Si Kutu Buku yang Putus Asa

sumber gambar: majalah.islam.blogspot.com

SAVANA- “Sepertinya kita sudah tertipu oleh kebahagiaan.” ujar Obet kepada Acuy. Mereka sedang duduk di sebuah saung butut, tempat mereka dulu sering berkumpul. Saung itu terletak di ujung kampus, di atas tanah gambut yang menumbuhkan banyak ilalang.

“Kita memang membutuhkan kebahagiaan.” jawab Acuy, singkat. Obet dan Acuy sudah dua tahun jadi sarjana, tapi sesekali mereka masih suka bertemu di kampus.

“Apa kau kira, dulu kita ini tak bahagia?” tanya Obet, retoris.

Acuy merenung, mengenang-ngenang kembali masa itu.

***

Waktu awal-awal masuk kuliah, Acuy masih menganggap bahwa menjadi kutu buku adalah hal yang paling menjijikan. Selain karena buku yang bisa membuatnya pusing dan mual-mual, tapi juga karena Acuy memandang si Kutu Buku adalah orang yang norak sekaligus tak mampu bergaul dan merias diri. Acuy percaya, dengan tak banyak membaca buku, apalagi menghapalnya, ia pun bisa kaya.

Namun selama matahari masih terbit di sebelah timur dan nyawa masih dikandung badan, manusia bisa berpindah haluan. Jangankan hanya haluan, kepercayaan pada Tuhan pun bisa berubah.

Sore itu Acuy diajak oleh kawan sekelasnya untuk menemui salah satu dosen. Acuy antusias karena dijanjikan bakal ada banyak makanan. Setibanya di rumah dosen itu, Acuy melihat ada sebuah tulisan yang terpangpang di depan gerbang: Yang Berkunjung ke Sini Wajib Membaca Buku.

Acuy celingak-celinguk sambil tersenyum masam. Paling tidak, untuk kali ini saja aku membaca, pikirnya.

Seusai kawannya berbicara dengan dosen, Acuy diajak menuju salah satu ruangan. Di sana banyak sekali buku, termasuk juga makanan dan minuman. Acuy kebingungan antara harus senang atau malas.

“Silakan kau pilih buku yang kau suka. Setelah itu baca sampai kelar.” bisik kawannya. Acuy menggigit bibir. “Sampai kelar? Kau sedang tak gila, kan?” raungnya dalam hati.

Acuy pun mulai memilih dan memilah buku. Tentu yang paling tipis dengan caver yang menggoda. Ia susuri dari satu sudut ke sudut lain, sambil berharap menemukan sebuah komik. Walau agak tebal, paling tidak komik bisa dibaca dengan cepat -atau hanya dilihat gambarnya-, dan tentunya tidak akan membuat Acuy pusing dan mual-mual. Namun sayangnya, Acuy tak menemukan sebiji pun komik. Hingga akhirnya ia mengambil beberapa buku yang baginya cukup lumayan tipis, yang nantinya akan ditimbang kembali salah satu di antara ketiganya.

Ketiga buku yang diambil Acuy itu adalah Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer, Corat Coret di Toilet karya Eka Kurniawan, dan Di Bawah Lindungan Kabah karya Hamka. Acuy mulai mengamati ketiga buku tersebut, melihat-lihat bagian belakangnya, hingga melihat berapa jumlah halamannya.

Acuy mulai dilema. Ingin sekali ia memilih yang tertipis, tapi caver dan beberapa ulasannya baginya tak menarik. Ia ingin membaca yang baginya sesuai dengan karekternya, tapi konsekuensinya agak lebih tebal ketimbang kedua buku lainnya. Acuy memegang keningnya, benar-benar kebingungan.

“Mau pilih buku saja galaunya sampai segitu. Gimana kalau mau calon istri?” komentar kawannya

Dengan spontan Acuy mengembalikan dua buku ke tempatnya, dan mulai memabaca buku karya Eka.

