Usia Remaja: Antara Mitos dan Ketakutan

(ilustrasi/google)

SAVANA- Di tengah masyarakat saat ini, sering kita dengar sebuah kalimat apologi, semisal: “namanya juga anak muda”, atau kalimat “mumpung masih muda”. Usia remaja sering dijadikan kambinghitam atas segala kenakalan anak muda. Kaum muda-mudi masa kini dengan segala ulahnya yang merisaukan selalu bersembunyi di balik slogan ‘pencarian jati diri’.

Masyarakat dipaksa untuk menerima ‘kenakalan’ mereka sebagai suatu yang lumrah terjadi. Memang, definisi para ahli pendidikan dan psikologi menyuguhkan data bahwa usia remaja selalu identik dengan kekacauan, keguncangan dan kenakalan. Di mana yang menjadi pembahasannya tidak lebih dari perubahan biologis serta sikap negatif dengan berbagai permasalahannya. Oleh karena itu, banyak ahli menamakan periode ini sebagai masa-masa storm and stress.

Usia remaja adalah bagian tengah penyambung mata rantai antara anak-anak dengan masa tua. Ia merupakan satu runtutan waktu serta jenjang peralihan dalam perkembangan usia. Untuk mewakili makna remaja ini, Bahasa Arab memiliki satu istilah khusus yaitu, murahaqah (the teenagers).

Murahaqah dalam kamus Bahasa Arab bermakna: kedunguan dan kebodohan, kejahatan dan kedzaliman serta gemar melakukan kesalahan. Oleh sebab itu, ‘remaja’ menjadi satu kata yang begitu ‘horor’ terdengar bagi para orangtua maupun para pendidik. Hal ini diperburuk dengan data yang disuguhkan di hadapan orangtua terkait berita-berita kenakalan remaja zaman sekarang.

Sayangnya, suguhan fakta tersebut malah menjadi intro menakut-nakuti atau malah menjadi nyanyian apologi di balik kalimat pemakluman: “maklum, memang usianya”. Begitulah sebagian orang menafsirkan usia remaja sebagai usia rawan dan penuh permasalahan.

Dalam ilmu psikologi disebutkan, ketika seorang anak memasuki usia remaja, sebagian besar dari mereka akan mengalami gejala perubahan emosional, seperti kebingungan, sedih, perubahan mood yang intens, sensitif, mudah marah dan kehilangan kontrol emosi. Gejala-gejala emosi tersebut sangat normal dialami oleh kaum muda-mudi, walau terkadang diwujudkan pada suatu tindakan yang menyimpang.

Data-data yang sampai ke tengah kita terkait permasalahan remaja yang kita baca lewat ilmu psikolog, sejauh ini dicatut dari konsep psikologi Barat. Itulah mengapa pembahasan yang kita dengarkan tidak lebih dari pembahasan biologis yang berpengaruh pada perubahan emosional. Tentu saja, objek yang dijadikan penelitian oleh psikologi konsep Barat adalah anak-anak remaja di Barat, yang diilmiahkan kemudian diadopsi ke tengah-tengah masyarakat kita.

Kegalauan para orangtua terhadap anaknya yang mulai tumbuh menjadi pemuda atau pemudi, diakibatkan salahnya para pendidik dalam mengkonsumsi data. Data yang dijadikan acuan adalah data-data remaja di Barat yang semenjak kecil jauh dari landasan agama. Sedangkan masyarakat tidak menggali serta membandingkan dengan data para pamuda di tanah hijaz.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Khalid Ahmad Asy-Syantut kepada 50 keluarga muslim di Mekah dan Madinah dengan memberikan kuisioner tentang bagaimana mereka menghadapi anak ketika menginjak usia remaja, ternyata mereka bukanlah remaja dengan kegalauan, kebimbangan, keguncangan dan kenakalan. Sebagian besar keluarga menyatakan bahwa tidak ada masalah dengan anak-anak mereka setelah melalui usia baligh, justru kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa anak-anak mereka melaksanakan ibadah dengan sungguh-sungguh ketika menginjak usia baligh (usia remaja).

