Smartphone dan Ilusi Kepintarannya; Sebuah ‘Pembelaan’

SAVANA- Akhir-akhir ini saya sering mendapatkan pesan dari Playstore, WhatsApp, dan aplikasi-aplikasi yang konon katanya pintar. Pesan itu berisi agar saya selaku pemilik ponsel, meng-upgrade seluruh aplikasi yang saya miliki, karena kata mereka, aplikasi yang saya miliki ini sudah usang. Ditambah lagi dengan ancaman bahwa jika dalam waktu beberapa hari tidak segera meng-upgrade aplikasi tersebut, saya tidak bisa membukanya lagi.

Dan ternyata hal tersebut benar terjadi, aplikasi WhatsApp saya tiba-tiba tidak bisa dibuka, dan muncul pemberitahuan bahwa saya harus memperbaharui aplikasi jika ingin membukanya. Lebih parahnya lagi kini, saya selaku pengguna ponsel jadul yang ukuran layarnya tidak lebih dari 2 inch, sering mengalami ejekan dari rekan sejawat. Disebut seperti tamagoci lah, jimbot lah, tapi saya sering membalasnya dengan ungkapan; “sekalipun kuno, tapi ini punya nilai sejarah, Bro!”.

Di era milenial ini, aplikasi semacam WhatsApp, Line, Instagram, Youtube dan aplikasi-aplikasi lainnya, menjadi kebutuhan mendasar, khususnya dalam berkomunikasi dengan orang di luar daerah, wilayah, atau negara sekali pun. Ditambah lagi, kini informasi-informasi terkini di negara atau pun mancanegara, diakses melalui aplikasi-aplikasi tersebut. Bahkan ada seorang pesimis yang mengungkapkan, “kini jendela dunia bukan lagi di dalam buku, tapi disudut-sudut aplikasi smartphone”.

Dengan demikian, kini tolak ukur sedikit atau banyaknya informasi yang dimiliki oleh seseorang, ditentukan dengan sering atau tidaknya membuka aplikasi-aplikasi tersebut.

Dalam hal ini, tentunya saya dituntut untuk meng-upgrade aplikasi yang saya miliki, agar tetap dapat mengakses informasi di dunia maya dan tidak dibilang ‘kudet’. Namun apa daya, ternyata RAM dalam memori ponsel saya tidak mencukupi untuk meng-upgrade aplikasi-aplikasi tersebut, dan yang harus dilakukan satu-satunya adalah mengganti ponsel dengan perangkat yang lebih canggih.

Dari hal tersebut, dapat kita lihat bahwa hidup manusia didikte oleh suatu objek atau barang. Kebutuhan manusia kini tidak didasarkan lagi pada sesuatu yang benar-benar kurang, kebutuhan justru kini diciptakan oleh suatu barang atau karena hasrat untuk mengkonsumsi barang tersebut. Hasrat tersebut tumbuh karena sesuatu itu menarik dan diinginkan oleh banyak orang. Ponsel yang canggih dengan aplikasi-aplikasi pintar di dalamnya, karena banyak digunakan oleh orang lain dan dinilai menarik, maka itu menjadi kebutuhan.

Semakin menjadi kebutuhan ketika informasi-informasi yang ada di belahan bumi sana disisipkan dalam aplikasi tersebut, maka semakin populer dan banyak diinginkan lah ponsel berisi aplikasi canggih tersebut, semakin ingin pula lah saya untuk memiiliki aplikasi tesebut.

Kecanggihan ponsel dan kepintaran aplikasi menjadi semacam ilusi, karena pada dasarnya, mekanisme tersebut merupakan strategi kekuasaan yang dibuat oleh kaum dominan untuk menguatkan dominasinya. Kaum dominan membuat mereka yang belum menggunakan ponsel yang canggih dan aplikasi yang pintar merasa tertekan secara psikologis dan sosial, agar mereka dapat bekerja keras untuk dapat memilikinya.

Secara psikologis mereka tertekan karena belum menggunakan smartphone canggih, namun apa daya kapital yang dimilikinya belum mencukupi. Dan secara sosial mereka tertekan karena banyak yang mendiskriminasi dan selalu disisihkan dalam kelompok.

Bukan menjadi solusi ketika kita justru terpacu untuk dapat memiliki apa yang orang lain miliki, hal tersebut justru semakin mengukuhkan mereka para kaum dominan, dan kita semakin kukuh dengan posisi kita sebagai kaum pengikut para kaum dominan. Inilah semacam curhat dan pembelaan dari pengguna ponsel jadul yang ukuran layarnya tidak lebih dari 2 inch. Wallahu a’lam.

 

 

Tuliskan Komentarmu !