Target Ramadan yang Mesti Kita Capai

SAVANA- Apa kabar Akhi dan Ukhti sahabat Fillah? Masih semangat kan shaumnya? Semoga kita masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk mengecap nikmatnya ibadah shaum di bulan ramadan kali ini, Aamiin, karena kita tidak pernah tahu kapan malaikat Izrail menjemput kita; apakah saat kita lagi di pertengahan bulan ramadan, akhir ramadan, atau saat usai salat Idul Fitri, tak ada yang tahu.

Sungguh tak terasa kini kita berjumpa kembali dengan bulan suci, bulan di mana umat Islam berlomba-lomba mensucikan diri. Eh, memangnya umat Islam kotor? Bukan, bukan begitu maksudnya. Bulan suci alias bulan ramadan merupakan moment kita selaku umat Islam berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan.

Coba saja perhatikan, saat bulan ramadan tiba, semua umat Islam seolah disulap untuk menjadi lebih baik. Yang dulunya pelit, jadi rajin sedekah, yang dulunya emosian, jadi penyabar, yang dulunya acuh, jadi peduli (termasuk ana juga lho). Tapi gak papa lah yaa, sudah alhamdulillah kita mau berubah juga.

Indahnya ramadan tuh justru karena itu: orang-orang  berlomba untuk lebih baik. Belum lagi ketika mesjid dibanjiri orang-orang yang hendak melaksanakan salat tarawih, bahkan salat wajib pun jadi inginnya di mesjid terus. Majlis ilmu juga tiba-tiba membludak mustaminya, alunan ayat suci al-Quran banyak dilantunkan, seolah  menjadi nada simponi harian. Mabit-mabit digelar oleh lembaga dengan varian materi yang menarik, pesantren kilat yang diramaikan anak-anak, serta bunyi tatalu (bahasa apa tuh tatalu?) drumer yang membangunkan sahur, dan sejuta keindahan lainnya.

Tetiba terlintas pertanyaan dalam benak yang mengajak ikut berbincang: “Lantas, kamu mau jadi manusia model gimana di ramadan kali ini ?” Hayoooh, manusia setengah dewa kah? Atau manusia setengah malaikat? Intinya, di bulan ramadan ini kita harus ada tergetan.

Target. Is the meaning target? Target dalam kamus Inggris aim. Aim bisa berarti target, tujuan, bidikan atau maksud. Sedangkan pengertian target di KBBI adalah sasaran, batas ketentuan yang ditetapkan untuk dicapai. Simpelnya –biar kalian gak pusing-pusing lagi mikir-, target itu sasaran yang hendak akan kita capai. Target itu belum terwujudkan, tapi masih di dalam angan-angan.

Lalu, apa targetmu di ramadan kali ini? “Terserah, sih!” Semua bisa menentukan targetnya masing-masing, dan yang belum punya target, mari mempunyai target biar kita jadi orang yang –kata bahasa keren yang selalu dipakai motivator- visioner.

Dua tahun yang lalu tepatnya (24 Agustus 2016), saya dan kakak kelas saya pernah mengikuti kajian kristologi tentang kristenisasi. Saya masih ingat, waktu itu yang menjadi pemateri adalah Ustaz Insan LS Mokoginta. Ia adalah seorang mualaf yang dulunya seorang Kristen Protestan. Saya masih ingat betul perkataan beliau tentang salah satu penyebab kemurtadan, karena saya mencatatnya:

“Mengapa banyak umat Islam murtad? Salah satunya adalah karena umat Islam tidak pernah membaca terjemah al-Quran. Kebanyakan umat Islam hanya membaca ayat-ayatnya saja tanpa memahami artinya. Makanya baca terjemah al-Quran, kan al-Quran itu panduan hidup kita”, ungkap beliau dengan tegas. Tentu maksud beliau memerintahkan itu kepada kita-kita yang belum paham Bahasa Arab, dan masih perlu bantuan terjemah untuk mengetahui artinya.

Saya melongo, mengiyakan tapi sambil nyesek juga. Bener sih, kalau paham artinya, kita gak bakal dengan mudah dimurtadkan. Kita bakal bisa jawab pertanyaan-pertanyaan yang mencoba mengelabui. akidah (keyakinan) kita. Duh, saya dikit banget baca terjemah dan lebih sering tilawah Quran.

Saat kajian kemarin dengan Ustadzah Hj. Diah  di acara Cintai Al-Quran, Perbaiki Hijrah dan Jangan Murtad yang berduet dengan Ustadzah Hj. Irena Handono pun sempat disinggung bahwa umat Islam itu sudah memiliki petunjuk, tapi tidak mau menggunakan atau mengamalkan petunjuk itu. Ibarat bertanya resep masakan, tapi tidak dipraktikan. Kita sering khatam al-Quran tapi jarang atau belum pernah khatam terjemahnya.

Refleks, saat saya mikir-mikir dan mau bikin target apa selama ramadan, saya teringat pengalaman kajian tersebut. Saya jadi ingin mencoba dan menargetkan diri membaca terjemah al-Quran di bulan ramadan kali ini. Gimana mau jadi muslim sejati, sementara kita gak paham sama isi pedoman kita (al-Quran), pikirku -yang juga harusnya jadi pikirmu.

Saya pernah mencoba membandingkan, antara membaca al-Quran tanpa arti (tilawah) dengan membaca Quran disertai arti (terjemah). Dan hasilnya, membaca Quran disertai arti tuh rasanya seperti ada manis-manisnya gitu. Asli, beda banget. Saat baca terjemah tuh kaya ngerasain sensasi, mood broaster banget pokoknya deh.

Apalagi kalau lagi ada masalah, terus baca Quran, terus pas baca terjemahnya, bener-bener cocok dengan permasalahan yang sedang kita hadapi, terus ada solusinya lagi di situ. Wah, bener-bener kaya nemuin oase di gurun tandus pokoknya. Bayangin saja, kita lagi mumet-mumetnya karena ada masalah, tiba-tiba Allah ngasih kejutan lewat ayat-ayat-Nya berupa solusi atau jawaban yang menenangkan hati kita. Kebayang gak? Ah, kamu mah gitu!

Dulu saya pernah punya masalah yang kayaknya masalahnya tuh gak bisa selesai-selesai. Udah ikhtiar begini begitu, tapi tetap aja gak selesai. Eh, pas baca Quran terus ketemu ayat at-Talaq yang berbunyi “…wa man yattaqillaha yajalahu makhrojaa” yang artinya “…dan barang siapa yang bertakwa pada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”.

Air mata tuh langsung meleleh, seolah dikasih tahu: “kalau kamu jadi orang takwa, pasti Allah kasih solusi. Kamu udah ikhtiar, tapi masalah belum selesai bisa jadi karena ikhtiar kamu itu belum maksimal.”

Mudah-mudahan target tersebut bisa kita amalkan ya!, Akhi Ukhti sahabat Fillah. Saling mendoakan saja. 🙂

Tuliskan Komentarmu !