Terorisme; Antara Kehendak dan Kemelut Kekuasaan

SAVANA- Setelah membaca berita-berita tentang aksi bom bunuh diri di Surabaya pada Minggu (13/5) pagi kemarin, secara serentak media yang saya cermati (tirto, tempo, kumparan, detik, mojok) mengecam aksi terorisme. Tak ada alasan rasional maupun alasan religius yang dapat membenarkan ulah mereka. Namun, kenapa masih ada manusia yang dapat bertindak seperti itu?

Saya selalu tertarik dengan novel-novelnya Eka Kurniawan. Dalam satu wawancara, Eka mengungkapkan bahwa manusia selalu mencari motif atas segala tindak kejahatan. Kalau seseorang berbuat baik, ya itu sudah sewajarnya (agama dan moral kemanusiaan mengajarkannya), namun tidak untuk sebuah kejahatan.

Makanya tak heran jika dalam novel-novel Eka Kurniawan, tokoh utamanya selalu orang-orang yang secara agama dan moral melanggar. Misalnya dalam novel Cantik Itu Luka, tokoh utamanya Dewi Ayu yang merupakan seorang pelacur; atau dalam novel Seperti Dendam Harus Dibayar Tuntas, tokoh utamanya Ajo Kawir yang bertindak sebagai pembunuh bayaran.

Ada benang yang cukup kusut untuk sampai kepada kesimpulan, kenapa Dewi Ayu memutuskan untuk menjadi pelacur, atau Ajo Kawir menjadi pembunuh bayaran. Dan tentu saja, alasan itu tidak lantas ‘membenarkan’ aksi pelacuran atau pembunuh bayaran, tapi paling tidak memberi anasir lain: tidak setiap orang bertindak atas kehendaknya sendiri.

Kalau dikaitkan dengan aksi terorisme kemarin, kita tidak tau ada tekanan apa di balik para pelaku bom bunuh diri tersebut -mereka diancam sampai tujuh turunan misalnya. Mungkin yang sampai pada kita, mereka melakukan itu semata karena ingin syahid, memilih jalan pintas untuk mendapatkan surga-Nya. Namun nalar yang seperti apa untuk mendapatkan surga-Nya dengan cara yang seperti itu?

Dalam buku Prof Afif Muhammad yang menganalisa konflik antar umat beragama, manusia dapat bersikap kasar kepada manusia lain lantaran ia kurang paham terhadap agamanya, dan bentrokan itu terjadi lebih disebabkan unsur lain: ekonomi atau politik misalnya. Maka isu agama dalam hal ini lebih dijadikan komoditas.

Kalau memegang analisa dari Prof Afif tersebut, sejatinya di Indonesia tidak ada kata syahid-syahidan untuk kekeras dalam bentuk apa pun, tidak seperti di Palestina atau Suriah.

Dalam novelnya Eka, Dewi Ayu dan Ajo Kawir merupakan martir (orang yang menderita) dari kemelut penguasa. Dalam wawancaranya, Eka mengatakan walau jarak antara rakyat dan penguasa itu jauh, tapi efeknya akan sangat berpengaruh. Dewi Ayu tumbuh dewasa pada masa kolonial Jepang, dan karena kecantikannya, ia terpilih menjadi salah satu gundik tentara; sedang Ajo Kawir beraksi pasca kejatuhan rezim Soeharto, saat krisis moneter menimpa Indonesia.

Saya menyebut pelaku bom bunuh diri itu sebagai korban, sebagaimana yang ikut mati bersamanya, sebaimana kita yang menyaksikannya -yang gagal menyelamatkan para pelaku bom bunuh diri tersebut.

Tuliskan Komentarmu !