Tentang Bendera Hitam yang Dibakar

pembakaran bendera ar-rayah
Sumber gambar: pikiranrakyat.com

SAVANA- Tiga anak muda asal Garut yang membakar bendera Ar-Rayah, tidak menyangka kalau akan mengundang kemarahan umat Islam se-Indonesia. Karena kecerobohannya, polisi dan MUI mendapatkan kesibukan baru. Mereka harus rapat dan konferensi pers, sampai istana pun harus angkat suara.

“Saya kan bela negara, terdepan dalam menentang gerakan-gerakan terlarang di negeri ini. Memang kami terdepan dalam menghalau gerakan HTI, bendera yang kami bakar adalah bendera HA TE I. Lha kenapa kamu yang marah?”

Mungkin masalah ini akan berhasil diredam jika petinggi-petinggi Banser –kelompok yang membakar bendera tersebut- langsung meminta maaf. Tapi yang disampaikan mereka justru alibi dan pembelaan atas tindakan gegabah para anggotanya. Pelakunya saja mengaku bahwa itu tindakan spontan dan tanpa intruksi dari pimpinan Banser, nah ini pemimpinnya malah membela aksi mereka.

Di salah satu pihak mereka disebut oknum, tapi di pihak lain mereka diakui sebagai anggotanya dan dibela. Yang namanya “oknum” itu adalah seperti “daging jadi” yang kemudian harus dipotong agar tubuh tetap bersih. Tapi ini tidak ada pemotongan, tapi justru pembelaan. Ini yang semakin menyakiti umat Islam.

“Lho kenapa kamu yang marah?”

Jika perbuatan ini dilakukan ketika HTI masih eksis, mungkin ini hanya akan menjadi konflik antar ormas saja. Atau mungkin juga akan seperti yang terjadi pada Harian Rada Sukabumi pada saat pembubaran HTI. Waktu itu Harian Radar Sukabumi memuat karikatur bendera Ar-Rayah disobek Burung Garuda, dan masalah tersebut bisa diselesaikan dengan cepat di lokal saja. Namun kali ini, umat Islam sudah mulai menerima bendera Ar-Rayah sebagai simbol pemersatu umat, tanpa takut disebut “orang HTI”.

Sejak kuliah saya banyak berkenalan dengan HTI, baik itu ideologinya, pergerakannya, syabab-syababnya, maupun simpatisannya. Beberapa kali saya sempat ‘terjebak’ di kajian-kajian Islam yang ternyata itu adalah acara HTI. Corak khas ideologi mereka adalah penegakan syari’ah, khilafah dan antidemokrasi.

Dalam beberapa hal, saya sepakat dengan gagasan mereka, tapi dalam solusi dan aksi, ada beberapa hal yang belum saya terima. Dalam demo-demo di kampus misalnya, jika kawan-kawan HTI mendapat kesempatan berorasi, solusi untuk setiap permasalahan dipukul rata, yaitu khilafah. Misal ketika kenaikan cabe, maka solusinya tegakkan khilafah, rektor tidak jujur solusinya khilafah, kelicikan politik ormawa solusinya adalah khilafah. Mungkin jika diurut bisa jadi benar, namun harus ada rincian yang lebih logis dan rasional kenapa ujung-ujung solusinya adalah khilafah. Permasalahan apa pun dikritik di buletin Al-Islam, ujung-ujungnya tegakkan khilafah. Atau sayanya aja yang baca awal dan ujungnya doang? Hahaha.

Persoalan bendera Liwa dan Raya, pada saat itu hampir semua sepakat bahwa bendera hitam dan putih itu adalah bendera HTI. Namun kawan saya yang HTI, menjelaskan bahwa HTI tidak memiliki logo atau bendera. HTI memperjuangkan khilafah islamiyah, maka yang dikibarkan adalah panji Islamiyah. HTI ingin apa pun organisasinya, kemudian memiliki semangat dan fikroh yang sama, yaitu menegakkan syari’at Islam di tengah-tengah kekacauan akibat hukum yang dibuat oleh manusia. Saya bisa menerima kalau itu bendera Liwa dan Raya bukan simbol HTI, walaupun saya tetap mengakui bahwa yang berbangga-bangga dangan simbol itu berarti orang HTI.

Namun sejak aksi 212, banyak orang yang mengibarkan bendera tersebut. Awalnya memang orang HTI yang bawa, ada juga bendera-bendera ormas lain. Namun pada saat itu, umat Islam butuh bendera yang mempersatukan. Jika tokoh pemersatunya adalah Habib Rizieq Syihab, ustadz pemersatunya Aa Gym, maka simbol pemersatunya adalah bendera Liwa Raya. Banyak orang bukan hanya HTI mulai menerima dan mengibarkan bendera Liwa Raya. Apalagi sejak pembubaran HTI, baik karena simpatik kepada HTI atau memang menjadi lebih cair karena sudah bukan milik siapa pun. Dan sekarang orang-orang tidak takut disebut HTI jika membangga-banggakan bendera tersebut. Poin inilah yang mungkin belum diketahui kawan-kawan Banser. Atau mereka belum bisa move on aja?

