Sok Menjadi Pengamat Politik

sumber gambar: toptime.co.id

Pencalonan presiden dan wakil presiden baru saja ditutup, dan media sosial mulai riuh memperbincangkannya.

Adalah Pak Kosim dan Pak Sahlan yang ikut-ikut berkomentar dengan urat tegangnya, sampai-sampai mereka harus memesan kopi lagi karena perdebatan mereka di warkop itu belum usai.

“Kita diajarkan untuk menghargai sejarah, menghormatinya; lah dalam sejarah kita kan banyak ulama yang masuk parlemen, berjuang di sana. Ingat, sila pertama itu kan hasil ulama kita yang berjuang di istana.” Ujar Pak Sahlan yang tadi pagi baru saja mencacar kebunnya karena banyak ilalang.

“Ya tapi mereka dulu kan masih muda-muda, semangat perubahannya tinggi. Saya hanya khawatir, tenaga beliu tak sekuat impiannya.” Jawab Pak Kosim yang baru pulang mengantar istrinya belanja ke pasar.

“Ah kau ini hanya mengurusi perasaanmu sendiri! Dia yang akan menjalani, kok kamu yang mesti khawatir. Dia berani maju berarti dia merasa dirinya sanggup. Gitu aja kok repot. Yang muda-muda sekarang juga belum tentu lebih sanggup dari dia.” Timpal Pak Sahlan.

“Tapi kan nanti urusannya lain, Lan. Yang dia urus itu nantinya tata negara, bukan kebijakan. Kita pernah memiliki tata negara yang baik, yakni M. Hatta. Apa dia sanggup menjadi penerus M. Hatta, Lan?”

“Kalau kita memaksakan sosok calon pemimpin atau wakil pemimpin yang ideal, tak akan ketemu, karena pikiran beda dengan kenyataan.” Ujar Sahlan yang lalu meneguk kopi hitamnnya.

“Memilih pemimpin itu harus seperti mencari pasangan,” sela Isan yang baru pulang dari sekolah. “lihat matanya, lalu rasakan detak jantungmu. Hahaha.”

“Dasar abege picisan!”

***

“Muda, ganteng, tajir, gesit, masuk pada golongan milenial. Oke juga.” Ujar pemudi yang sedang jatuh cinta.

“Apa itu cukup untuk menjadi wakil presiden?” jawab pemuda yang sedang putus cinta.

“Ya tidak juga, sih! Tapi yang pasti lebih baik dari yang sebelah.”

“Lebih baik dari mananya?”

“Usia, tenaga, modal kampanye, emhhhh, itu.”

“Cuma itu doang?”

“Oya satu lagi, lingkungan. Bagaimana pun ia diusung oleh beberapa parpol Islam.”

“Hahaha, cuma diusung! Yang sebelah kan sudah jelas-jelas ulama.”

“Tapi lingkungannya bosque, mengerikan!”

“Kalau takut kotor, diam saja di rumah, tak usah main keluar. Dan yang kotor akan tetap kotor kalau didiamkan, tidak dicuci.”

“Ngomong apaan sih Qaqaks, sedang galau ya?”

***

Mari kita mulai pembicaraan yang agak benar-benar ngepolitik.

Masih ingat kan daftar pemilih tetap (DPT) untuk pemilu 2014? Kalau lupa, saya carikan dulu di google, dan hasilnya adalah: 185.826.024 suara. Sedang suara yang sah ada 124.972.491, dan itu artinya suara tidak sah alias golput ada 60.853.533 suara (nasional.kompas.com). Bingung bacanya? Segitu we pokok namah.

Terus di dalam koalisi Indonesia Kerja yang mendukung Jokowi-KH Ma’ruf Amin sekarang ada 9 partai politik, yaitu PDI-P (18,95%), Golkar (14,75%), Nasdem (6,72%), PKB (9,04%), PPP (6,53%), Hanura (5,26%), PKPI (0,91%), PSI (0%) dan Perindo (0%). Oya, konon PSI dan Perindo dicoret oleh KPU karena pemilu lalu belum ikutan. Jadi sekarang jumlahnya ada 7 parpol, dan jika dijumlahkan suaranya maka… jeng jeng jeng jenggggg… 62,16%.

Sedang dalam koalisi Gerindra yang mendukung Prabowo dan Sandiaga Uno hanya ada 4 parpol setelah Demokrat merapat lagi, yakni Gerindra (11,81%), PKS (6,76%), PAN (7,59%) dan Demokrat (10,19%). Jika dijumlahkan maka… krik krik krikkk… 36,35%.

Oke, itu jika bercermin pada pemilu 2014 lalu, dan bisa dijadikan modal, bukan ukuran. Terlebih, itu belum termasuk yang golput (yang jumlahnya 60 juta itu, alias sepertiga dari DPT), belum lagi pemilih pemula yang baru punya KTP pada pemilu 2019 nanti (konon jumlahnya sampai 14 juta).

Kalau hasilnya seperti itu, dan jika diibaratkan ke dalam sepak bola, maka paslon Prabowo-Sandiaga Uno akan langsung tancap gas untuk menyerang setelah di leg pertama kalah 0-3, dan pasangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin hanya tinggal pasang badan untuk bertahan –dan tentu, sesekali melakukan serangan balik.

Lalu soalnya sekarang, strategi semacam apa yang akan diterapkan pasangan Prabowo-Sandiaga Uno untuk mendongkrak suara mereka?

Wajah tampan, tubuh gagah dan cara komunikasi yang santun Sandiaga Uno bisa dijadikan modal untuk menarik simpati anak muda milenial, tapi apakah itu cukup? Tentu tidak.

Dalam beberapa pemilihan Gubernur beberapa bulan lalu, politik identitas masih begitu kental. Tentu motornya kita masih hafal, yakni aksi 212 dulu. Dan apa yang didapat oleh Anies-Sandi di Pilgub Jakarta kemarin, lalu perolehan suara Sudrajat-Syaikhu yang hampir melampaui suara Ridwan-Uu di Pilgub Jabar, disadari atau pun tidak salah satunya karena imbas dari Persaudaraan Alumni (PA) 212.

Dan sekarang, koalisi Jokowi punya penangkalnya, yakni KH Ma’ruf Amin yang merupakan ketua MUI sekaligus Rais Aam PBNU. Kiprahnya selama menjadi ketua MUI, sangat memungkinkan baginya untuk merangkul PA 212, dan tentu, selain ia punya massa sendiri di Nahdatul Ulama. Dan sosok KH Ma’ruf Amin mengingatkan kita kepada almarhum Gus Dur, dan sampai saat ini masih banyak pengikutnya.

Tentu pertarungan ini akan sangat menarik, sekaligus menegangkan. Yang satu berusaha sekuat mungkin untuk menyerang, sedang yang satu ambil ritme permainan, lalu lakukan serangan balik. Ya, akan terjadi permainan yang terbuka, bukan permainan yang serba canggung.

Kalau diibaratkan dalam Liga Champhions kemarin, AS Roma bisa bangkit setelah kekalahan 0-3 dari Barcelona, tapi tentu, itu tidak berlaku bagi Real Madrid yang tetap lolos setelah kalah 1-3 dari Juventus. Maksudnya, segala kemungkinan (yang diberi sedikit sentuhan keajaiban) masih bisa terjadi. Kita saksikan saja, jangan lupa sambil ngopi.

Tuliskan Komentarmu !