Subuh Tak Pernah Salah

Ilustrator by anandastoon.com

Menjadi marbut tidak akan serumit ini jika aku bukan Arif yang sejak sembilan tahun lalu memutuskan untuk tak lagi bangun Subuh. Rambut gondrong dan jeans belel bisa dimaklumi Pak Umar, Ketua DKM. Tetapi, tak pernah bangun Subuh, tidak mengumandangkan azan, bahkan absen salat Subuh berjemaah sejak hari pertama bertugas adalah cela yang sulit dimaafkan.

Hidupku berlangsung wajar dan tak terusik hingga Sabtu dua pekan kemarin ketika ibu kos memintaku mengosongkan kamar. Aku telah menunggak uang kos selama tiga bulan sehingga sesuai perjanjian posisiku harus digantikan oleh penghuni lain yang siap membayar. Sialnya, aku tidak punya teman dekat yang bisa kutumpangi barang sebulan. Meminta uang pada pakde pun tak berani karena beliau sudah membantu biaya kuliah yang tidak sedikit.

Semua itu gara-gara para murid sekolah dasar dan menengah yang satu per satu berhenti les privat padaku. Mama mereka bilang katanya tidak mampu lagi membayar jasaku. Herannya, mereka minta berhenti dalam bulan yang sama, seperti sudah janjian. Praktis aku tidak punya penghasilan untuk membayar sewa kos.

Untunglah, seorang teman sekelompok skripsi memberiku solusi. Ia mengenalkanku pada ketua DKM sebuah musala di dekat rumahnya. Kebetulan beliau sedang mencari marbut karena marbut sebelumnya pulang kampung. Temanku bilang, sambil mengumpulkan uang untuk membayar uang kos, aku bisa tinggal gratis, bahkan dibayar dan mendapatkan calon murid baru: anak TPA musala tersebut.

Sebetulnya itu peluang yang sangat menggiurkan. Meskipun aku sadar menjadi marbut akan menyulitkanku. Sayangnya, aku tidak punya pilihan sehingga aku menyetujui usulnya. Aku berjanji dalam hati akan segera pergi jika sudah punya uang untuk indekos lagi. Namun, sepertinya rencanaku akan buyar karena Pak Umar lebih dulu datang menemuiku. Firasatku mengatakan beliau akan menegurku soal bangun Subuh itu.

“Seandainya kamu bukan marbut musala ini pun saya akan tetap mengingatkan untuk salat Subuh berjemaah. Sebab, pahalanya seperti salat semalaman. ” terang Pak Umar setelah panjang lebar mengungkapkan maksud kedatangannya. Aku mengangguk, mengamini petuahnya meski perut mulai perih. Agaknya stress mulai menyerang.

“Apalagi jika ditambah salat sunah sebelum Subuh, pahalanya lebih baik dari dunia dan seisinya.” lanjutnya.

Aku kembali mengangguk sambil berusaha tersenyum. Pelajaran tentang keutamaan waktu Subuh telah kukhatamkan ketika duduk di sekolah dasar islam.

“Bangun pagi itu menyehatkan badan. Kata orang tua, yang bangun pagi itu yang akan dapat rezeki. ”ujarnya seraya terkekeh. Meskipun cemas, kucoba untuk tetap  menanggapinya dengan antusias.

” Jadi, mulai besok bisa bangun Subuh, kan?”

Aku terkesiap. Darahku berdesir mendengar tuntutan yang terdengar sulit untuk kupenuhi. Kurasakan pergantian suhu tubuh yang begitu cepat, dari hangat menjadi dingin, kemudian menghangat lagi.

“Nak Arif?! Kenapa pucat begitu? Nak Arif sakit?”

Cepat-cepat kumenggeleng. Tangan kiriku spontan menutup mulut agar mual yang tiba-tiba menyerang tidak menjadi muntah. Ya Allah, secepat inikah perpindahan takdir? Tak ada yang mengusik kehidupanku sebelumnya. Tak ada yang pernah mempersoalkan jam berapa aku tidur dan bangun, alasan kenapa aku melakukannya, hingga kemarin. Sekarang, dalam hitungan jam aku harus membuka semua yang sudah kututup rapat sejak sembilan tahun lalu.

Tanpa dapat kucegah, setiap tarikan napas menjadi deru. Keringat dingin bertonjolan memenuhi wajah. Bayangan Subuh yang gelap, sepi, dan dingin itu hadir kembali di tengah siang bolong. Pendar cahaya senter di Subuh kala itu berkelebatan di ruang memori.

Tidak, Ya Allah! Tolong aku! Jangan sekarang!  batinku.

“Nak Arif! Kenapa kamu, Nak?” tanya Pak Umar panik.

Aku tak menjawab lagi karena setelah itu tubuhku limbung memeluk bumi.

