Tiga Fase Reuni

rosihan fahmi
Ilustrasi: Rizki Agustian

Kata reuni bukan kata yang ganjil lagi di kalangan pelajar, atau bahkan di kalangan peserta aksi. Di kalangan pelajar, kita mengenal ‘reuni angkatan anu sampai anu’, atau kalau lagi kumpul sama teman-teman sekolahnya dulu, kita sering menyebutnya dengan kata: reunian. Di kalangan peserta aksi, kita baru dikenalkan dengan kata ‘reuni aksi 212’. Dan tentu masih banyak lagi.

Namun tahu kah kamu, bahwa reuni mempunyai fase yang mesti kamu lewati? Baiklah, sekarang coba kamu perhatikan fase-fase tersebut.

Reuni Duniawi

Fase pertama adalah reuni duniawi. Fase ini adalah hal yang biasa kita lakukan, entah atas nama reuni keluarga, reuni sekolah hingga reuni aksi massa. Banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk terlaksananya kegiatan tersebut, entah persiapan dari pihak panitia, hingga persiapan matang dari peserta. Persiapan lahir dan batin.

Kegiatan reuni keluarga, sekolah atau peserta aksi pada umumnya diselenggarakan untuk mempererat silaturahmi dan kekerabatan. Kegiatan reuni seperti ini disambut dengan ragam ekspresi, dari ceria hingga muram durja. Yang bersikap ceria, biasanya berlaku bagi mereka yang merasa siap lahir batin dalam pelaksanaanya. Bagi yang bermuram durja, biasanya hanya karena merasa belum siaga hingga ‘rumasa boga dosa’, atau si mantan sudah bahagia dengan si dia.

Pada momennya, kegiatan reuni didominasi dengan bahan obrolan masa lampau, dari yang mengesankan hingga menyebalkan. Dari yang dianggap perlu diperbincangkan hingga yang dianggap tabu.  Tak jarang pula, pada reuni fase ini dijadikan ajang ‘menghakimi atau menilai’ satu sama lain antar pribadi.

Fase reuni ini, bisa dijadikan gambaran dan acuan mengenai siapa diri kita di hadapan sesama. Masa lalu, merupakan pijakan kita hingga menjadi diri kita hari ini.

Fase reuni ini, cenderung didominasi hasrat duniawi, hingga bisa melahirkan sikap iri. Namun tentunya, pabila dibalut dalam terang cahaya Illahi Rabbi, fase reuni pertama ini akan memudahkan kita dalam perjalanan fase reuni kedua: reuni ukhrawi.

Reuni Ukhrawi

Fase kedua, reuni ukhrawi -bukan Zaim Ukhrawi, ya!-. Beruntung tentunya bagi saudara-saudara kita yang telah melakukan dan menegakkan ibadah haji, di mana gambaran reuni ukhrawi dipraktekkan pada ritual wukuf di Arafah.

Persiapan menuju reuni ukhrawi tentunya setali tiga uang dengan persiapan reuni pertama. Cuma pada fase ini lebih didominasi untuk kepentingan spiritual journey. Reuni ukhrawi dengan kata lain merupakan reuni spiritual, suatu masa di mana kita diberi kesempatan untuk menpertegas eksistensi diri di hadapan Illahi Rabbi.

Reuni ukhrawi, menjadi ajang pengenalan diri secara spiritual terhadap Sang Pencipta. Arafah yang berarti mengenal diri dan Illahi Rabbi. Arafah berarti pula menghadirkan diri sekaligus menghadirkan Illahi dalam diri, hingga kita menjadi manusia yang fitri. Reuni ukhrawi menjadi ajang kelahiran diri sejati untuk sedia mengabdi dengan berbagi kepada segenap alam semesta, sebagai tanggung jawab dari khalifah fil ardi.

Dalam fase ini, sejatinya nyaris tak ada kemegahan duniawi. Tubuh hanya dibalut kain putih tanpa jahitan. Tak ada kaya miskin, tak ada pintar bodoh. Dalam fase ini, semua sama hanya berbalut kain putih. Tanpa melampaui fase reuni ukhrawi ini, haji kita pun kan tertolak. Artinya reuni ukhrawi adalah suatu keniscayaan , termasuk bagi mereka yang belum berkesempatan haji pun, akan melaluinya berdasar “kemampuaannya”. Gambaran fase reuni ukhrawi, bisa menjadi salah satu tahapan persiapan dalam menghadapi reuni yang hakiki.

Baik fase pertama maupun kedua dalam reuni, paling tidak ada beberapa hal kesamaan: 1. Persiapan 2. Masa Lalu, 3. Kini dan 4. Nanti, menjadi hal ihwal yang melekat dalam kejadian dan yang terjadi dalam proses reuni tersebut.

Reuni Hakiki

Begitu pun dengan fase reuni ketiga, Reuni Hakiki, reuni yang sengaja oleh “panitia” ditempatkan di alam mahsyar. Inilah reuni akbar yang hakiki, karena sejak mahkluk pertama hingga yang terlama ada dalam jumpa dalam masa yang sama. Tak sehelai benang pun, tak beralas kaki, yang telah bersunat pun, kembali ke asal, hingga jarak matahari cuma berjarak (1 mil) yang membuat keringat bercucur hingga mampu menenggelamkan diri.

Tak ada makanan dan minuman. Masing-masing diri larut dalam masa lalu, dan “perbekalan” diri. Tak ada ruang untuk saling menghakimi, tak ada ruang untuk saling berbagi, karena masa itu telah pupus, masa yang ada tersedia di fase reuni duniawi dan ukhrawi.

Fase reuni hakiki menjadi ajang pembuktian diri yang hakiki, berdasar pada apa yang kita cipta di hari ini untuk bekal nanti.

Reuni pada akhirnya bukan sekadar urusan mempersatukan diri dalam urusan duniawi. Balutan spiritualitas dalam reuni menjadi jalan silaturahmi yang hakiki hingga mampu menghadirkan nilai-nilai Illahi Rabbi bagi manusia sejati.

Rek reuni nepi ka nini-nini jeung aki-aki, pabila tak sanggup menghadirkan nilai-nilai Illahiah, bisa jadi sama dengan kehadiran diri di rumah Allah, yang tak pernah disambut oleh Sang Tuan Rumah.

Akankah diri kita nanti, pada reuni akbar yang hakiki, kita disambut-Nya? Hingga tubuh kita tak sampai tenggelam dengan “keringat” masa lalu, tubuh kita tak lagi telanjang, namun dibalut syafaat dan rahman rahim-Nya?  Wallahu’alam.

Tuliskan Komentarmu !