Tipologi Mahasiswa Masa Kini

tipologi mahasiswa
Ilustrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Teruntuk mahasiswa-mahasiswi baru, sebelum kalian ikut berkecimpung dengan mahasiswa-mahasiswi lama (seniormu), ada baiknya kalian mengenali beberapa tipologi mahasiswa terlebih dahulu, supaya tak menyesal di kemudian hari, lalu setelah lulus –atau malah gagal lulus, kamu mewek meronta-ronta ingin kembali lagi ke masalalu.

Kalian (para mahasiswa baru) mau tak mau, disadari atau pun tidak, adalah investasi bagi para mahasiswa lama. Setiap generasi memerlukan penerus, setiap angkatan memerlukan pelanjut; terlepas apakah yang diwariskan mereka berujung pada kebaikan, atau malah sebaliknya.

Berikut beberapa golongan mahasiswa yang harus anda ketahui, sekaligus waspadai:

Mahasiswa Idealis Natural

Mahasiswa idealis natural tak sukar dijumpai dalam sejarah, misalnya kalau dalam film “Gie”, yakni yang menjadi pemeran utamanya: Soe Hok Gie. Slogan agen of change tercipta dari mahasiswa-mahasiswa tempo dulu yang punya watak semacam ini. Mereka “memamerkan” titel mahasiswa dengan tradisi intelektual to, atau pergerakan sosial murni. Cirinya, sudah tak punya waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.

Watak semacam ini biasanya dipuja di ruang kosong. Yang nampak ke permukaan hanyalah sebuah ide, gagasan cemerlang; namun pribadi sang penggagas lenyap di tengah keramaian.

Bagaimana pun sukarnya menjadi mahasiswa idealis natural, tapi sampai sekarang tetap masih punya pengikut. Alasannya jelas, sampai sekarang, mahasiswa didefinisikan dan yang selalu disemogakan berefek sosial karena keidealismeannya yang natural. Slogan dan makna mahasiswa seolah hanya “sah” jika punya watak semacam ini, karena bagaimana pun, sejarah mahasiswa banyaknya digoreskan oleh mahasiswa semacam ini.

Untuk saat ini, watak idealis natural memang agak sukar untuk dibedakan dengan mahasiswa idealis nyinyir. Tak sembarang orang yang sanggup menitipkan masa depannya hanya pada keyakinan, bahwa kabaikan akan berujung kebaiakan. Tak sembarang orang yang mampu mengubur egonya untuk tidak ‘berpesta pora’ merayakan kehidupan. Seperti disinggung di awal, mereka dipuja di ruang kosong.

Untuk kamu mahasiswa baru, kalian awalnya akan melihat mereka seperti alien di muka bumi ini, yang punya sikap dan pendirian yang begitu ganjil. Namun yang menjadi heroiknya, mereka tetap konsisten dengan pendirian ganjilnya itu.

Saran saya, kalau kalian sudah kuat dengan godaan sosial, ikutilah mereka. Mereka punya azimat sakti untuk menangkal kehidupan yang fana. Tapi kalau kalian masih suka berbuat manja, jangan coba-coba mengikuti mereka -cukup kagumi saja; mereka tak punya waktu untuk memanjakan dirinya sendiri.

Mahasiswa Idealis Nyinyir

Yang membedakan antara mahasiswa idealis natural dengan mahasiswa idealis nyinyir yaitu pada tingkat kecerewetan. Jika mahasiswa idealis natural lebih suka mencerminkan pendiriannya pada sikap, maka mahasiswa idealis nyinyir mencerminkan pendiriannya pada cakap.

Dalam sejarah, kita pun akan sering menemukan mahasiswa semacam ini, misalnya kalau dalam film “Gie”, watak seperti ini dicontohkan oleh sosok Zaka. Biasanya, mereka awalnya berkawan dengan mahasiswa idealis natural, tapi akhirnya menjadi lawan. Penyebab utama mereka menjadi lawan karena cakapnya berlainan dengan sikapnya. Cakap mereka mencari penyumbat, dan penyumbatnya itu bisa bermacam-macam rupanya. Bisa jabatan, uang, atau malah dede gemes.

Sekarang, mahasiswa nyinyir lebih ramai lagi berkeliaran. Tingkat kecerewetan mereka semakin bertambah setelah ramainya dunia maya. Mereka bak dewa sang penyelamat bumi; berbincang ini-itu, mengecam mereka yang berlainan paham. Positifnya, tingkat kecerdasan mahasiswa semakin bertambah, karena setiap harinya diasah kemampuan debatnya di mana saja.

