Strategi Unggul di Era Industri 4.0

revolusi industri

SAVANA- Revolusi industri berdampak besar bagi kehidupan manusia, terutama dalam proses produktifitas bisnis. Berawal dari revolusi industri 1.0, yang menjadi awal sejarah ketika tenaga manusia dan binatang digantikan oleh mesin. Yaitu kemunculan mesin uap pada abad ke-18 membawa perubahan pertumbuhan ekonomi dunia yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Tidak sampai disitu perubahan-perubahan terus terjadi akibat inovasi, lahirlah revolusi industri 2.0, yang ditandai dengan hadirnya tenaga listrik dan mesin motor pembakaran (combustionchamber). Penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon dan kendaraan.

Revolusi industri 3.0 ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet. Proses revolusi industri ini kalau dikaji dari point of view sosiolog Inggris David Harvey, adalah sebagai proses pemadatan ruang dan waktu. Ruang dan waktu semakin terkompresi. Hal ini mengubah gaya komunikasi masyarakat kontemporer, dan perusahaan lebih memilih mesin dibandingkan tenaga manusia karena dianggap lebih cepat dan efisien.

Hari ini kita berada pada revolusi industri 4.0, lebih dari sekedar perubahan teknologi digital dan internet pada revolusi 3.0, revolusi ini mengintegrasikan teknologi dan artificial intelligence atau cyber-physical system yang terdiri dari mesin pintar, sistem penyimpanan dan fasilitas produksi yang mampu bertukar informasi secara mandiri, dan memicu tindakan dan mengendalikan satu sama lain secara independen. Sehingga munculah robot-robot pintar yang perlahan sudah menggantikan peran manusia dalam produktivitas perusahaan.

Dengan begitu, revolusi 4.0 menciptakan disruptive era dalam kehidupan manusia, terutama sektor bisnis. Bukan lagi perusahaan besar akan menggilas perusahaan kecil, tapi perusahaan cepat yang akan menggilas perusahaan lambat, dalam hal ini adalah kemampuan perusahaan untuk cepat beradaptasi dan berinovasi.

Revolusi ini membawa tantangan baru bagi pelaku bisnis. Berikut adalah hal yang akan terjadi akibat revolusi industri 4.0; cepat atau lambat bahan bakar minyak (BBM) akan shifting ke electricity, mesin ATM akan sulit ditemukan lagi karena semakin masifnya less money, di tahun mendatang manusia tidak lagi membutuhkan obat didukung oleh penelitian GSK dan Varily yang berhasil menemukan obat-obatan bioelektronik, tenaga manusia digantikan oleh robot, dan tren workfore yang berubah.

Untuk dapat unggul dalam industri 4.0, Sumber Daya Manusia (SDM) harus memiliki kualitas yang baik dalam beradaptasi dan berinovasi. Mental karyawan as a follower harus mulai ditinggalkan, karena dengan mental karyawan inovasi tidak akan tercipta. SDM saat ini harus memiliki mental owner, yaitu mental atas rasa kepemilikan yang tinggi sehingga dapat melahirkan tanggung jawab terhadap perkembangan sebuah bisnis atau perusahaan tempat ia bekerja. Untuk mewujudkan SDM dengan mental owner, setiap individu harus memiliki softskill dan hardskill yang baik, dengan begitu akan tercipta sebuah inovasi dan unggul dalam persaingan di era industri 4.0.

Bagi generasi millenials, ini merupakan sebuah peluang besar, karena industri 4.0 selaras dengan lahirnya generasi Y atau millenials, yang otomatis generasi ini akan siap menirima perubahan teknologi yang cepat. Namun ada strategi agar bisa unggul di era industri 4.0, yaitu dengan memahami stock of knowledge yang dibutuhkan pada industri 4.0. Berikut adalah enam strategi atau knowledge yang harus dimiliki:

  1. Virtual collaboration

Kemampuan kolaborasi menjadi kunci utama agar dapat bersaing dengan cepat, sehingga produktifitas dapat terwujud. Saat ini kolaborasi tidak terbatas ruang dan waktu.

  1. Cognitive load managemnt

Kemampuan dalam membedakan dan menyaring informasi untuk kepentingan.

  1. Computation thinking

Kemampuan dalam memahami dan menerjemahkan data dalam konsep abstrak.

  1. Design mindset

Kemampuan untuk merepresentasikan dan mengembangkan tugas dalam proses kerja untuk hasil yang diinginkan.

  1. Social intelligence

Kemampuan untuk merasakan dan mensimulasikan reaksi dan interaksi terhadap apa yang diinginkan.

  1. Adaptive thinking

Kecakapan berfikir dengan solusi, dan mampu untuk menentukan makna yang lebih dalam terhadap apa yang sedang diekspresikan.

Baca Juga: Desa dan Ironi Revolusi Industri 4.0

Tuliskan Komentarmu !