Tuhan, Bolehkah Aku Tertawa?

air mata perempuan
Ilustrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- “Apakah kamu tahu, kenapa Tuhan menciptakanku?”

“Karena Tuhan tahu, jika Dia tidak menciptakan kamu, hidupku bakal kesepian.”

“Selain itu, aku juga diberi tugas untuk menjaga bidadari yang sudah diciptakan oleh-Nya.”

Bacot! Lupakanlah bualan macam itu. Sekarang aku benar-benar bertanya, kenapa Tuhan seenaknya saja menciptakanku, sedang aku tak pernah minta? Kenapa harus aku? Kenapa aku harus merasa bahwa itu adalah “AKU”? Dan kenapa aku harus diderita semua aturan yang dibuat oleh-Nya, juga aturan yang dibuat sesamaku sendiri?

Ini memang pertanyaan tolol. Seharusnya aku menggugat dari dulu, semenjak dalam kandungan. Bukan sekarang, setelah aku hampir mati diinjak-injak polisi. Andai saja tadi aku mati, mungkin tidak akan ada gugatan semacam ini.

Kematian memang lebih mudah dibayangkan daripada harus menahan derita sepanjang hidup. Ada yang dengan jalan bunuh diri, ada yang menjadi martil, ada juga yang memilih mati dengan perlahan. Tapi Tuhan melarang kita mati dengan cara bunuh diri, mungkin karena Tuhan tahu, jika tidak dilarang, akan lebih banyak lagi orang memilih jalan itu.

Sekarang aku mulai mengerti, kenapa banyak orang yang memilih menjadi martil. Mengorbankan jiwa dan raganya untuk kepentingan orang banyak. Mungkin seperti Nabi Isa yang rela disalib demi menebus dosa ummatnya. Ya, padahal sebenarnya karena hidup lebih mengerikan dari pada kematian. Hidup lebih patut untuk ditangisi dari pada ditertawakan.

Seharusnya ini tak akan menjadi persoalan bagi aku yang memang lebih suka menangisi hidup, dan baru menjadi persoalan bagi kalian yang suka menertawakan hidup. Tapi nahasnya manusia memiliki sifat lupa, dan hal itulah yang kemudian hari menjadi petaka.

Mereka yang duduk di atas sana, lebih suka melihat kita menangisi orang pinggiran yang sedang mencari sesuap nasi, padahal kita hampir mengalaminya setiap hari. Mereka yang duduk di atas sana lebih suka melihat kita menangisi dosa-dosa apa saja yang sudah kita perbuat, dan pembangkangan-pembangbangan apa saja yang sudah kita lakukan pada negara.

Menangisi, meminta ampunan, memohon-mohon maaf, memelas, ruku atau bahkan sujud, itulah yang diinginkan orang-orang yang duduk di atas sana, dan dengan itu kita pun dapat jaminan akan selamat dari dari semua aturan. Aturan Tuhan, juga aturan manusia. Tertawa adalah pembangkangan. Menertawakan adalah pelecehan.

Aku diinjak-injak polisi karena aku ikut tertawa menyaksikan pinokio-pinokio itu beratraksi di atas panggung.

“Kenapa aku yang ditangkap, bukankah pinokio-pinokio itu yang menyebabkan kau tertawa?” tanyaku.

“Hukum hanya perlu fakta. Dan faktanya kamu tertawa. Kamu bisa kan menyaksikan pertunjukan itu sambil menangis, heh!”

Aku tersenyum sinis. Aku ingat pepatah ibuku, di hadapan polisi, bagaimana pun keadaanmu, benar atau salah, kamu harus tunduk dan meminta maaf.

“Mari kita buat orang ini menangis” ujar polisi lainnya.

Belum juga menengadah untuk meminta maaf, satu pukulan mendarat di pipi kananku. Aku tersungkur. Setelah itu mereka tak ingin lagi mengotori tangannya, biarkan saja kaki beserta sepatunya yang menuntaskan tugasnya. Aku hampir tak sadar, tapi setelah air mata dan darahku keluar, mereka berhenti, lalu menyeretku ke dalam sel.

Aku tak sejahat itu, aku jenis manusia yang suka menangisi hidup. Tapi kenapa pinokio-pinokio itu beratraksi begitu lucunya hingga membuat aku jadi lupa dan ikut tertawa?

Kita memang hanya butuh satu kesilafan yang bisa membuat hidup kita ambyar selamanya.

Tuhan, kenapa kau menciptakan aku? Dan kenapa kau juga melarang kami untuk mati bunuh diri? Apakah menurut-Mu itu adil, Tuhan? Kau sedang tidak bercanda, kan? Tapi aku ingin tertawa. Apakah boleh, Tuhan? Di dunia-Mu ini kami sudah tidak boleh tertawa.

Tuliskan Komentarmu !