Budi Ashari, Lc dalam bukunya (Remaja, Antara Hijaz dan Amerika), mengatakan bahwa sebagian besar dari 10 sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling awal masuk Islam sekaligus dijamin masuk surga adalah para remaja. Usia tertua adalah 37 tahun (Abu Bakar), 34 tahun (Utsman bin Affan), 30 tahun (Abdurrahman bin Auf), 27 tahun (Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarrah), dan lima orang berusia belia, di antaranya: Zubair bin Awwam 16 tahun, Said bin Zaid 15 tahun, Thalhah bin Ubaidillah 14 tahun,  Ali bin Abi thalib 10 tahun dan Saad bin Abi Waqqash 7 tahun.

Data-data tersebut memberikan suatu kesadaran bahwa keguncangan dan kenakalan di usia remaja bukan merupakan suatu keniscayaan yang harus dilalui oleh kebanyakan anak-anak yang akan menginjak usia dewasa. Asy-Syantut dalam bukunya yang berjudul Tarbiyah Asy-Syabab al Muslim lil Aba’ Wad Du’at, dengan tegas menyampaikan, istilah yang dipakai Nabi Muhammad SAW adalah syabab (pemuda) bukan murahaqah (remaja). Kata syabab mempunyai makna: kekuatan, baru, indah, tumbuh, awal segala sesuatu. Satu istilah yang digunakan Nabi Muhammad SAW untuk membahasakan usia remaja dengan bahasa yang positif dan penuh rasa optimis.

Di samping itu, Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, menjelaskan kata fityah (pemuda) yang digunakan dalam kisah Ashabul Kahfi: “Allah ta’ala menyebutkan bahwa mereka adalah pemuda. Karena mereka lebih mudah menerima kebenaran, lebih mudah mendapatkan petunjuk jalan (yang lurus) dibandingkan orangtua yang durhaka dan tenggelam dalam agama kebathilan. Untuk itulah kebanyakan yang menyambut seruan Allah dan Rasul SAW adalah pemuda. Adapun orang-orang tua dari Quraisy, kebanyakan mereka tetap bertahan dalam agama mereka dan tidak masuk Islam kecuali sedikit saja. Begitulah Allah ta’ala mengabarkan tentang Ashabul Kahfi bahwa mereka adalah pemuda”.

Fata (pemuda belia) berkaitan erat dengan tauhid, keberanian, perlawanan terhadap kebatilan, logika, dialog, kekuatan argumen, dakwah dan tawakkal sebagaimana keberanian Ibrahim muda menghancurkan seluruh media ritual kemusyrikan. Fata erat dengan tauhid, keteguhan, keputusan dahsyat, kokoh, kekuatan menghindar dari lingkungan dan sistim rusak sebagaimana pemuda Ashabul Kahfi menyelamatkan akidahnya dari penguasa dzalim.

Fata erat dengan keteguhan berkata tidak untuk kemaksiatan sebagaimana Yusuf muda menolak godaan Julaikha. Fata erat dengan kecerdasan, teliti, hati-hati dan kemampuan berkomunikasi sebagaimana saudari Musa berhasil menyusup ke istana Fir’aun untuk mempertemukan bayi Musa dan ibunya. Fata erat dengan keberanian, keyakinan, kekuatan sebagaimana Daud belia menumbangkan sang pemimpin dzalim.

Begitulah al-Qur’an menyampaikan kepada kita potensi luar biasa yang tertanam dalam diri seorang pemuda dan pemudi. Seperti yang disampaikan dalam QS Ar-Rum ayat 54, bahwa usia muda merupakan satu kekuatan di antara dua kelemahan, yaitu kelemahan pada usia anak-anak dan kelemahan di usia tua.

Adapun al-murahaqah atau remaja, menurut Dr. Abdurrahman al-‘Aisawi, pertumbuhan biologis di usia remaja tidak mesti menyebabkan krisis. Tetapi sistem masyarakat hari inilah yang bertanggung jawab terhadap krisis al-murahaqah. Usia remaja dalam sejarah Islam merupakan usia emas, di mana generasi muda muslim telah memiliki karya mulia di tengah masyarakat luas, bahkan sebelum memasuki usia tersebut.

Begitulah setiap generasi atau fase usia akan selalu memiliki dua potensi, potensi ke arah baik dan potensi ke arah yang buruk. Remaja dengan potensi luar biasanya tersebut akan menjadi tonggak peradaban jika potensi baiknya dididik dengan benar. Maka, bukan suatu hal yang mustahil untuk melahirkan kembali sebuah peradaban yang sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, selama umat serius me-refresh paradigma remaja menjadi pemuda, mengganti murahaqah menjadi syabab. Allahu a’lam.

 

Tuliskan Komentarmu !