Seni Bersikap Bodo Amat; Sebuah Oase Sikap Optimisme?

sebuah seni untuk bersikap bodo amat

“Dalam hidup ini, kita hanya punya kepedulian dalam jumlah yang terbatas. Makanya, Anda harus bijaksana dalam menentuan kepedulian Anda.” – Mark Manson

SAVANA- Sebagai anak muda yang diliputi gelisah, saya menikmati buku ini selayaknya menikmati secangkir kopi. Dinikmati dalam keadaan rileks dan nggak terburu-buru. Berhenti sejenak, merenung sesaat, lalu baca lagi.

Di buku ini, Mark Manson mengistimewakan derita, kegagalan, emosi negatif, pokoknya segala hal yang dipandang kalangan motivator sebagai watak pecundang. Tanpa tedeng aling-aling, bab pertama langsung dibuka dengan kisah depresif Charles Bukowski dengan judul “Jangan Berusaha”.

Tentunya, ini sedikit menghibur para millenials yang dilanda quarter life crisis (QLC), tapi jangan lantas dipandang sebagai upaya menghibur semata. Penulis mengulik realitas hidup yang nggak asyik-asyik saja, membuat orang yang terlalu fokus mencari ‘kebahagiaan’ akan tergidik menyadari bahwa penderitaan nggak seburuk prasangkanya.

Dari pengalaman pribadi penulisnya, kita juga diingatkan kalau nggak setiap pribadi tumbuh dalam keluarga harmonis, sejahtera, penuh kehangatan seperti di iklan Daihatsu Xenia. Maka, kita perlu memahami dalam situasi bagaimana seorang individu tumbuh, sebelum mendakwa dengan ceramah moral dalam merespon ketidakstabilan emosinya.

Walau terkadang ada beberapa cerita yang terkesan terlalu western, setting kulturalnya tetap kontekstual dengan budaya millenial perkotaan dan esensi yang disampaikan universal. Ilustrasi yang dipaparkan berkaitan dengan generasi millenial yang tumbuh dengan mitos keistimewaan diri, tapi seiring waktu, beberapa mendapati dirinya tak seistimewa yang didogmakan. Maka, terciptalah krisis eksistensi ditopang oleh perkembangan media sosial.

Seperti falsafah jawa nerimo ing pandum, yakni menjalani hidup dengan lapang, petuahi dalam buku ini pun berpesan agar kita tak terlalu berambisi dalam hidup. Jika pun membuat standar capaian, kita harus rela menukarnya dengan perjuangan sepadan. “Lagian, kalau sudah mencapai target besar itu (dalam contohnya: disanjung, kaya, banyak penggemar, dihomati), lantas apa?” sindir Manson.

Doi berefleksi pada cita-citanya menjadi bintang rock terkenal. Setelah membuat skema bukit kesuksesan dan mendaki dengan susah payah, mimpi tak kunjung terwujud.  Katakanlah, doi memang nggak setangguh orang-orang lain dalam berusaha. Meski alasan sebenarnya adalah doi akhirnya menyadari bahwa… mimpiannya terlalu dangkal.

Itulah perlunya mengenal nilai apa yang layak diperjuangkan. Sebagai ilustrasi, doi mengangkat kisah Letnan Dua Hiroo Onoda, seorang angkatan darat Jepang sewaktu perang Asia Pasifik dan dua musisi sempalan band legendaris.

Hiroo Onoda menderita demi niatan mulianya, mengemban amanah perjuangan untuk tanah air. Tapi nilai patriotismenya menjadi bodoh lantaran nggak lagi sesuai konteks waktu itu.

Kisah selanjutnya datang dari sosok sempalan personil Metallica, Dave Mustain dan mantan Drumer The Beatles, Pete Best. Dua-duanya dipecat sebagai personil band yang lagi ngehits-ngehitsnya. Meski bernasib sama, nilai yang diperjuangkan berbeda.

Pete tak mengalami titik balik semengagumkan Mustain yang mampu mengolah kecewanya menjadi band metal seterkenal Megadeth. Kendati begitu, Pete yang sempat frustasi justru mengalami pengembangan sudut pandang terhadap standar kebahagiaan. Ia tak lagi mengacu pada “menjadi personel band terkenal” sebagai standar bahagia.

Sementara Mustain kekeuh terobsesi pada penjualan album melebihi Metallica, yang sayangnya tak pernah terwujud. Ini contoh perwujudan nilai yang tak layak diperjuangkan, menjadikan pihak lain sebagai standar bahagia.

Memberi pesan untuk ber-masa bodoh, bukan berarti Mark Manson sedang menyarankan untuk pasrah-pasrah saja menjalani hidup. Doi hanya sedang berceramah pengembangan diri dengan cara membalikan logika self-improvement yang sering masyarakat konsumsi selama ini, misalnya di buku-buku seri Chicken Soup atau The 7 Habits of Highly Effective People.

Logika motivasi yang berprinsip “no pain, no gain” atau “stay positive!” dan semacam hal positif yang diulang-ulang menurutnya telah usang. Justru, menjadi ragu, insecure, menderita, merasa bersalah, merasa diri tak istimewa-istimewa amat, adalah sikap yang bisa dijadikan strategi dalam pengembangan diri.

Menurut Manson, emosi negatif adalah sesuatu yang manusiawi dan besifat biologis, orang tak perlu malu untuk membiarkan diri menjadi pecundang sesekali, karena itu proses pendewasaan dari waktu ke waktu.

Misalnya dalam perihal asmara, salah besar jika seseorang menuntut cinta adalah perkara bahagia-bahagia semata. Untuk tahu betul apa itu bahagia, orang perlu merasakan apa itu derita. Bukankah ketulusan juga perlu diuji? Ditolak ataupun gagal dalam urusan perasaan bukanlah malapetaka, justru proses yang mendewasakan.

Orang sering berpetuah “Ikhlasin aja.. kalo jodoh nggak ke mana”. Bersikap bodo amat dalam rumus Mark Manson bukan begitu. Lha, kalau kegagalan cinta dianggap hanya perkara takdir, bagaimana orang mau mengevaluasi di mana letak salahnya?

Menjelang akhir, buku ini mencoba mengajak para pembaca untuk menghargai sebuah “komitmen”, hal yang paling susah dijaga dalam kultur masyarakat yang semakin bebas. Lalu, ditutup dengan renungan soal kematian. Mengutip tulisan Ernest Becker, The Denial of Death, membuat pemaknaannya akan kematian terkesan kritis, walau terlalu dramatis ujung-ujungnya.

Di tengah masyarakat pasca industrial yang penuh simbol dengan budaya konsumtif tinggi, hadirnya buku ini cukup melegakan. Sebagai buku pengembangan diri, buku ini cukup relevan dan mewakili generasi di zamannya.

Judul Buku       : Sebuah Seni untuk Berskap Bodo Amat (Terjemahan)
Penulis             : Mark Manson
Penerbit          : Grasindo
Tebal               : 246 Halaman
Cetakan           : Cetakan Keduabelas, Oktober 2018
ISBN                 : 978-602-452-698-6

Tuliskan Komentarmu !