Satu menit, dua menit, tiga menit, tak ada reaksi apa-apa. Hingga menit ke sepuluh, keningnya mulai mengkerut. Menit ke dua puluh lima: “Gimana sih, ini ceritanya ngawur!” Menit ke tiga puluh lima: “Gila. Eh, di toilet kampus kita banyak coretannya gak?”. Menit ke empat puluh lima: “Dasar. Emang gak tau diuntung!” Menit ke lima puluh lima: “Yang gitu aja kok diceritain. Di kampus kita siapa penghuni gudangnya?”. Menit ke enam puluh lima: “Aneh! Dia waras enggak yah?.” Menit ke sembilan puluh lima: “Lho, kok gitu akhirnya?” Menit ke seratus sepuluh: “Habis juga.”

Mulai sejak itu, Acuy mulai agak suka membaca buku. Tentu saja buku-buku yang menyenangkan hatinya, meliarkan imajinasinya, dan menertawakan dunianya. Saat sedang asyik membaca, Acuy tak mengenal tempat dan waktu; dimana pun, kapan pun.

Hingga ia bertemu Obet.

“Suka baca karya Pram juga?” sapa Obet kepada Acuy yang sedang khusu membaca di pinggir tangga kampus. Acuy sebentar melirik. Apa pertanyaan itu butuh jawaban?, kalau perlu, jawaban yang pas apa?, pikir Acuy.

“Pram memang orang yang sangat hebat.” Lanjut Obet sambil duduk di sebelahnya. “Orang-orang macam kita sangat sulit untuk menandinginya.”

“Kebetulan saja sedang baca Pram.” Sela Acuy. “Aslinya aku suka Pidi Baiq.”

“Pidi Baiq juga tak kalah menakjubkanya. Parodi-parodinya segar dan dalam.”

“Aku hanya suka membacanya. Gak ngerti yang lain-lain.”

Perkenalan mereka pun berlanjut hingga Acuy sering menginap di indekosnya Obet. Obet punya koleksi buku yang cukup banyak, cukup untuk membuat Acuy tak keluar kamar semingguan. Obet yang melayani kebutuhan biologis Acuy; membelikan makan dan minum ke warung terdekat. Mata Acuy sudah mulai bengkak dan merah, namun ia malah semakin bergairah. Tak jarang saat sedang membaca, air matanya keluar, namun ia segera menyusutnya dan melanjutkan membaca.

“Sepertiya membaca sudah membuatmu gila.” sindir Obet. Acuy tak menggubris, ia terus saja membaca.

Acuy sudah mulai menyisihkan uang jajannya untuk membeli buku, hal yang sebelumnya ia anggap sinting. Dan lama-kelamaan membeli sudah buku menjadi prioritas kedua setelah rokok. Ia sudah tak memikirkan apa pun lagi selain buku dan rokok. Baginya, kebahagiaan ada di kedua barang tersebut. Acuy hanpir tak pernah membeli kopi selama numpang di indekosnya Obet, karena Obet selalu punya stok yang banyak.

Rerata orang yang suka membaca selalu asyik jika diajak diskusi, namun Acuy berbeda, ia hampir tak mau diskusi kalau bukan karena terpaksa, yakni saat presentasi kuliah saja. Ia suka sendiri, dan dalam berpikir pun, ia suka menyendiri. Lain lagi dengan Obet, bahkan ia membuat klub diskusi di kampusnya. Sesekali Acuy suka datang ke tempat klub diskusi yang dibuat oleh Obet, hanya untuk mendengarkan, dan duduk di barisan paling belakang. Mereka biasa berdiskusi di saung butut di atas tanah gambut pinggir kampus yang sisi-sisinya banyak ilalang.

Namun dunia dapat berubah seketika. Kecintaan Acuy pada buku berhenti saat ia sudah mulai mengenal game. Kebiasaan siang-malam yang awalnya untuk membaca buku, kini diganti dengan hanya duduk di depan laptop dengan mause di tangan kanan. Misi gamenya membunuh-bunuh monster, dan ia sendiri pun berperan sebagai monster.

