Tahun Barunya Dirayakan, tapi Kalendernya Tidak Jadi Ukuran

liburan
Sumber gambar: travel.co.id

SAVANA- Sebelumnya, saya mohon maaf atas judul yang sinis ini. Bukan mau membahas boleh tidaknya merayakan tahun baru, tapi ya Mbok, kalau mau mengagungkan, dipakai juga kalender Hijriahnya sebagai ukuran waktu, jangan cuma bulan puasa sama lebaran saja yang kita tahu. Jangan-jangan, tidak tau lagi nama-nama dalam bulan Hijriah ada apa aja? Ayo, coba dites!

Allah s.w.t tidak semata-mata bikin nama bulan itu sembarangan, tentu ada maksudnya. Sesuai firman Allah s.w.t dalam surat At-Taubah ayat 36.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 36).

Nah, kenapa kita juga harus memperhatikan bulan Hijriah? Karena bulan Hijriah erat kaitannya dengan ibadah-ibadah yang akan kita lakukan. Semua ibadah itu fiil atau kata kerja, yang artinya terikat dengan waktu. Dan waktu yang ada di sisi Allah s.w.t itu adalah bulan Hijriah sebagaimana dijelaskan ayat di atas.

Contoh ibadah-ibadah yang terikat dengan waktu bulan Hijriah selain shaum Ramadhan, Idulfitri dan Iduladha, di antaranya: shaum Tasu’a Asyura (tanggal 9-10 Muharram), shaum Ayyamul Bidh (tanggal 13,14,15 dalam setiap bulannya), Wukuf di Arafah, dan masih banyak lagi.

Nah, kalau kita tidak biasa pakai kalender Hijriah, kita tidak akan tau jadwal-jadwal ibadah tersebut. “Ah, ntar juga ada yang posting,” bisikmu. Iya, klo bener. Nah kalau setiap hari ada yang BC: “Malam ini 1 shafar, maka kita harus sholat 1000 kali, istighfar 1000 kali, barangsiapa yang menyebarkan akan mendapat pahala 1000 derajat, jika berhenti di anda, maka anda akan masuk neraka,” dan bla bla bla.

Terus karena kita tidak tau dan enggang mengonfirmasi karena tidak paham kelender Hijriah, terus kita mengamalkan anjuran tersebut karena kita percaya saja malam itu 1 shafar padahal itu bulan Rajab misalnya, nah, ngapain eloh?

Sebetulnya bukan hanya kalender Hijriah saja yang ada kaitannya dengan ibadah, bulan Masehi juga gitu. Ada tanggal-tanggal yang ditetapkan untuk pelaksanaan ibadah, cuma bukan ibadah kita (umat Islam).

Perlu juga sih kita pakai kalender Masehi. Sebagai warga negara yang baik, ya buat ikutan merayakan hari-hari bersejarah gitu, atau ya buat nandain liburan juga. Tapi sekali lagi, ya dipake lah kalender Hijriahnya, jangan cuma dirayain doang.

Nah, kalau ada yang butuh kalender Hijriah, silakan beli saja kepada saya, saya juga menyediakan -lha, ujung-ujungnya jualan juga kan!.

Nggak kok, asli, suer, saya cuma mau mengingatkan saja, kalau sudah dirayakan, Mbok kalender Hijriahnya dipake juga. Jangan sampai pas ditanya:

“Eh, Elu ngapain tadi malem?”

“Tahun baruan Hijriah”

“Emang tanggal berapa sekarang?”

“11 September 2018”

Ya elah, nyebut 1 Muharam 1440 Hijriah aja kagak becus. Pokoknya, #2019GantiKalender1440H.

Udah, gitu aja.

Baca Juga: Shaumnya Seorang Komunis

Tuliskan Komentarmu !