Tanpa dikomando oleh HTI, orang-orang kemudian dengan sukarela memproduksi dan memperbanyak serta memperjualbelikan aksesoris berlambang Liwa Raya. Baik itu bendera, kaos, topi, stiker mobil, dan lain-lain.

Perbincangan soal Liwa Raya tidak lagi pada seputar golput, antidemokrasi, khilafah, dan ssebagainya. Tapi sudah berubah menjadi spirit pemersatu umat Islam. Nah, disaat spirit membara, tiba-tiba ada sekelompok orang -yang selama ini memang sering membuat langkah yang tidak populer, bertentangan dengan logika keumuman umat Islam, dan pro rezim- membakar simbol spirit pemersatu umat Islam.

Jelas ini suatu blunder besar, karena bendera Liwa Raya sudah diterima dan menjadi spirit umum umat Islam. Orang akan dengan sukarela membela, apalagi di dalamnya ada lafadz Allah, hal yang sangat sensitif bagi umat Islam di seluruh dunia. Logika dan alibi apapun yang dikemukan, tak akan mampu meredam kemarahan, karena sesungguhnya yang mereka bakar bukan saja bendera hitam putih, tapi spirit persaudaraan umat Islam saat ini.

Jika mereka tetap bersikukuh bahwa yang mereka musuhi adalah HTI, tapi HTI adalah salah satu anggota kelas, Ketika anda memukul 1 orang di suatu kelas, maka teman sekelasnya akan membela. Dan saat ini Liwa Raya bukan lagi simbol salah satu anggota kelas, tapi menjadi simbol yang ditempel di pintu kelas.

“Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad s.a.w diam.” (HR Ahmad; Shahih)

Jika kita merunut kepada hadits tentang Minhajun Nubuwah, bahwa kekhalifahan akan kembali sebelum akhir zaman. Saya meyakininya, meski saya tidak yakin bahwa HTI lah yang akan menjadi komandonya. Namun syari’at-Nya dan sunnatullah-Nya akan mencari jalannya. Dan saya pikir ini lah jalan itu. HTI dibubarkan, umat Islam mulai menerima Liwa Raya, dari mulai menerima bendera akan berlanjut kepada ide syariah dan khilafah dan sunnatullah-Nya akan berlaku bagaimana pun jalannya.

Membakar: Kebencian atau Penghormatan?

“Membakar bendera yang ada tulisan kalimat tauhid tersebut, hemat saya, teman-teman ingin memperlakukan sebagaimana jika mereka menemukan potongan sobekan mushaf Al-Quran. Mereka akan bakar sobekan itu, demi untuk menghormati dan menjaga agar tidak terinjak-injak atau terbuang di tempat yang tidak semestinya,” Demikian Gus Yaqut menjelaskan.

Ini alasan yang paling rasional dalam “membela” perbuatan anggota Banser. Namun jika sekali lagi melihat video yang beredar, tentu kita semua tidak akan setuju, karena pada saat pembakaran dilakukan sambil bernyanyi-nyanyi dan berjoget dengan bangga.

Pembelaan ini dipatahkan langsung oleh pelakunya, bahwa jelas menurut mereka, mereka membakar bendera ‘Ha Te I’. Bukan tanpa alasan, karena Banser lah kelompok yang paling rajin mengcounter gerakan HTI.

Membakar sebagai sebuah kebencian atau penghormatan, tentu akan dilihat dari niatnya, namun sikap saat melakukan pembakaran juga bisa dijadikan sebagai salah satu penilaian.

Menginjak-injak Al-Quran di depan umum dan diposting, tentu berbeda dengan perbuatan tukang percetakan saat beberapa reject cetakan berserakan, dan sebagian terinjak. Membakar Al-Quran yang sudah rusak dimakan rayap yang dilakukan pimpinan pesantren, tentu berbeda dengan membakar Al-Quran yang divideo dan disebarkan.

Membakar merupakan salah satu simbol kebencian. Nabi Ibrahim dibakar karena kebencian para penyembah berhala, Ammar Bin Yasir dibakar karena mengakui keesaan Allah. Dalam sebuah demo, membakar bendera Israel atau Boneka Donald Trump, jelas itu kebencian. Lalu bagaimana jika membakar bendera ber’lafadz’kan kalimat tauhid atau asma Allah di dalam sebuah kegiatan aksi, divideo, dan dipublikasikan?

Tuliskan Komentarmu !