Tepuk Tangan Sang Kiai

tepuk tangan sang kiai
Ilustrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Peranan ulama dalam tatanan negara (baca: berpolitik) yang masyarakatnya mayoritas beragama Islam, sangatlah penting. Islam tidak pernah menyuruh umatnya agar menjauhi dunia politik, justru Islam telah memberikan panduan dan tuntunan.

Melalui sejarah agama Islam, kita bisa mengenal tatanan negara yang paling gemilang pada masanya. Sebut saja masyarakat madani, yang pada saat itu langsung dipimpin oleh Nabi Muhammad s.a.w, Rasulallah sekaligus pemimpin negara yang berhasil menciptakan masyarakat dan tata negara yang begitu kokoh dan kuat.

Ulama adalah penyambung lidah nabi yang tidak bisa begitu saja dipisahkan dari ruang politik. Muhammad al-Fatih contohnya, sultan muda Turki yang tersohor dengan kegemilangannya menaklukkan benteng Konstatinopel, yang ternyata keberhasilannya tersebut tidak bisa dilepaskan dari peranan ulama yang mendidiknya semenjak kecil.

Tentu dalam hal ini, jangan kita maknai ulama sebagai seorang yang hanya mengerti soal fikih, tafsir dan disiplin ilmu sejenisnya, tapi juga harus paham Islam sebagai ideologi dan sistem kehidupan.

Kita tidak bisa menafikan pengaruh kuat yang dihasilkan dari sosok ulama dalam sebuah tatanan negara. Sejarah mengatakan, bahwa keberhasilan Indonesia menggapai cita-cita kemerdekaannya salah satunya karena upaya para ulama dan santri.

Lalu yang menjadi masalah selanjutnya, bagaimana jika ulama tidak menjalankan peranan yang sesungguhnya? Ulama adalah simbol ilmu bagi agama Islam, citra ulama mewakili ilmu agama yang mumpuni, juga buah akhlak yang manis. Apalagi sosok kiai dengan sederet nama yang sudah memasyarakat dan memiliki otoritas tinggi bagi umatnya, kiranya akan banyak umat yang menaruh harapan serta menjadikannya sebagai panutan.

Berita politik di Jumat kemarin menjadi hal yang amat disayangkan, pasalnya berita yang kini tengah hits mengabarkan bahwa dalam pertemuan dengan pendukung capres-cawapres sesaat sebelum pemilihan nomor urut, sang Kiai disuguhi nyanyian dari seorang artis dangdut.

Posisi seperti itu mungkin jadi hal yang sangat dilematis bagi sang Kiai. Walau pun bukan hal yang sulit bagi sang Kiai -mengingat otoritasnya sebagai kiai dan pimpinan tertinggi ulama (baca: MUI)- untuk menghentikan sebuah kemungkaran di depan matanya.

Ulama mesti memiliki sikap yang tegas, yang memposisikan hukum Allah di urutan pertama. Umat tidak menginginkan sosok ulama yang tunduk pada telunjuk pemimpin. Ulama seharusnya berfungsi sebagai setir yang menggiring pemimpin menuju arah kebaikan dan perbaikan, bukan yang tunduk digiring pemimpin. Sikap ulama lah yang menjadi penentu baik-buruknya umat, sebab mereka adalah sentralnya ilmu.

Tentunya, umat menaruh harapan besar dengan keberadaan ulama di sisi pemimpin sebagai penasihat umara, agar membawa negara ini menjadi lebih baik kedepannya. Namun jika dalam hal dangdut saja, sang Kiai bisa kehilangan ‘baju’nya,  lalu bagaimana menyikapi urusan negara yang lebih krusial daripada itu?

Maka dari itu, tepuk tangan sang Kiai di acara Jumat kemarin, menjadi sebuah ekspresi yang sangat menyayat hati. Kiranya umat saat ini tengah patah hati dan hilang harapan, bilamana ulamanya lebih takut kepada pemimpin daripada kepada Sang Pencipta.  Allahu a’lam

Baca Juga: Warisan Perjuangan Ulama Salaf

Tuliskan Komentarmu !