Rasulullah s.a.w dalam mewujudkan masyarakat yang gemilang ini diakui oleh dunia, termasuk bangsa Barat.

Tradisi ilmu dalam Islam ini telah melahirkan generasi-generasi yang tidak hanya matang dari segi keimanan, tapi matang pula dari segi keilmuan. Berbicara tentang keilmuan, Islam tidak bisa terlepas dari adab dan kebiasaan yang mereka pelihara.

Tradisi masyarakat Arab jahiliyyah sebelumnya didominasi oleh tradisi lisan yang kuat, setelah datang Islam, kegiatan baca dan tulis-menulis menjadi hidup. Terbukti dari banyaknya sahabat yang menjadi sekretaris pribadi Rasulullah s.a.w yang bertugas menulis al-Qur’an, harta sedekah, hutang dan sebagainya.

Dalam hal ini Saad bin Jubair berkata, “Dalam kuliah-kuliah Ibnu Abbas, aku biasa mencatat di lembaran. Bila telah penuh, aku menuliskannya di sepatuku lalu di tanganku. Ayahku sering berkata: hafalkanlah, tetapi terutama sekali tuliskanlah. Dan jika kamu memerlukan atau kau tak ingat lagi, bukumu akan membantumu.

Hal ini menandakan ketelitian serta kearifan mereka dalam menyikapi ilmu yang mereka dapatkan. Di samping kegiatan mencatat, para ulama salaf telah dikenal dengan tradisi menghapalnya. Imam Syafi’i misalnya. Beliau telah hapal al-Qur’an pada usia tujuh tahun dan hapal kitab al-Muwaththa karya Imam Malik pada usia 10 tahun. Ini menunjukkan bahwa tidak ada waktu yang mereka lewatkan selain dihabiskan untuk mempelajari ilmu dan menghapalnya.

Prof. Wahbah az-Zuhaili, penulis kitab Al-Fiqh Al-Islam Wa Adillatuhu dan tafsir al-Munir ketika ditanya jam produktif kesehariannya, beliau menjawab: “tidak kurang dari 16 jam sehari.”

Imam an-Nawawi, penulis kitab Riyadush Shalihin, Al-Majmu dan Syarh Shahih Muslim setiap hari belajar 8 cabang ilmu dari subuh sampai larut malam. Al-Mizzi, Ibn Katsir, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Ibn Hajar, Al-Suyuthi, Al-Sakhawi dan ulama besar lainnya, menyisihkan lebih dari 15 jam per hari untuk membaca dan menulis.

Selain itu, peradaban Islam pun telah mencatat bagaimana pengorbanan-pengorbanan yang telah diupayakan oleh para ulama salaf untuk mendapatkan satu buah hadis. Disebutkan bahwa Jabir bin Abdullah menempuh perjalanan sebulan penuh dari Madinah ke Arisy hanya untuk mencari satu hadis, beliau sengaja membeli unta agar dapat melakukan perjalanan yang sangat jauh tersebut.

Imam Ahmad pernah menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk mencari satu hadis, bertani untuk mencari rezeki dan masih membawa-bawa tempat tinta pada usia 70 tahun. Bahkan ada di antara mereka yang mengunjungi beberapa negeri dan keluar masuk kota hanya untuk mencari sebuah hadis.

Rihlah ke luar wilayah untuk mencari sebuah hadis dalam waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan ini merupakan tradisi ilmiah yang biasa dilakukan oleh para ahli hadis. Ketekunan para ahli hadis dalam mencari dan melacak berita dari sumber aslinya, menuntut keseriusan dan pengorbanan yang sangat luar biasa.

Kesungguhan mereka ini besar kemungkinan didasari atas kecintaan mereka terhadap Rasulullah s.a.w dan agama Allah s.w.t di samping untuk menjaga keotentikan hadis dan merawat khazanah keilmuan agar keasliannya sampai kepada generasi Islam selanjutnya.

Pendidikan al-Qur’an telah berhasil melahirkan generasi-generasi yang sangat produktif juga memiliki keimanan serta akhlak yang sangat luar biasa. Dari sini kita bisa mengamati bahwa tidak ada satu peradaban yang bangkit tanpa didahului oleh bangkitnya tradisi ilmu.

Peradaban Islam tak hanya menorehkan sumbangsih ilmu yang luarbiasa untuk generasi muslim saat ini, namun juga menjadi kiblat ilmu bagi dunia Barat. Kedisiplinan dan keuletan yang dibawakan oleh generasi Islam masa awal tidak pernah ditemukan di peradaban bangsa mana pun, dan tradisi keilmuan tersebutlah yang mesti dibangun kembali oleh generasi Islam hari ini.

Tentu saja perjuangan yang mereka toreh tak cukup dibalas dengan rasa syukur lalu kita nikmati begitu saja. Namun, sebagai pewaris keilmuan para ulama terdahulu, sepatutnya kita pun meneruskan kembali perjuangan para ulama salaf serta merawat tradisi keilmuan mereka. minimal dengan membangun kebiasaan membaca, menelaah serta menulis. Allahu a’lam.

Tuliskan Komentarmu !