Untuk Seorang Kawan

savana post
Ilustrator: Rizki Agustian

SAVANA- Apa kabarmu sekarang, kawan? Lama sekali kita tidak naik bikin tenda bereng lagi. Lama sekali kau tak memuatkan kopi untukku, atau aku membuatkan mie instan untukmu.

Bagaimana kehidupanmu sekarang, kawan? Masihkah kau bisa tertidur lelap walau beralas tikar, dan masih bisa merokok dengan santainya di pagi hari walau uang di dompetmu sudah tandas? Kuharap kau tak lupa cara tertawa walau kehidupan suka menggilas orang-orang lemah dan tak punya telenta apa-apa seperti kita.

Kawan, masihkah kau mau mendengar ceritaku? Mungkin dulu dengan entengnya kita pergi dan menggelar tenda, lalu bercerita sampai pulas. Sekarang kau sudah tidak bisa lagi hidup semaunya seperti itu.

Begini kawan, sekarang aku benar-benar sedang kesepian. Saya tak punya lagi teman seperti kalian, yang sabar mendengar segala omong kosong dariku, yang sabar dengan tingkah konyolku.

Memang sekarang saya masih suka mengelana. Pergi ke tempat-tempat yang baru, berkenalan dengan orang-orang yang baru. Tapi rasanya berbeda, tak seperti saat aku bersama kalian. Saya sepertinya memang belum siap dengan segala perubahan-perubahan dalam hidup.

Makin ke sini, rasanya makin memuakkan saja, kawan. Dari dulu memang saya seorang pemurung, tapi kalian berhasil membuat saya sedikit ceria, setidaknya saat bersama kalian. Dan sekarang aku harus hidup tanpa kalian. Ini benar-benar memuakkan.

Dulu, kita sering kelaparan bersama. Dulu kita sering merokok satu batang rame-rame. Itu memang satu fase yang paling menyusahkan. Kita bisa tiga hari nyaris tak makan nasi, dan kau sempat tersungkur tak sadarkan diri karena saking laparnya, dan saat itu masih bisa-bisanya kita tertawa bersama. Kehidupan memang tak memberi ruang untuk orang yang tak punya bakat apa-apa seperti kita.

Mungkin kau sekarang mempertanyakan, apa gunanya dulu membeli buku Sejarah Filsafatnya Hegel dan roman Arus Baliknya Pramoedya Ananta Toer yang tebal dan mahalnya minta ampun itu, toh buku-buku itu yang membuat jatah makan kita jadi makin terkuras, sekarang tak memberi pertolongan apa-apa.

Dulu mungkin dengan percaya dirinya kita memamerkan buku yang sudah kita beli, lalu baca dalam beberapa purnama. Seolah-olah dengan begitu masa depan kita sedikit terselamatkan. Nyatanya kita hanya bisa mengenang ketololan itu, dan sesekali mengulang kesusahan yang sama.

Ini murni kesalahan kita yang tak punya talenta apa-apa. Kita tak pandai menulis, kita gagap jika bicara di depan banyak orang. Kita hanya fasih bercerita dari satu tenda ke tenda lainnya. Untungnya, kita tidak jadi menjadi orang gila. Atau mungkin, sebenarnya kita sudah dianggap gila, hanya orang-orang di sekeliling kita tak berani mengungkapnya di dapan hidung kita.

Mungkin kau masih keheranan, kenapa dulu kita mau-maunya menghabiskan uang demi membeli buku, dan menghabiskan waktu untuk membacanya. Kenapa kita tidak menjadi orang waras saja, yang membeli dan membaca buku hanya untuk pemenuhan tugas kuliah saja, selebihnya waktu kita bisa habiskan untuk bekerja.

Ini murni kesalahan kita. Andai dulu kita belajar menulis dan bicara yang baik di muka umum, mungkin nasib kita tidak semengenaskan sekarang. Orang yang terus hidup dengan terus membeli dan membaca buku, karena mereka pandai menulis dan bicara di muka umum juga. Anak petani macam kita memang harusnya lebih banyak kerjanya, daripada ngibulnya.

Kawan, masihkah kau mau mendengar ocehan tak bermakna dariku? Dan apakah masih ada satu dua kata yang kau ingat dari buku-buku yang kau baca dulu? Dan apakah itu berguna di hadapan mertuamu sekarang?

Beruntungnya kamu, kawan, punya seorang istri yang mengerti keadaanmu. Tentu kau punya banyak masalah sekarang. Tentu saya juga, karena dengan saya belum menikah, itu juga sebuah masalah besar. Paling tidak, kau sudah menuntaskan beberapa masalah yang belum bisa aku tuntaskan.

Semoga kau masih mau mendengar ceritaku, kawan, tapi di lain waktu.

Minggu depan, kalau diijinkan Tuhan, aku ingin bikin tenda di tengah hutan. Semoga kau bisa ikut serta, kawan!

Tuliskan Komentarmu !