Si Sapi Sang Konsultan

konsultasi politik
Ilustrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Saya bertemu sapi, dua hari lalu. Pertemuan yang tidak disengaja. Saya bertemu dengannya ketika pulang dari tempat tujuan, ketika saya mengendarai motor, dia pas diangkut mobil pick-up warna hitam. Sekedar bertemu dengan sapi, tentu saya sering. Biasanya terjadi ketika saya momong putri saya ke rumah warga yang dekat persawahan, karena beberapa rumah tersebut memelihara sapi.

Momong seperti itu memang nyaman. Sambil duduk di pinggir kali kecil, saya bisa nyaman memandang hijaunya persawahan. Putri saya nyaman menonton sapi beraksi, makan rumput gajah, lalu melenguh, mungkin lenguhannya mengumumkan bahwa ia kenyang.

Saya pikir sapi memang seperti itu: suka makan, dan sesudahnya suka melenguh. Itulah rutinitas hewan bernama sapi yang saya pahami. Selebihnya saya tak tau, karena saya bukan kerabat sapi.

Berbeda dengan rutinitas ala sapi secara umumnya, sapi yang saya temui saat itu tidak terlihat sedang makan lalu melenguh. Ia hanya berdiri terdiam, menghadap pipa besi penghalang yang terpasang di sebelah kanan mobil pick-up.

Sesekali saya melihat ia menatap saya. Kami pun saling bertatapan, dan tak diduga, muncul sebuah dialog. Tiba-tiba saja saya menyapa sapi yang berbulu coklat dan bertubuh bongsor itu.

“Hai Sapi, mengapa kamu menatapku seperti itu?”

“Lho, yang pantas bertanya justru aku. Ada apa sebenarnya kamu melihat-lihatku terus dari tadi? Kayak gak pernah lihat sapi saja!”

“Saya bukan bermaksud melihatmu terus, tapi ini situasi yang tidak bisa saya hindari.” Saya terpaksa menjelaskan kepadanya, bahwa saya melihatnya itu memang sudah otomatis. Mobil yang ia tumpangi ada di depan motorku, wajar jika saya yang berada di belakangnya melihat obyek apa pun yang ada di depan. Kebetulan obyek saat itu sapi yang diangkut mobil. Sapi yang bisa ngomong.

“Hemm, aku paham. Tapi kamu memang tidak menguntitku, kan?”

Sialan. Sapi gemuk ini agaknya kurang ajar juga. Untuk apa saya menguntitnya? Apa untuk saya curi dia, terus saya jual ke penadah? Nah terus cara menggotongnya bagaimana? Mikiiiir!

“Saya tidak ada maksud menguntitmu. Tidak ada untungnya juga menguntitmu. Sudahlah, jangan kamu berprasangka yang bermacam-macam. Nikmati saja pertemuan ini. Kita gunakan saja untuk mengobrol santai. Tentang politik, misalnya.”

Sapi itu nyengir. Dia tidak tersentak ketika saya ucapkan kata-kata politik. Mungkin saja dia memang tidak mengerti bidang kehidupan manusia yang enak itu, yang cara memperolehnya harus gulat omong dulu itu.

“Hihihi, bahas politik. Di jalanan seperti ini, masa masih mau bahas politik juga? Apa tidak jemu? Hidup kok seperti itu terus. Politak politik, politak politik.”

Benar-benar sapi sialan, sok paham kondisi manusia lagi! “Lha, kan manusia itu makhluk politik. Ya lumrah dong, kemana-mana ngobrol politik.” jawab saya.

Tak terasa jalanan yang sudah terlewati sepanjang 2 km. Sepanjang itulah saya masih mengobrol dengan sapi itu. Obrolan yang tidak terganggu kendala oleh kontur jalan yang gerenjolan, sebab jalannya sudah dibeton.

“Begini loh, Mas. Aku ini sebenarnya paham yang terjadi di dunia Sampeyan. Aku paham bahwa rakyat negeri Sampeyan akan punya gawe besar. Pilihan presiden, ya to? Tapi jujur, aku ikut berduka kalau yang terjadi justru debat dan gelut terus-terusan. Pula pembelahan di masyarakat yang tanpa bisa dihentikan.”

Saya tersentak. Ternyata dia memang paham. Ini benar-benar bukan sapi biasa. Subhanallah. Beruntung saya bertemu dengan dia. “Kamu betul. Memang seperti itulah kondisi masyarakatku saat ini. Tapi hendak bagaimana bisa dicegah dan dihentikan, lha wong elite politik maunya seperti itu, dan terus disebar-sebarkan oleh media.“

“Aku sangat paham rakyat biasa tidak mau seperti itu. Mereka itu sebenarnya cinta damai, namun sayangnya sebagian elite dan media ada yang mengompori. Sebagian besar malah. Aku ini, biarpun sapi, tetap mengharapkan agar rakyat manusia yang selama ini bertarung, bisa segera baikan dan berangkulan.”

