Shaumnya Seorang Komunis

SAVANA- Dahulu kala, pada sekitaran Tahun 1927-1965, ideologi komunis menjadi trennya para pemuda. Katanya, pikiran yang dulu telah usang, dan harus diganti dengan yang baru. Karena pada waktu itu komunis baru ada, maka pemuda-pemuda yang masuk komunis menobatkan dirinya sebagai pemuda yang “kekinian”.

Kita mengenal nama Semaoen, Aidit, atau Tan Malaka yang dengan penjiwaan yang total, membela rakyat. Berbagai macam buku mereka cetak, dengan biaya sendiri atau kadang juga ditanggung organisasinya; hanya untuk memberikan arahan kepada rakyat. Betapa mulia cita-cita mereka.

Tapi bagaimanapun heroiknya kisah mereka, tetap saja tak mendapatkan tempat yang layak dalam sejarah. Selain karena mereka lebih mengagumi Karl Marx tinimbang Nabi Muhammad s.a.w (kecuali Semaoen mungkin), mereka pun punya musuh yang tak kepalang banyaknya. Katakan lah dari orang-orang yang idealis dan materialis kapitalis. Kedua golongan itu banyaknya orang-orang yang sudah tua; maka sudah sepatutnya yang muda-muda mengalah saja.

Yang muda punya semangat, sedang yang tua punya kebijaksanaan. Begitulah kilahnya. Maka sampai kapan pun, pandangan sejarah terhadap mereka begitu-begitu saja.

Oke, lupakan masa lalu. Ayo move on!

Sekarang kita sedang melaksanakan shaum. Tentu kita-kita penasaran, apa sekarang orang-orang yang mengaku komunis itu suka melaksanakan shaum juga atau tidak? Terus, bagaimana cara melaksanakannya?

Kata Semaoen, komunis hanya sebagai jalan untuk mendapatkan  dunia saja, tak lebih. Komunis hanya salah satu cara agar hajat hidup rakyat mudah terpenuhi, karena dengan jalan yang ada, perekonomian rakyat makin terjepit. Tapi lain lagi kata Taufiq Ismail. Katanya, orang komunis ya mesti Atheis, karena itu konsekuensi logisnya. Kalau mau memegang satu paham, ya mesti total, jangan setengah-setengah.

Memang agak ruwet kalau mengikuti alur perbedatan mereka. Sekarang kita bayangkan saja kalau orang komunis itu Atheis, tapi melaksanakan shaum untuk menghormati umat muslim. Cukup dibayangkan saja, gak usah ditelisik.

Satu waktu orang komunis itu jalan-jalan. Tentu tidak memakai atribut komunis, karena belum juga berkilah, pasti sudah dihukumi dengan tedeng aling-aling mengacu pada sejarah yang kelam. Intinya, orang sekitarnya tak tau kalau dia itu seorang komunis, kecuali saat ia mengaku.

Lalu si Munis itu melewati warung nasi. Ia menilik, warung nasi itu memakai tirai, tapi ia tau kalau di dalamnya banyak orang. Si Munis pun masuk. Ia melihat banyak orang yang sedang makan di siang bolong. Si Munis ditawari mau makan apa oleh penjaganya. Si Munis menggeleng. Ia pun berkata, “Maaf, saya sedang shaum.”

“Kalau shaum, kenapa masuk ke sini?” tanya salah seorang yang sedang makan dengan lahapnya.

“Karena saya seorang komunis. Saya hanya shaum di depan orang-orang yang shaum saja. Kalau di sini, sepertinya saya bakal batal.” jawab si Munis kalem.

“Wah, kamu komunis? Kamu gak digerebag?”

“Asal kalian tidak comel saja, semua akan baik-baik saja, kok!” jawab Munis lagi.

“Tapi kamu juga jangan comel, kalau kami-kami ini masih suka melanggar ajaran agama.”

Si Munis mengangguk. Ia paham kalau setiap manusia, tak mau dikatakan buruk oleh sekitarnya walau memang yang dikerjakannya keburukan. Tapi ya namanya juga seorang komunis, ia hanya bakal marah kalau yang dilanggarnya menyangkut orang banyak. Kalau urusan pribadi dengan Tuhannya, ia tak bakal apa-apa; toh ia pun tak percaya Tuhan.

“Mau pesan apa, Mas?” tanya kembali penjaga warung.

“Maaf Bu, gak jadi. Saya lupa gak bawa uang lebih.”

Orang-orang yang sedang makan itu pun melihat Munis dengan haru. Inginnya mereka mentraktir si Munis. Tapi ya namanya juga orang-orang makan di warung nasi pinggir jalan; kalau mereka mentraktir, pasti tak bakal ada untuk anak-istri.

Si Munis melanjutkan perjalanannya. Lama kelamaan, langkahnya mulai gontai. Ia sudah seperti seorang muslim sejati yang sedang kelelahan saat shaum. Si Munis tetap menghormati orang-orang sekitarnya yang sedang shaum.

Si Munis pun mencari-cari tempat sepi. Setelah menemukan tempat yang sepi, ia lupa kalau ia belum beli air. Ia pun kembali lagi untuk mencari warung yang buka. Tentu, tak sulit untuk menemukan warung yang buka walau di siang bolong. Si Munis pun dengan diam-diam, meneguk air itu sampai tandas.

Si Munis berjalan-jalan kembali. Tentu dengan gaya yang sedang shaum beneran. Ia menahan makan dan minum di hadapan orang-orang. Kadang ia pun harus benar-benar shaum seharian karena tak punya kesempatan untuk menyendiri; kalau pun ada, pasti tak ada air untuk diminum kecuali dari kran toilet; kalau harus mengambil dulu dari galon, pasti bakal ketahuan oleh teman-temannya.

Si Munis sangat-sangat menghormati umat muslim yang sedang shaum. Saking hormatnya, ia pun ingin ditilai sebagai orang yang benar-benar shaum dengan utuh. Kita bayangkan saja kalau orang komunis yang satu ini, benar-benar menghormati kita.

Tapi kalaulah Karl Marx bangkit dari kuburannya, tentu ia akan menebalkan jenggotnya sambil berteriak, “Dasar munafik! Buat apa tak percaya Tuhan kalau masih takut pada hujatan manusia? Kau tak pantas jadi umatku, kau hanya pantas jadi budak hatimu!”

Tentu kita tak usah heran kalau Mbah Marx bisa semarah itu, toh dulu dia pun tak kalah seringnya menahan makan dan minum. Orang-orang semacam Semaoen, Aidit, atau Tan Malaka pun hampir sama; sering menahan lapar karena memang sering tak ada untuk dimakan. Ya pantaslah kalau mereka-mereka itu sampai bisa marah kalau melihat pengikutnya macam begitu.

Tapi si Munis tak kalah akal. Ia malah bilang, “Sekarang zaman sudah lain lagi. Mohon Mbah Marx, jangan samakan sekarang dengan dulu. Sekarang rakyat sudah pada sejahtera. Minimalnya mereka tak susah lagi dapat makan. Jadi ya gini sekarang; tinggal pintar-pintar memasang wajah di depan orang.”

Begitulah shaumnya seorang komunis. Menahan lapar karena memang tak ada makanan. Tapi itu dulu. Kalau sekarang, ya tinggal makan saja. Tapi hati-hati, awas ada orang yang lihat!

Tuliskan Komentarmu !