Untuk Apa Kuliah?

(Ilustrator dari agen-properti.co.id)

“Nak nanti lulus sekolah kamu kuliah ya! Kenapa mah harus kuliah? Biar nanti kamu kalo nyari kerja mudah nak, terus zaman sekarang kalo ga kuliah mau jadi apa? Ohh gitu mah? Terus mamah kan ga kuliah, Ko bisa kerja di perusahaan gede? Sering ke luar negri lagi.”

Mari kita bahas…

Indonesia merupakan negara yang lahir dari proses perselingkuhan antara para penjajah dan para penguasa pribumi. Apapun yang ada di negara yang katanya serba ada ini selalu menjadi argumentasi yang metafisik, dipuji dengan ketiadaannya dan dipuja dengan kehilangannya. Dan pendidikan selalu menjadi kedok atas hal itu, sepertihalnya para penjajah yang menyekolahkan para masyarakat jajahannya, padahal menuntut balas budi nantinya. Atau para penguasa yang memiliki uang yang menjadikan sekolah sebagai kedoknya.

Pendidikan merupakan cara manusia untuk mengetahui dari apa yang sebelumnya tidak tau, namun apakah hal itu yang harus pendidikan beri? Setiap tahunnya Indonesia melakukan regenerasi para peserta didik baik dari tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi, ribuan calon siswa dan mahasiswa mempersiapkan diri untuk bisa duduk dikursi sekolah atau perkuliahan favorit, untuk sekedar gengsi karena hari ini sekolah merupakan simbol status sosial. Mungkin itu sebabnya mengapa tingkat pendidikan Indonesia menempati posisi ke-62 dari 72 negara didunia, meskipun perlu diakui bahwa hal ini mengalami peningkatan yang awalnya berada di posisi 71.

Btw.. percaya atau tidak, dari beberapa tingkat Pendidikan (dasar hingga tinggi) di suatu negara, perguruan tinggi menjadi indikator utama maju atau tidaknya negara tersebut. Ada dua asumsi besar yang mendukung hal tersebut, diantaranya pembaca hanya belajar untuk masa depan dirinya sendiri atau masa depan dirinya hanya untuk belajar. Tidak usah berdebat dengan masalah ini.. karena sebenarnya jika sistemnya terus dikebiri oleh kepentingan sosial, ekonomi bahkan politik, maka pada akhirnya ini hanya menjadi siklusitas yang tak menemukan sumbu akhir.

Coba kita pahami terlebih dahulu tugas mahasiswa itu apa? Peran dan fungsinya itu apa? Baru kita bisa memahami semua keadaan itu. Menurut beberapa literatur, mahasiswa merupakan agen perubahan. Agen yang mengontrol seluruh dimensi sosial kemasyarakatan, dan agen yang siap ada digarda terdepan layaknya baja. Namun, sebenarnya terdapat kekeliruan dari pemaknaan itu, baik mahasiswanya ataupun kuliah sebagai proses pembelajaran. Satu persatu pemaknaan yang keliru ini terus mendoktrin seluruh golongan, dan menganggap segala hal yang dianggap keliru awalnya menjadi hal yang benar adanya.

Ketika mahasiswa dinobatkan sebagai kaum intelektual bukan berarti mereka hanya mencari nilai, dengan masuk kelas dan mendengarkan dosen kemudian pulang dan mengerjakan tugas. Alhasil ‘maha’ itu tereduksi dari nilai pendidikan yang dijalani, ‘maha’ itu harus memiliki semangat mencari ilmu yang tinggi, dengan budaya literasi yang dibangunnya. Bukan malah dengan modal mendengarkan dosen dan main game online setelahnya atau nongkrong di warung kopi membicarakan seputar asmara dan rencana liburan. Mereka senang dengan simbol-simbol yang ada disekitarnya, ingin diakui atas apa yang mereka konsumsi. Mungkin benar kata Baudrillard jika keadaan manusia di era post-struktutalis itu serba bias, tak bisa dipastikan mana yang asli dan mana yang simulasi. Begitu juga mahasiswa hari ini lebih senang menjadi tuhan dalam game, lebih senang menjadi pemateri gosip, dan lebih senang menjadi kaisar di kerajaan warung kopi dengan obrolan yang jauh dari kata substansial.

Kampus hari ini sudah tak lagi ramai dengan perdebatan seputar wacana, atau teori-teori filsafat. Mengisi pojokan kampus dengan buku yang tergenggam sambil berdiaelktika. Dulu tas mahasiswa itu diisi oleh buku buku, sekarang membawa tas pun jarang rasanya. Modal gadget yang serba simple kemudian dideterminasi atas nama pendidikan. Namun mahasiswa hari ini banyak pergi ke pinggiran kelas mencari sumber listrik seraya mengajak temannya untuk gabung dalam games.

‘Kuliah’ itu bukan sebatas yang ada dalam kamus besar bahasa indonesia, yaitu sebagai proses ceramah ditingkat perguruan tinggal, sangat fatal! Justru jika diartikan dari bahasa arab, ‘kuliah’ itu sepadan dengan kata ‘kulliha’ yang artinya keseluruhan. Hmmm.. timpang bukan? Yang lebih parahnya lagi, justru perkuliahan di Indonesia menuntut para mahasiswa untuk fokus kepada satu spesialisasi perkuliahan.

Perkuliahan di negara ini bukan berorientasi kepada nilai dan ilmu, namun bagaimana caranya agar mahasiswa bisa bekerja nantinya setelah lulus, lucu bukan? Jadi apa benar bahwa mahasiswa dan sederet sistem dalam suatu perguruan tinggi merupakan standar majunya negara kita?

Justru terlalu dini jika kita berbicara tujuan hidup yang realistis dengan masuk perguruan tinggi. Jika harus mengutip sang guru pembebasan Paulo Freire, “pendidikan itu harus menghasilkan kebebasan, karena manusia dituntut untuk kebebasannya dari apa yang telah menjadi fitrah”. Bukan malah, pendidikan menjadi laboratorium pemotongan hak manusia atas kebebasannnya, dan menjadi pabrik pencetak uang.

Kepentingan golongan sudah bukan hal yang baru dinegara ini, pendidikan menjadi salah satu aspek yang tersentuh. Maka bukan lagi tugas satu golongan untuk membuat sistem yang ideal tapi seluruh masyarakat bahkan manusia didunia.

Sebarkanlah hal ini pada orang orang yang tak menyadarinya, agitasi mereka. Karena inti dari kebebasan manusia adalah kesadaran. Sadar akan keadaan bahwa manusia memiliki hak dan kewajiban, dan salah satunya adalah melalui pendidikan. Ini bukan tulisan provokatif. Hanya ingin memberikan pijakan untuk kita saling berjalan diatas tanah yang kokoh.

Tuliskan Komentarmu !

Deffa adalah Mahasiswa KPI STAI Persis Bandung yang aktif juga sebagai kader ormawa ekstern Hima Persis