Wahai Kaum Perempuan, Merdekalah Sejak dalam Pikiran!

Sumber gambar: riurealita.com

SAVANA- Dalam beberapa sumber sejarah, disebutkan bahwa sekitar abad ke 19 keadaan perempuan bangsa Indonesia masih sangat terbelakang. Perempuan kala itu masih terkurung dengan kokohnya adat nenek moyang yang mengaggap, bahwa perempuan di Indonesia hanya mempunyai kewajiban tanpa hak apapun. Perempuan tidak mempunyai kebebasan untuk menuntut ilmu, bekerja di luar rumah dan lebih-lebih menduduki jabatan di dalam masyarakat.

Hal tersebut tampak dalam ucapan ayah Kartini dalam buku Tashadi (1981: 37) yang berjudul RA Kartini yang mengatakan: Annaku, keinginan itu memang baik dan mulia. Memang benarlah bahwa anak perempuan itu juga perlu menambah pengetahuan. Tetapi kembalilah, bahwa adat bangsa kita belum mengizinkan hal seperti itu, janganlah lantas berkecil hati, tetapi terimalah adat nenek moyang kita ini dengan tulus hati.

Adanya anggapan bahwa laki-laki pada hierarki teratas, sedangkan perempuan menjadi kelas nomor dua, perempuan menjadi manusia yang sangat lemah akalnya dan segala stigma negatif yang melekat pada perempuan, merupakan konstruksi sosial yang diakibatkan dari tidak adanya kesempatan perempuan untuk terjun ke ruang-ruang publik.

Kecerdasan pikiran penduduk Bumi Putera tidak akan maju dengan pesatnya,  apabila kaum perempuan itu ketinggalan dalam usaha tersebut,  perempuan jadi pembawa peradaban. Kartini dalam Tashadi (1981: 128).

Namun apabila melihat Indonesia hari ini, apakah konstruk sosial dan stereotip negatif terhadap perempuan masih begitu ‘menyeramkan’? Apakah akses pendidikan terhadap perempuan masih begitu kurang? Atau, apakah perempuan masih tidak mempunyai akses penuh untuk mengambil peran aktif dalam ruang-ruang publik dan menduduki jabatan dalam masyarakat?

Berbicara perempuan Indonesia hari ini, saya melihat bahwa masih terjajah oleh alam pikirannya, karena salah satu musuh utamanya adalah pola pikir atau cara pandang perempuan terhadap dirinya sendiri yang masih belum merdeka, sehingga menjadi bumerang untuk melangkahkan kaki menjadi manusia utuh, mendapatkan kebebasan, otonomi dan mendapatkan persamaan  hak seperti halnya laki-laki.

Paradigma  yang masih tertanam kuat dalam cara berpikir perempuan tersebut, tercipta melalui proses sosialisasi nilai-nilai yang berlangsung lama, sehingga mengendap menjadi cara berpikir dan pola perilaku yang menetap, atau Pierre Bourdieu menyebutnya dengan istilah Habitus.

Menurut Bourdieu, habitus merupakan nilai-nilai sosial yang dihayati oleh manusia, tercipta melalui proses sosialisasi nilai-nilai yang berlangsung lama, sehingga mengendap menjadi cara berpikir dan pola perilaku yang menetap di dalam diri manusia tersebut. Habitus tumbuh dalam masyarakat secara alami melalui proses sosial yang sangat panjang, terinternalisasi dan terakulturasi dalam diri masyarakat menjadi kebiasaan yang terstruktur secara sendirinya.

Dengan begitu, posisi perempuan yang selalu menjadi subordinat laki-laki dalam masyarakat, ini terbentuk secara alami dan terinternalisasi dalam waktu yang lama. Sehingga sudah menjadi asumsi umum, bahwa perempuan berada di bawah laki-laki dan menjadi kebiasaan dalam kultur masyarakat Indonesia, tabu bagi perempuan untuk melakukan tugas laki-laki, termasuk  terjun dalam ruang-ruang publik.

Namun menurut Bourdieu sendiri, Habitus itu bukanlah sesuatu yang permanen dan tidak bisa diubah atau dihilangkan, karena Habitus bukanlah hasil dari kehendak bebas atau ditentukan oleh struktur. Melainkan  lahir dalam kondisi sosial tertentu dan bisa dialihkan ke kondisi sosial yang lain karena bersifat transposable. Sehingga seiring dengan pergeseran kondisi sosial di mana hak-hak individu semakin diakui, adanya pembedaan gender dipandang sebagai sebuah ketidakadilan, perempuan bisa mengubah paradigma dan stigma negatif untuk kemudian mulai bergerak.