Untuk kalian para mahasiswa baru, kalian boleh saja berkawan dengan mahasiswa-mahasiswa semacam ini, tapi jangan sampai baper, karena sering kali pendirian mereka hilir-mudik -tergantung mana yang lebih menguntungkan. Kalian mahasiswa baru, bersama mereka hanya untuk belajar bagaimana seharusnya berpikir, bukan apa yang seharusnya dipikirkan.

Mahasiswa Romantik

Mahasiswa romantik adalah mahasiswa yang sangat mengasyikan, dan saking mengasyikannya, mahasiswa semacam ini sering kita jumpai dalam acara-acara televisi. Maaf, maksudnya bukan dalam berita aksi-aksi demonstran, tapi sebagai tamu dalam acara-acara tertentu, dan si mahasiswa datang lengkap dengan almamaternya.

Untuk menjadi mahasiswa romantik, tentu tak sembarang mahasiswa dapat melakukannya. Selain harus mengasyikan (bertepuk tangan sekuat tenaga jika disuruh, tertawa jika diintruksikan, dan harus hafal betul nyanyian tra la la la, ye ye ye), tapi juga harus kinclong saat disorot kamera. Tentu ini yang paling menantang. Tak semua mahasiswa diberi anugerah wajah yang sama, maka bercermin dulu lah sebelum akhirnya kalian patah hati dibilang wajahnya tak cocok dengan kamera.

Mahasiswa romantik biasanya berperan juga sebagai jurnalis paling baik. Tiap seminar, talkshow, rapat, nongkrong, kongkow, dan seabreg aktivitas lainnya, selalu ia laporkan dengan data-data yang begitu memukau, paling tidak dapat menghipnotis tangan untuk mengklik ‘like’. Bukan karena laporannya, tapi kerana tampangnya yang aduhai.

Mahasiswa romantik yang serius, berpeluang besar untuk menjadi seorang sastrawan, atau minimal penulis roman. Setiap episode yang menegangkan dalam rutinitasnya menjalani perkuliahan, selalu terlampir puisi-puisi yang indah nan sejuk. Seperti saat ia mulai bertarung dengan skripsi, saat ada dosen yang susah memberi nilai, saat si dia gak ada kabar sedang dirinya sedang butuh semangat, terlebih saat berhasil wisuda berkat darah juangnya. Semuanya terdokumentasi dalam antalogi puisi, yang kelak puisi-puisinya itu akan dicetak karena mengandung pepatah bijak, yang lalu buku itu menjadi best seller.

Untuk para mahasiswa baru, kalau sekiranya punya wajah dan tubuh yang mempuni, maka silahkan saja mengikuti kakak senior kalian yang semacam itu. Tapi ketika kalian terpental dan merasa betapa jelimetnya berdandan setiap saat, tak usah gusar, karena memang wajah anda sudah dari “sananya” begitu, tak bisa diapa-apakan lagi. Lebih baik perbaiki diri dari dalam terlebih dulu. Tapi kalau punya tampang yang rupawan, ya banyak-banyaklah bersyukur, karena banyak orang yang memimpikan untuk seperti anda.

Mahasiswa Gagal Move On

Tipologi mahasiswa yang terakhir ini paling sering kita jumpai. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa yang punya kenangan sangat dalam dengan masa lalunya: raganya sudah menginjak kampus, tapi jiwanya masih bergentayangan di sekolahnya dulu, saat-saat ketika masih menjadi siswa.

Mahasiswa semacam ini biasanya kuliah tanpa gairah. Bangun tidur – mandi – masuk kelas – belajar – pulang – tidur siang – bangun lagi – main – pulang – menghapal – tidur lagi -bangun lagi. Terus tiap hari seperti itu. Mungkin kelak setelah diwisuda, ia tak meninggalkan kenangan apa-apa semasa kuliahnya, sembil kebingungan setelah wisuda mau apa.

Untuk kalian mahasiswa-mahasiswi baru, tentu kalian harus bisa move on. Biarlah yang lalu berlalu bersama berputarnya waktu. Tak usah disesakkan sedemikian rupa. Terimalah kenyataannya saat ini, saat kalian dinyatakan sebagai mahasiswa.

Baca Juga: Dilarang Mengkhayal di Kampus

Tuliskan Komentarmu !