Mendengar respon demi respon dari si sapi yang wow dan luar biasa itu, saya jadi bertanya-tanya; ini sapi apa sapi sih? Sapi kok bijaksana? Masak iya dia sapi? Tapi ah saya tidak begitu peduli. Biarpun dia bukan manusia, tapi care and share tentang problematika makhluk hidup lainnya, saya akan mendengarnya dengan tulus. Bertanya solusi pun saya kira tidak masalah, tidak usah malu.

“Sapi, bolehkah saya bertanya tentang solusi problematika masyarakatku yang sudah kamu ketahui itu? Apa yang harus kami lakukan?”

Mendengar itu, dia langsung menatapku dengan lekat. Ada gambar guratan harapan dan perhatian di wajahnya, kepadaku, yang mewakili pula rakyat-rakyat lainnya.

“Sebenarnya solusi tersebut bisa hadir di pikiran dan pengaplikasiannya. Aku akan memberikan saran yang terbaik buat kalian, biar kalian tak perlu menderita rugi terus menerus.”

Ketika dia akan meneruskan ocehan nasihatnya, dia sempat meminta Pak Sopir pick-up untuk melambatkan laju mobilnya. Mungkin si sapi tidak ingin nasihatnya tersapu angin begitu saja, dan membuat saya bisa khidmat mendengarkannya.

“Satu kata saja, Mas, sebenarnya: kedaulatan. Kedaulatan itulah yang harus Sampeyan dan masyarakat munculkan kembali. Yang terjadi selama ini, yang mengakibatkan semua orang saling ejek dan saling hina, karena mereka terbawa pengaruh para elite. Pikiran mereka sudah didominasi dan dikuasai. Caranya macam-macam, dan yang terbanyak pendominasian dan penguasaan itu melalui corong media sosial dan media massa.

“Dominasi itu wujudnya bermacam-macam pula. Yang paling pokok tentunya merusak rasio masyarakat agar mereka, sebisa mungkin, memperjuangkan kepentingan elite itu. Sehingga perjuangan tersebut pada akhirnya dilakukan dengan menghalalkan berbagai cara pula. Salah satunya, kalau perlu, hantam juga teman dan kerabatnya sendiri. Kan gitu.

“Kayak-kayaknya hidupnya itu hanya untuk memperjuangkan elite idolanya, padahal kan tidak seperti itu. Jika dipikir lebih luas dan dalam, tujuan hidup kalian itu kan untuk meraih kebahagiaan, dan kebahagiaan itu bisa diwujudkan hanya dengan damai bersama semua masyarakat. Kan harusnya seperti itu.

“Mohon maaf lho Mas, aku tidak bermaksud memintari Sampeyan.” Sela si sapi sambil mengerlingkan matanya. “Proses dominasi yang sudah saya jelaskan tadi, dalam istilah Jurgen Habermas disebut rasio instrumental, dan itu berbahaya jika tidak segera diobati.” Saya terhenyak saat si sapi menyebut seorang filsuf dari Jerman, lalu tidak lagi setelah menyadari bahwa semuanya memang fiksi.

“Obatnya itu tiada lain adalah kedaulatan.” lanjut petuah si sapi. “Misalnya kedaulatan berpikir, bahwa politik itu tidak saja tentang idolaku menang dan idolamu kalah. Politik itu juga tentang bagaimana antar pendukung tetap bersahabat, sekali pun dalam persaingan. Mendukung ketika pemimpin benar, dan mengkritisi ketika mereka salah. Itulah yang dinamakan masyarakat yang berdaulat. Masyarakat yang bisa menggunakan rasionya secara bebas. Tidak terkungkung dan terdominasi.

“Karena itulah, Mas, jadilah Sampeyan dan masyarakat sebagai manusia yang pikirannya merdeka, yang dengan akal warasnya sanggup menganggap saling debat, saling hina dan saling benci antar masyarakat sama sekali melelahkan dan merugikan diri sendiri.

“Jangan seperti bangsa kami, bangsa sapi. Sapi itu tidak akan pernah berdaulat; saat liar kami diburu, saat tertangkap kami dijual. Dan nasib terakhir kami, disembelih buat makanan kalian. Kalian pasti tak kuat, cukup kami saja. Jadi jangan mubazirkan kedaulatan bangsa Sampeyan. Begitu Mas, kira-kira.”

Sapi itu menghentikan seluruh nasihatnya. Kami pun sampai di sebuah pertigaan. Selanjutnya jalur perjalanan kami berbeda. Ia berbelok ke kanan, menuju arah pasar, sedangkan saya lurus menuju rumah.

Baca Juga: Sok Menjadi Pengamat Politik

Tuliskan Komentarmu !