Aku tak membenci Subuh, aku hanya tak ingin bertemu dengannya. Bertahun lamanya aku berusaha hidup tanpa terjaga di waktu Subuh dan selalu bangun selepas pukul enam ketika mentari mulai mengumbar pendar.

Semula aku sangat menikmati udara segar Subuh, kecipak air wudhu yang memecah hening, bahkan kokok ayam jantan yang bertasbih melihat malaikat turun ke bumi. Namun, itu dulu ketika masih ada ayah yang menuntunku menuju masjid untuk salat jemaah.

Subuh kala itu adalah saat terindah waktu ayah berkisah tentang para sahabat Rasulullah. Ayah kerap menyiram jiwaku dengan petuah. Katanya, jangan pernah melewatkan waktu sebelum dan sesudah Subuh, sebab ia waktu yang istimewa. Kesuksesan dan kemudahan hidup bergantung pada kedua waktu tersebut.

Aku tak membenci Subuh, justru aku merindukannya seiring rindu pada ayah. Malangnya, di kala Subuh lah Allah mengambilnya. Tidak hanya dia, tetapi juga ibu, dan dua adik dibawanya serta.

Subuh sembilan tahun silam itu, ketika kokok ayam jantan mengiringi kelebat Izrail yang membawa jiwa keluargaku, aku terbangun dari lelap yang terasa lebih dalam dari biasanya. Rupanya, bukan lelap karena tidur, melainkan karena pingsan akibat benturan di kepala saat mobil yang dikemudikan ayah menabrak pembatas jalan.

Seandainya aku tahu malaikat yang baru saja berlalu adalah para pencabut nyawa, akan kukejar dan memohon pada mereka agar mengembalikan jiwa-jiwa yang digenggamnya. Tetapi, dalam kesadaran yang belum penuh, aku hanya bisa menerka-nerka tentang apa, di mana, dan kenapa aku ada di tempat itu. Ngilu dan perih di wajah dan kaki membuatku sadar bahwa telah terjadi sesuatu.

Yang kuingat, sebelumnya aku terkantuk-kantuk diiringi suara ayah menguap berkali-kali. Ia pasti sangat kelelahan setelah sebelas jam berkendara dari Surabaya. Di Tegal, ayah berbelok menuju kampung ibu untuk singgah sebelum melanjutkan ke Jakarta. Aku rasa karena terlalu penat, ayah terlelap beberapa detik, kehilangan kendali, sehingga mobil menerjang pembatas jalan, lantas berguling dan terbalik di ladang jagung.

Menyadari tubuh tak lagi berada di kursi mobil, otakku mulai menganalisa. Hening, hanya jerit jangkrik dan sayup azan di kejauhan. Sisa hawa malam membuatku menggigil, desau angin menampar wajah seolah mengabarkan bahwa ini realita. Kutengadahkan kepala, langit masih meriah oleh gemerlap bintang. Sayang,  cahayanya tak cukup untuk melihat.

Sesuatu telah terjadi. Dengan pikiran tak menentu, kucari handphone di saku untuk dijadikan senter. Pendar cahaya berlarian tak tentu arah karena tanganku begitu gemetar. Pelan tetapi pasti hati mulai dirasuki takut. Bagaimana jika ayah, ibu dan saudaraku ternyata tak selamat? Dalam kepanikan dan kesakitan, aku mulai merangkak, mencari.

Kemudian, detik selanjutnya adalah detik yang membuatku tak pernah lagi ingin melewati waktu Subuh. Detik ketika kulihat ayah dan ibuku terkulai lemah tak bernyawa dengan wajah basah oleh darah.

Kuletakkan amplop putih di atas nakas tepat di samping kasur lantai. Aku memutuskan untuk pergi. Aku yakin esok Subuh Pak Umar akan segera menyadari ketiadaanku dan menemukan surat itu. Dan, meskipun aku tak tahu hendak kemana, aku merasa lega telah memberi keputusan terbaik, setidaknya untuk saat ini.

Aku tak pernah membenci Subuh. Subuh tak pernah salah. Meskipun Subuh bagiku berarti dua wajah yang bermusuhan: antara kegembiraan menuju masjid bersama ayah dengan kepiluan akan kehilangan sosoknya selamanya.

Subuh tak pernah salah, akulah yang menyerah dan kalah. Kelak aku yakin akan memenangkan pertarungan ini, bukan karena aku seorang marbut, tetapi karena aku hamba Allah yang selalu terpaut pada rumah-Nya meski tak lagi berada di bawah naungan masjid.

Ya, mungkin aku sakit dan butuh waktu untuk sembuh. Itu sebabnya…

Saya pinjam Al-Quran. Harap maafkan saya dan terima kasih atas semua kebaikan Pak Umar. Salam, Arif.

Tuliskan Komentarmu !