Sesat Pikir Ketahanan Pangan

doc: facebook Putu Ardana

Penulis: Putu Ardana

SAVANA- Saya sangat terganggu dengan berita tentang presiden yang meminta BUMN untuk mencetak sawah. Ditambah lagi dengan membaca tulisan semeton Made Supriatma di laman FBnya.

Saya merasa ada kesesatan pikir komunal yang akut pada bangsa kita soal ketahanan pangan. Pikiran kita akan secara otomatis tertuju kepada beras dan mie instan (gandum) kalau berbicara soal pangan.

Untuk urusan perut ini, pola pikir kita sudah tidak merdeka dan tidak berdaulat sama sekali. Sudah terjajah tepatnya. Bagaimana tidak terjajah kalau kita tergantung kepada gandum yang tidak kita tanam dan tergantung sepenuhnya kepada beras yang kita sering kekurangan?
Bagaimana tidak sesat kalau yang menjadi concern dalam topik swasembada pangan adalah mencetak sebanyak mungkin sawah penghasil beras?

Saya jadi teringat pada masa kecil saya, masa sebelum revolusi hijau didengungkan orba. Walau bukan keluarga kaya, keluarga kami bukan juga keluarga miskin. Kami sangat terbiasa mengkonsumsi makanan pokok yang sangat bervariasi dalam keseharian kami. Beras, jagung, keladi, ketela, singkong dan bahkan pisang. Dicampur atau tidak, makanan-makanan itu secara bergantian menjadi variasi isi keben (cething) kami di dapur.

Kami sekampung melakukan itu, kaya maupun miskin, dengan sangat natural. Ketika itu sawah masih cukup banyak di desa kami, dan kami bisa banyak menjual beras keluar desa karena yang kami konsumsi tidak seberapa.

Tetapi setelah revolusi hijau didengungkan secara terus menerus, dan padi-padi yang katanya jenis unggul terus dimunculkan, kami semakin terbiasa hanya mengkonsumsi nasi dari beras. Orang atau keluarga yang mengkonsumsi diluar beras atau beras dicampur akan mendapat stigma atau label keluarga miskin. Ada tekanan sosial disitu. Sistemik, masif dan terstruktur sekali pergeseran pola konsumsi yang terjadi pada kita.
Tidak terasa dan kini kita sudah sepenuhnya tergantung kepada beras dan gandum.

Lihatlah, betapa masifnya hutan-hutan sagu di Papua dirombak menjadi sawah. Saya jadi teringat ketika dulu sering bermain ke asrama teman-teman Papua saya di Jogja. Ketika ngobrol dikamarnya, mereka akan selalu menyodorkan kaleng biskuit yang isinya ternyata bukan rengginang, tapi lempengan-lempengan sagu, untuk dikunyah sebagai teman ngobrol.

Lihatlah betapa masifnya dorongan untuk mengkonsumsi beras bagi saudara-saudara kita di NTT yang terbiasa mengkonsumsi jagung.
Lihatlah betapa masifnya lahan-lahan gambut yang mau dirombak menjadi sawah, padahal pohon sagu bisa tumbuh dengan nyaman disitu.

Pertanyaan besarnya adalah, sampai kapan kita tersesat dan terjajah seperti ini? Sampai kapan kita merasa begitu takut kalau tidak ada beras atau gandum?

Pandemi ini mestinya jadi momentum bagi kita sebagai bangsa yang ber bhinneka tunggal ika untuk menjadi diri kita sendiri, untuk membiasakan kembali mengkonsumsi apa yang bisa kita tanam. Kita mempunyai begitu banyak kemungkinan, bukan hanya beras, apalagi gandum. Kita sangat kaya kultivar makanan pokok dengan peradaban kuliner yang nyaris tidak ada batasnya.

Salam dari desa.

Tuliskan Komentarmu !