Sengkarut Paut Media dengan Mistisisme

sengkarut media dan mistisme
Sumber gambar: merdeka.com

“Kita takut terhadap sesuatu yang tidak bisa kita ketahui”. Hasanudin

SAVANA- Film horor, reality show yang berbau ‘horor’, memang memiliki pasar tersendiri di hati para penonton Indonesia, meskipun jika itu hanya dianggap sebagai hiburan. Ini tidak lepas dari situasi masyarakat yang dalam budayanya sangat kental dengan mistis. Baik itu di pedasaan atau pun di perkotaan.

Di Kalimantan contohnya, kental dengan hantu Kunyang, yaitu kepala dihiasi dengan organ dalam tubuh yang bisa melayang dan memakan bayi. Di di Jawa Barat ada Kuntilanak, sosok perempuan bergamis putih, rambut panjang dengan suara yang khas seperti melodi di malam hari. Dan masih banyak lagi, dan seolah para hantu itu memiliki daerah kekuasaan tersendiri; Kuntilanak berada di pohon, Suster Ngesot di rumah sakit dan Pocong di sekitar pohon pisang.

Itulah yang secara tidak disadari, walau kita belum bertemu pun sudah bisa mengerti tentang mereka, betapa pengertiannya kita. Dan media menjadi penyumbang terbesar untuk kita agar bisa memahami mereka. Mulai dari cerita mitos, fiksi, komik horor, film, sampai pada program reality show. Dan televisi di sini menjadi keajaiban kecil yang ganjil, di mana ruang masa personal dengan bumbu alam ghaib dipertontonkan, dihayati, dan diamini.

Film dan konten berbau mistik tidak bisa dipisahkan dari masyarakat jaman dulu. Femonema yang terjadi masa Orde Baru misalnya, muncul film horor seperti Ratu Ular dengan adegan panas yang khas pada jaman itu, sekaligus menjadi pelopor film perhororan di Indonesia. Selanjutnya muncul tulisan dan komik, seperti komik si Petruk yang buming pada masanya dan dapat ditemukan di mana-mana. Pada masa Orde Baru ini, media yang dipakai adalah film (layar tancap), sinetron dan tulisan.

Karena genre horor diminati masyarakat kala itu, dibuatlah kode etik sensor film pada Tahun 1980, yang mengatur bahwa dalam film atau cerita horror, harus disertai dengan sosok protagonis religius. Karena adanya kode etik ini, film-film horor kala itu seperti parade pertarungan antara kiai dan setan. Ini jelas sekali berpengaruh, karena menjauhkan agama dengan realitas. Realitas yang terjadi, agama menjadi pengobatan akan hal-hal mistis semata, agama sebagai sarana mengusir entitas makhluk halus yang mengganggu.

Setelah masa Orde Baru, mistisisme menjamur pula pada era Reformasi. Van Heeren mengatakan, terjadi perubahan signifikan tayangan mistisisme seteleh reformasi, pertama, karena era Orde Baru, mistisisme dibuat spesifik ke arah adat istiadat, diperuntukkan bagi kelas bawah dengan latar dan penokohan pedesaan serta sosok religius. Kedua, era Reformasi; multikultur dan ilmu dengan latar bergeser ke perkotaan dan tidak harus disertai sosok religius.

Jika pada era Orde Baru, lebih banyak sinetron dan kisah fiksi, sedangkan era Reformasi hingga sekarang, mistisisme di ubah menjadi reality show, membawa mistis menjadi sesuatu yang nyata, seperti dunia lain, karma, dan lain sebagainya, walau film horor sebagai kisah fiksi masih terus diproduksi.

Mistisisme tidak bisa dipisahkan dari realitas masyarakat Indonesia. Ketertarikan masyarakat tentang itu tiada habisnya, dimulai dari film dan kemudian beralih ke reality show yang dikemas dengan mistis. Seolah mistis menjadi sesuatu yang nyata, program-program ini menyajikan host yang bisa ustad, kiai, kuncen, bahkan anak indigo yang disinyalir dengan indigonya memungkinkan dia berinteraksi dengan mahluk halus.

Mistisisme ini menjadi sumber ketakutan masyarakat, baik itu karena percaya kepada makhluk ghaib yang ditayangkan, maupun takut merusak generasi muda karena kepercayaan itu. Mistisisme dalam media juga berubah, dimulai dari demit dan arwah leluhur dalam kearifan lokal, jin dan khadam dalam agama Islam, astral dan gelombang elektro magnetic (polytegris) dalam sains ‘gadungan’ parapsikologi. Seiring berkembangnya jaman dan ilmu pengetahuan, mistisisme pun berkembang ke arah yang lebih absurd, semua hilir mudik dalam pertelevisian Indonesia, tergantung rating.

Mitos dan mistisisme memberi nama dan bentuk menjadi bisa dipahami, cerminan dunia sehingga kita punya kendali. Kita takut kepada hal yang tidak kita ketahui, dan tayangan berbau mistik memberi nama dan bentuk sehingga yang asalnya tidak bisa kita pahami dan takut akan hal itu, menjadi nyata dan jelas, sehingga ketakutan kita bisa dikendalikan.

Tidak bisa dipungkiri jika sekarang, media (televisi, koran, social media) sudah menjadi tolak ukur kita melihat realitas.  R. Kristiawan mengatakan, media merupakan alat penguasa untuk menciptakan reproduksi ketaatan (KUNCI 8, 2000). Media sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri, masyarakat mengambil bagian.

Media memiliki fungsi memungkinkannya masyarakat melakukan pengamatan diri (Marchinkowski 1993). Fungsi media bukan merekontruksikan realitas sosial, seperti ditulis Ana Nadhya Abrar (Abrar 1997), tetapi lebih kearah cerminan (bukan dalam artian meng-copy) baik dan buruknya keadaan masyarakat. Mistisisme di media, menjadi cerminan baik atau buruknya keadaan masyarakat.

Kita tidak usah bertanya, kenapa tayangan di televisi Indonesia sangat parah. Tetapi bertanyalah, seberapa parah kondisi masyarakat sehingga cerminan di media sampai seperti itu (Luhmann, 1996). Mulai dari program reality show yang memperlihatkan hubungan percintaan dan perselingkuhan, hingga reality show yang membawa sisi mistis, dengan host indigo yang berperan sebagai dokter segala penyakit, peramal, bahkan hakim.

Inilah yang sedang terjadi sekarang ini, bukan karena program mereka bagus, atau karena konten mereka bermanfaat, tetapi karena cerminan masyarakat. Masyarakat merasa, dan bahkan percaya bahwa hal mistis berada di sekeliling mereka. Mereka percaya, anak indigo ini dapat memecahkan masalah mistis itu, dan membuka pandangan jika mistis bukan sesuatu yang perlu untuk ditakuti. Dengan kata lain, kita taat dan mengamini, jika mistis yang dibawa mereka nyata, dan memberi kemaslahatan.

Kita memberi kendali atas hal yang tidak kita pahami, memberi nama dan bentuk, sehingga ketakutan akan hal itu ditekan. Tetapi, karena keterbatasan kita dalam memberi nama dan bentuk, kita mulai melihat, mendengar, menghayati, dan akhirnya percaya. Dan itulah penyebab dari ketakutan ketika mengunjungi kuburan pada malam hari dan sialnya pada malam jumat kliwon.

Tuliskan Komentarmu !