Ditambah setelah adanya perjuangan kebangkitan perempuan, salah satunya adalah Kartini yang hadir sekitar abad 19, membawa perubahan yang cukup berarti untuk perempuan Indonesia. Adanya perjuangan Kartini untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan, bisa dirasakan hari ini dengan adanya hak yang sama terutama dalam memperoleh pendidikan.

Juga dengan adanya hukum yang menjamin hak-hak perempuan membuat ‘bebas’ bergerak diranah domestik maupun publik, kemudian secara perlahan menjadi proses penghapusan atau penyingkiran segala bentuk ketidakadilan, penindasan, dominasi dan diskriminasi dalam sistem yang berlaku di masyarakat yang kaku dan kolot.

Semisal dengan adanya undang-undang tentang keterwakilan perempuan dalam ranah politik (UU No. 2 Tahun 2008), Hak Asasi Manusia (UU No. 3 Tahun 1999), Pemilu  (UU No. 8 Tahun 2012), Pendidikan Nasional (UU No. 20 Tahun 2003), Perlindungan Anak, Konvensi segala bentuk Diskrimasi terhadap perempuan (UU No. 23 Tahun 2002) dan lain sebagainya, merupakan salah satu gerbang untuk mendapatkan perlakuan yang sama, dalam menjalankan peran dan fungsi sosial perempuan.

Dan setidaknya dengan adanya perjuangan Kartini kala itu, menjadi gerbang awal dalam upaya pergeseran episteme sosial atau sebuah kesadaran dan mekanisme sosial yang diakui dan menjadi kebenaran dalam masyarakat yang dipengaruhi oleh nalar merdeka Kartini, yang kemudian ikut berperan dalam menentukan kebenaran-kebenaran masyarakat tentang peran dan fungsi perempuan.

Kemudian coba kita sama-sama melihat fenomena yang sedang terjadi hari ini, semisal di ranah akademisi (sekolah dan perguruan tinggi). Dengan adanya perempuan yang menjabat sebagai Komisariat Mahasiswa (Kosma), ketua OSIS atau Himpunan Mahasiswa Jurusan, Dewan Mahasiswa, Senat Mahasiswa, Dosen, Rektor atau kegiatan dan jabatan yang biasanya hanya bisa dilakukan kaum laki-laki, merupakan salah satu poin bahwa perempuan hari ini bisa mendapatkan akses yang sama seperti halnya laki-laki di ranah publik.

Maka dari itu, perempuan hari ini bukan lagi berbicara tentang bagaimana pandangan masyarakat, akan tetapi mau atau tidaknya memanfaatkan kondisi yang sudah tidak begitu memarjinalkannya, mau atau tidaknya memerdekakan pikirannya dari belenggu nilai-nilai yang diyakini nenek moyang terdahulu, sehingga bisa mengoptimalkan peran dan fungsinya di ranah domestik ataupun publik, dan mau atau tidaknya menggeser epistem sosial nenek moyang terdahulu, menuju episteme sosial yang bebas gender dengan mengubah dan memerdekakan cara berpikir tentang dirinya, yang dimulai dari diri sendiri.

Perempuan hari ini tentu harus menyadari bahwa dirinya adalah perempuan. Bahwa dirinya adalah manusia yang bisa mengakses pendidikan setinggi-tingginya, memberikan pengaruh seluas-luasnya,  memiliki peran yang vital dalam sebuah peradaban, kesempatan mengakses pendidikan dan dunia kerja selebar-lebarnya, hanya apabila mau menjadi perempuan yang mendobrak habitus lama ke habitus yang lebih aktual dengan tidak pernah merasa takut hanya karena episteme sosial yang berkembang di masyarakat terdahulu.

Jadi apabila perempuan hari ini, masih menganggap atau mempunyai cara berpikir bahwa dirinya tidak mampu ‘beraktivitas’ dan tidak mempunyai dukungan penuh dari kaumnya (perempuan) adalah perempuan yang masih dijajah oleh alam pikirannya dan secara tidak langsung mengkhianati pahlawan perjuangan kaum perempuan.

Pahlawan pejuang kaum perempuan bersusah payah agar perempuan Indonesia mendapatkan akses yang sama dengan laki-laki di rung publik. Lantas apakah sekarang, kita hendak secara perlahan melenyapkan diri kita sendiri akibat pikiran-pikiran kita yang enggan terbuka?

Tuliskan Komentarmu !