Perkenalan Acuy dengan game bermula saat ia sudah mulai putus asa karena tak kunjung mendapat kerja, sedang ia sudah jadi sarjana. Ia menyadari kembali, buku tak bisa membuatnya kaya, bahkan untuk mendapat pekerjaan sekali pun. Memang Acuy sempat menyadari, kalau suka membaca seharusnya ia pun suka menulis atau berpidato, paling tidak ia bisa jadi jurnalis atau jadi orator ulung yang suka mengisi kajian-kajian. Acuy meninggalkan dunia baca, dan main game adalah pilihannya. Baginya, itu lebih realistis dengan keadaan lingkungannya. Ia dapat bersombong jika berhasil membunuh monster lebih dari sepuluh.

Sebenarnya hampir tak ada yang berubah dari hidup Acuy selain berpindah dari buku ke game. Waktunya yang luang, ia habiskan untuk bermain game, dan ia hampir selalu lupa makan dan beli baju. Sedang untuk membeli rokok, ia masih mengemis-ngemis kepada orang tuanya.

Sedangkan Obet berpindah dari buku ke internet. Buku adalah cerita lama sedang internet adalah cerita baru. Lewat internet, Obet bisa membaca apa saja, sesuai hawa napsunya. Lewat internet pun ia bisa sedikit merias diri dengan status-status panjang yang menampakkan dirinya cukup berpendidikan.

Setelah setahun diwisuda, Acuy dan Obet bertemu kembali. Nasib mereka tak jauh berbeda, masih seperti gelandangan yang sedikit terurus; hanya saja Obet masih suka mengisi kajian, walau referensinya bukan lagi buku, tapi dunia maya. Obet suka menganalisis status teman-temannya, lalu dijadikan bahan kajian. Dalihnya, memang dunia sekarang adalah dunia maya.

“Pemahaman memang tak bisa membuat kita kenyang.” ucap Obet dipertemuan sore itu.

“Tapi main game bisa membuat kita lupa bahwa kita sedang lapar.” timpal Acuy.

***

Menjelang tahun kedua pasca wisuda, Acuy baru mendapat pekerjaan, walau baginya agak menapikan jika disebut sebuah pekerjaan. Baginya itu hanya pengabdian. Menjelang magrib, Acuy mengajar salah satu madrasah, mengajari anak-anak membaca Quran. Tentu gajinya tak seberapa, tapi cukup untuk membuat orang tuanya tersenyum.

Setelah mengajar dan mulai bisa hidup agak mandiri, kegiatan maen game Acuy sedikit dikurangi. Di sela-sela waktunya, Acuy suka berkelana. Dari gajinya yang sedikit itu, ia sisihkan untuk pergi ke perkampungan-perkampungan. Ia melihat bagaimana petani desa bekerja; dengan cucuran keringat, hasil tak seberapa, tapi masih bisa tertawa. Acuy mulai kembali menemukan sedikit gairah.

Melihat Acuy sudah bisa bekerja, orang tua Acuy mulai mendorongnya untuk segera menikah. Jelas baginya ini masalah, karena sejauh ini, tak ada tanda-tanda baginya untuk segera menemukan jodoh. Memang Acuy sempat mendekati beberapa orang perempuan, dan reaksinya hampir selalu sama; katanya Acuy terlalu baik untuk mereka. Acuy ingin sekali menjambat-jambak mukanya sendiri.

Hingga Acuy bertemu kembali dengan Obet di saung butut pinggir kampus.

***

“Keadaan yang menuntut kita beranjak dari satu kebahagiaan ke kebahagiaan lain.” jawab Acuy, kalem.

“Kita sudah egois karena yang kita kejar hanyalah kebahagiaan. Kita membaca karena kita bahagia. Hanya untuk kepuasan diri sendiri. ”

“Jadi? Seharusnya apa yang mesti kita perbuat?”

“Kita harus jadi orang gila. Jadi orang waras itu susah, banyak maunya. Mari kita ke tempat sampah, dan memakan apa saja yang ada di dalamnya.”

Tuliskan Komentarmu !

Nurdin A. Aziz merupakan anak bungsu bagi ibu kandungnya dan adik terkecil bagi kakak-kakaknya.