Taklim Online: Pesan Agama dalam Lanskap Digital Network

ridwan rustandi
Ilustrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Teknologi internet mengubah secara signifikan struktur interaksi manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Digitalisasi kehidupan manusia berlangsung secara cepat dan mudah melalui serangkaian kode digital yang membentuk masyarakat global. Yakni sebuah jejaring masyarakat yang terkoneksi dalam ruang mayantara virtual.

Umumnya, mereka disatukan oleh sebuah kepentingan dan terlibat secara bebas menyuarakan persepsi dan aspirasinya. Dunia dengan beragam dinamikanya, seolah berada dalam genggaman tangan dan masuk ke dalam lorong-lorong privasi setiap manusia yang terlibat.

Kemunculan teknologi digital yang belakangan menandai babak baru peradaban manusia, dapat dilihat dari tiga indikator utama. Pertama, velocity: sebuah kedalaman interkoneksi manusia dengan teknologi yang update dan beragam. Kedua, breadth and depth: sebuah kombinasi multiplisitas teknologi yang mengubah berbagai lini kehidupan manusia. Ketiga, systems impact: adanya transformasi sistem masyarakat, industri dan negara (Schwab, 2016).

Ketiga indikator tersebut yang membawa perubahan mendasar dan sistemik dalam ruang lingkup kehidupan manusia. Sehingga, ada pergeseran otoritas dari sebuah state ke pelaku personal, dari sebuah institusi kedalam sebuah jaringan.

Digital Network, Network Society

Manuel Castells (1996) menamai lanskap sosial baru ini sebagai masyarakat jaringan (network society). Dalam pandangannya, sebuah masyarakat jaringan terbentuk bukan untuk menghilangkan jaringan sosial yang terjadi secara tatap muka, melainkan juga memperkuatnya.

Masyarakat jaringan diperantarai oleh saluran teknologi internet sehingga tercipta konektivitas antar satu bagian dengan bagian lainnya. Internet membentuk sebuah ruang publik baru yang dikenal dengan sebutan cyberspace. Ruang ini menjadi saluran komunikasi yang diibaratkan seperti sarang laba-laba yang saling mengikat. Ruang ini pula yang perlahan meruntuhkan sentralisasi kekuasaan dalam hierarki institusional seperti negara.

Modal utama masyarakat jaringan adalah teknologi digital. Feldman (1997) mendefinisikan teknologi digital sebagai teknologi yang dapat dimanfaatkan, dimanipulasi dan terhubung dengan jaringan yang padat dan imparsial. Schwab (2016) menilai bahwa teknologi digital masuk ke dalam lorong-lorong privasi kehidupan manusia dan menciptakan masyarakat yang hyper-connected.

Koneksi digital (digital network) dalam lingkup masyarakat jaringan ini berlangsung hampir di semua sendi kehidupan, dari mulai aktivitas sosial dalam jaringan virtual, transaksi ekonomi secara online, sharing informasi dan pendidikan, deteritorialisasi budaya yang serba bercampur dan mengarah pada homogenitas, reorganisasi dan perubahan budaya organisasi, kebebasan berpendapat dan berpartisipasi secara politik, sampai dengan perubahan paradigma beragama seperti transmisi pesan agama, institusi agama dan cara beragama.

Pada akhirnya, koneksi digital dalam masyarakat jaringan membentuk budaya baru yang serba digital (digital culture). Dalam konteks agama, budaya digital dapat muncul dalam beberapa dimensi.

Pertama, dalam dimensi institusi agama. Dimensi ini mensyaratkan adanya representasi nilai-nilai agama dalam sebuah pranata keagamaan dalam ruang-ruang digital. Kemunculan situs dan kanal digital organisasi keagamaan menunjukkan adanya budaya digital dalam institusi agama.

Kedua, dalam dimensi ritual. Dimensi ini menunjukkan adanya cara beragama yang direpresentasikan dalam ruang-ruang virtual. Kemunculan online religion menunjukkan adanya cara baru dalam beragama.

Ketiga, dalam dimensi literasi agama. Dimensi ini dapat dilihat dari animo mencari informasi seputar keagamaan melalui media digital. Religion online adalah sebuah fenomena literasi agama, dimana ajaran-ajaran agama disampaikan dengan memanfaatkan teknologi digital baik dalam bentuk narasi, animasi, video, desain grafis, maupun secara streaming.

Koneksi Beragama Dalam Jaringan

Maraknya kajian-kajian keagamaan yang dilakukan secara online menunjukkan adanya ruang transmisi baru dalam proses dakwah Islam. Pesan-pesan keagamaan disampaikan tidak hanya menggunakan media konvensional, tetapi juga merambah memanfaatkan teknologi digital.

Fenomena taklim online dapat didefinisikan sebagai sebuah upaya dakwah keislaman yang direpresentasikan dalam ruang digital, baik melalui situs keislaman, video dakwah, animasi dan desain grafis maupun secara streaming. Fenomena ini menandakan geliat literasi keagamaan yang tidak bisa dibatasi oleh ruang fisik, dan dapat terhubung secara global.

Transmisi keagamaan yang disampaikan dalam ruang virtual dapat disebut pula dengan istilah cyberdakwah. Yakni sebuah proses penyampaian pesan dakwah yang terhubung melalui teknologi digital dan membentuk jaringan dakwah digital (Rustandi, 2019).

Cyberdakwah baik dalam bentuk tabligh, taklim, dzikir dan do’a yang diperantarai media internet menandakan adanya koneksi beragama dalam sebuah jaringan. Fenomena ini sebagai sebuah konsekuensi dari adanya koneksi digital dan masyarakat jaringan.

Kreativitas juru dakwah dalam memanfaatkan teknologi digital akan mempengaruhi sudut pandang muslim dan non-muslim dalam mencitrakan Islam sebagai sebuah agama dan keyakinan. Kemunculan situs-situs keislaman, kanal youtube dakwah, aplikasi dakwah, media sosial dakwah, dan lain-lain adalah wujud koneksi beragama dalam jaringan masyarakat digital.

Hal ini dapat dipandang sebagai sebuah cara baru dalam menarasikan Islam sebagai agama universal sekaligus mengkonstruksi citra Islam sebagai sebuah ajaran agama yang mencintai perdamaian, kemanusiaan dan berorientasi dalam membangun peradaban.

Islam adalah agama universal yang menghubungkan semesta. Koneksi Islam adalah koneksi global dalam jaringan kemanusiaan

Tuliskan Komentarmu !