Tak Ada Ramadhan yang Sama

Ilustrator by: Fahlila

SAVANA- Kemarin, di linimassa saya penuh dengan keluh kesah, jika ramadhan kali ini terasa benar-benar berbeda. Tak bisa shalat terawih berjamaah di mesjid, tak bisa tadarus bersama di mesjid, atau tak bisa ngabuburit dengan jalan-jalan sambil mencari takjil saat hendak menjelang magrib. Semua bermuara pada persoalan yang sama, yakni karena kabijakan pemerintah yang mengharuskan #diamajadirumah untuk menahan penyebaran virus corona.

Memang tak semua daerah bernasib sama. Ada yang sudah sangat ketat pengamanannya, ada juga yang masih longgar. Di daerah saya misalnya, di Garut Selatan, pembatasan masih cukup longgar, karena masih termasuk zona hijau. Dampak penyebaran virus corona yang dirasakan warga sini hanya berupa susahnya menjual hasil tani, karena memang pasar-pasar sudah sangat dibatasi, dan naiknya beberapa harga pokok makanan.

Jika ramadhan kali ini dirasakan sangat berbeda, jelas iya, tapi memang tak ada ramadhan yang sama.

Tiap tahun kita memiliki polemik yang berbeda, entah polemik dari luar diri kita sendiri, atau polemik di dalam diri. Polemik di luar diri misalnya tahun lalu, isu intoleransi yang tak henti-hentinya diperdebatkan, atau tahun lalunya lagi, tentang makin maraknya para artis wanita yang pakai-copot hijab, hingga kita yang merasa paling beriman, gatal untuk ikut berkomentar.

Tentu hal-hal semacam itu mudah kita lupakan, kejadian-kejadian besar di luar sana, saling tindih setiap harinya memenuhi ingatan kita. Tapi ada hal yang lebih kita pedulikan, yakni keadaan perasaan kita sendiri.

Kita masih ingat bagaimana perasaan kita sewaktu anak-anak, saat siangnya minum air di sungai, tapi waktu pulang ke rumah seperti orang yang paling kelaparan. Kita masih ingat bagaimana perasaan saat ikut reuni sekaligus buka bersama dengan teman seangakatan, lalu bertemu mantan atau gebetan tapi dianya udah punya gandengan. Kita juga masih ingat, saat tahun lalu berdoa dengan penuh harap agar ramadhan berikutnya bisa dilewati dengan pasangan, tapi nyatanya tahun ini masih saja sendirian. Hmmm~ curhat.

Ingatan-ingatan semacam itu semoga bisa mempertegas bahwa memang tak ada ramadhan yang sama. Kita bukan yang dulu lagi.

Jika yang dikeluhkan tak bisa shalat terawih berjamaah di mesjid, bukan kah dulu juga kita merasa malas untuk menyegerakan shalat terawih, karena perut masih terlalu kekenyangan? Kalau di rumah, kan bisa dilobi dulu si Ayahnya, agar mulai shalat terawihnya jam 8 malam aja.

Kalau yang dikeluhkan soal gak bisa jalan-jalan sambil cari untuk takjil, ya itu memang kesenangan yang sulit digantikan. Terkadang kita pun harus mengakui, jika diam di rumah itu emang amat membosankan, tentu agar kita bisa mensyukuri arti dari kebebasan.

Tapi cobaan ini mungkin belum seberapanya jika dibanding dengan para sahabat yang mesti melakukan peperang di bulan ramadhan. Sebut saja Perang Badar, Perang Khandaq atau Perang Tabuk. Jika kita disuruh memilih, ingin melewati ramadhan kali ini dengan diam aja di rumah atau ikut berperang? Ya mending pilih diam di rumah aja, ya kan?

Kita mah emang gitu, sudah dikasih pilihan yang sebenarnya agak enakan dikit, walau kadang bikin jengkel juga, tapi masih aja suka ngeluh dan protes. Hadeeuuh.

Jika ramadhan kali ini dirasakan berbeda, jelas iya, tapi memang tak ada ramadhan yang sama

Tuliskan Komentarmu !