Susahnya Mendapatkan Pekererjaan Bisa Bikin Budak Passion Mundur Teratur

Sumber gambar: locita.co

SAVANA- Dalam curahan hati ini, yang dimaksud para budak passion adalah saya dan kawan saya—dan juga kamu-kamu yang merasakan hal sama. Sebagai seorang fresh graduate yang betul-betul masih segar, langkah selanjutnya tentu saja mendapatkan pekerjaan agar diri ini dapat berhenti jadi tidak produktif dan bermalas-malasan di rumah.

Sayangnya, dilema anak-anak yang baru lulus biasanya adalah antara memilih pekerjaan yang sesuai passion atau hantam lowongan apa saja yang sedang buka. Antara menunggu lowongan yang pas atau sebar surat lamaran ke seluruh penjuru tempat layaknya jurus shuriken jutsu ala anime. Wuss… Wuss… Wuss. Tancap!

Nah, tampak kejamnya dunia persaingan kerja betul-betul baru menghantamku dengan sadisnya beberapa hari belakangan ini. Semula aku masih berpegang teguh, bahwa aku ingin jadi wanita sukses yang berkarir sesuai passion. Pantang menyerah meski menemui beragam hambatan. Toh seluruh orang sukses yang aku baca kisahnya di buku atau malang-melintang di TV selalu yakin dengan kemampuan sendiri.

Tetapi tinggal di kota yang dijuluki sebagai salah satu kota termahal di Indonesia ini perlahan menyadarkanku kalau … aku salah. Ya, salah besar! Aku mengira setelah lulus aku langsung bisa jadi jurnalis karena meski latar belakang pendidikanku adalah kesehatan masyarakat, aku percaya diri sekali bisa jadi wartawan. Kenapa? Ya, karena jadi wartawan biasanya nerima semua jurusan. Aku juga suka nulis.

Aku begitu semangat belajar mempelajari jurnalistik dasar lewat pelatihan daring salah satu media tersohor di Indonesia, lewat buku-buku, sampai rela mau beli buku bekas yang menjadi bacaan wajib anak-anak jurnalistik yang juga diterbitkan oleh media terkenal itu. Pokoknya aku yakin sama passion akuh gitu lho.

Tiba-tiba suatu hari aku bermain di situs pencari kerja dengan fokus mencari lowongan jurnalis. Eh, nyangkut satu! Tapi di Jakarta. Duh, pengen banget ikut tes tertulisnya. Perusahaan BUMN pula. Namun orangtua tidak mengizinkan. Mau wisuda butuh biaya gede, bayar ini-itu.

“Kalau kamu sudah pasti bakal diterima pasti Ibu izinkan. Kan sayang uang kalau ujung-ujungnya gagal,” kata Ibu berusaha memberi pengertian.

Aku sih terima-terima saja karena memang butuh uang tak sedikit buat ke Jakarta. Meski begitu, aku nggak memungkiri kalau ada semacam nafsu untuk membuktikan diri sampai sejauh mana kira-kira aku akan berhasil andai bisa mencobanya.

Kenapa aku sampai kirim lamaran ke luar kota? Ya, karena di Kota Balikpapan yang anaknya gaul-gaul ini minim media. Media yang ada pun belum tentu sedang butuh jurnalis baru. Sudah melamar ke salah satu stasiun TV daerah pun sampai kini tidak dipanggil. Memang aku yang salah sih, sok-sok mengirim padahal buat jadi VJ (video journalist) butuh pengalaman jadi wartawan bertahun-tahun karena tugasnya seabrek. Aku saja yang naïf berharap CV-ku dapat menarik perhatian mereka.

Rasanya hati ini sedih setiap melihat lowongan kerja yang wara-wiri di linimasa. Kok di Jakarta lagi? Kok di Yogjakarta lagi, sih? Kok kudu di Surabaya? Dan keinginan untuk hijrah ke luar kota pun terhalang restu orang tua. Tetapi kalau dipikir memang buat apa kerja di luar kota kalau gajinya habis buat transportasi, bayar kos, dan makan doang? Kapan bisa nabung?

