Soes; Pak Tua yang Masih Rajin Belajar dan Bekerja

sumber gambar: gerobakbuku.com

Soesilo Toer, adik dari sastrawan terkenal Pramoedya Ananta Toer, tiba-tiba muncul di layar televisi. Pria asal Blora ini menjadi terkenal lantaran kisah hidupnya yang begitu unik dan menginspirasi. Pasalnya, jebolan universitas ternama di Rusia ini memilih jalan hidup yang tak biasa bagi orang yang bergelar doktor seperti beliau.

Pria yang disapa Soes ini bekerja sebagai pemulung di tempat tinggalnya. Setiap malam beliau keluar dengan mengendarai sepeda motor untuk memunguti sampah di jalanan. Dari pendapatannya tersebut, Soes bisa menghasilkan paling kecil duapuluh lima ribu sehari.

Menariknya, ketika beliau ditanya tentang pekerjaannya tersebut, beliau teringat akan kisah Socrates dan mengutip ucapan Socrates di hari kematiannya: “Kenalilah dirimu, karena kematian adalah kenikmatan abadi.” Lalu dengan gagah beliau melanjutkan, “Kenalilah diriku, karena memungut adalah kenikmatan abadi.”

Entah hal apa yang menjadi suatu kenikmatan bagi seorang doktor ekonomi-politik ini dari pekerjaannya memulung, memunguti sampah-sampah, memilah dan menjualnya.

Pemulung selalu dikonotasikan dengan kebodohan, kemiskinan dan hal negatif lainnya. Namun tak terduga, Soes menyangkal dirinya seorang yang miskin. Baginya miskin tak harus berhubungan dengan kata benda.

“Jika ada orang yang mengatai saya miskin, justru dialah yang miskin, kenapa? Karena dia miskin pengalaman, sedang saya kaya pengalaman, meski saya sebagai seorang kuli. Dan saya adalah kuli di kutub utara, kuli brigade pembangunan internasional kutub utara,” tuturnya panjang lebar serta penuh keyakinan.

Hal ini serupa dengan yang pernah diutarakan oleh kakaknya, Pramodya Ananda Toer dalam memoar Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I, “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.”

Benar saja, pengalaman Soes begitu banyak dan menorehkan prestasi yang gemilang. Selain mahir bahasa Rusia, Belanda, Jerman dan Jepang, Soes mengakui bahwa dirinya banyak ditawari pekerjaan di Belanda, namun beliau menolak dan lebih  memilih untuk pulang ke tanah airnya. Namun sayang, setelah tiba di tanah air, pasport beliau dicabut karena dianggap sebagai pembela Orde Lama dan pro Soekarno.

Pada akhirnya, Soes meniti jalan hidup di negerinya, dan membuahkan banyak karya berupa tulisan-tulisan yang dibukukan sebanyak 20 buku, dan 10 buku lagi akan segera diterbitkan.

Hingga sekarang, Soes masih menekuni pekerjaan memulung, dan memiliki sebuah perpustakaan yang dibuka dengan sifat nirlaba; alias bertujuan sosial dan tidak mencari keuntungan materi. Jikapun ada keuntungan, maka sebagiannya akan dibagikan kepada kelompok-kelompok masyarakat yang membutuhkan buku.

Meski usianya kini telah mencapai kepala delapan, namun aura gagah yang biasa didapati oleh pejuang-pejuang era Belanda—Jepang sangat kental di wajahnya; postur tubuhnya masih tegap dan bicaranya masih sangat lantang. Prestasinya memukau dan tujuan hidupnyapun mulia. Sosok yang patut untuk dicontoh oleh generasi-generasi muda selanjutnya. Wallahu a’lam

Tuliskan Komentarmu !