Setali tiga uang denganku, nasib kawan lamaku ini juga tidak jauh beda. Dia anak yang pintar, ramah, dan suka bisnis. Latar belakang pendidikannya pun memang bisnis, lulusan universitas swasta ternama di Surabaya. Saat aku sedang sibuk mengurus skripsi yang tertunda sekian lama, dia sudah jadi manajer kafe kopi di salah satu tempat nongkrong paling hits di kota. Tempat berbagai usaha makanan dan minuman berjejer, berlomba buat dapat pelanggan. Sedihnya, kafe temanku -sebenarnya punya ayahnya dan teman ayahnya- tidak bisa lagi ikut bersaing.

Suatu senja, kami memutuskan untuk pergi ke Kampung Atas Air. Tempat ini jadi andalan kita buat duduk-duduk manis sambil melihat kilang Pertamina di seberang dan langit jingga di atas laut. Memang kadang air lautnya mengeluarkan bau khas yang menusuk hidung. Kalau sedang tidak pasang, keadaan sebenarnya pun terungkap: banyak sampah di kolong jembatan dan rumah warga. Karena kita memang doyan berkisah dan kalau nongkrong di kafe harus mengeluarkan uang, maka tempat itu cukup ideal.

Aku tanya ke dia tentang rencana masa depannya setelah usaha kafe tersebut bangkrut. “Kamu masih mau kejar passion kamu jadi pebisnis?”

Setelah dia tidak lagi bekerja di kafe, dia menerima pesanan mahar dan kartu undangan. Dia sempat mengaku pengen punya wedding organizer. Dia suka mengatur dan jago desain. Aku ikut senang mendengar dia menyukai apa yang dia lakukan. Makanya ketika bertemu lagi, aku jadi penasaran.

Wajahnya tidak menunjukkan keceriaan orang yang akhirnya menemukan sesuatu yang selama ini dia cari. Keadaannya waktu itu sama dengan keadaanku sekarang, jadi dewasa itu memang berat dan butuh tanggung jawab. Jadi budak passion memberi tekanan batin tersendiri, apalagi ke orangtua yang sudah menguliahkan kita.

“Ibuku suruh aku cari kerja. Ya, kalau ada yang pesan kartu undangan atau mahar tetap kukerjakan, tetapi bukan jadi fokus utamaku. Eh, kamu tahu nggak sih di Balikpapan ini susah buanget cari kerja? Tiap buka loker adanya admin mulu admin mulu,” katanya.

Dia tidak malu-malu berkata padaku kalau terpaksa dia mengirim lamaran ke semua tempat meskipun sebenarnya bukan apa yang dia inginkan, termasuk admin. Padahal yang aku tahu, kebanyakan tempat yang membuka loker admin hanya membutuhkan pendidikan terakhir SMA/sederajat. Sedangkan kami berdua adalah sarjana.

Temanku yang sudah kukenal dari SD itu bilang, uang tabungannya menipis sekali. Bagaimana dia menyediakan modal usaha kalau itu semua habis? Bekerja memang menjadi satu-satunya jalan.

Saat itu aku belum mengerti ketika dia bilang kalau peluang kerja justru terbuka lebar untukku yang lulusan kesehatan masyarakat.dengan peminatan K3. Katanya, rata-rata perusahaan di Balikpapan sering mencari orang K3. Karena aku masih jadi budak passion, aku malah mengabaikan kata-kata dia. Dia tersadar lebih dulu daripada aku.

Sekarang, setelah aku merasakan sendiri susahnya mencari pekerjaan sesuai passion di kota ini, aku jadi berpikir untuk menggunakan latar belakang pendidikanku dalam mencari pekerjaan dan jadi orang yang nggak muluk-muluk. Yah, kalau suatu saat nanti ternyata aku beneran jadi wartawan, bagus juga. Tetapi menjadi tenaga kesehatan masyarakat atau ahli K3 gajinya lebih besar. Intinya sih passion tetap jalan namun jangan mau diperbudak. Lagipula nulis di mana saja kan bisa, ya nggak?

Tuliskan Komentarmu !