Seksploitasi Perempuan Masa Kini

Dalam rangkaian sejarah perjuangan Indonesia, ada satu nama di antara deretan nama-nama perempuan pejuang yang turut berjuang merebut dan menyadarkan kaum hawa Nusantara tentang arti merdeka. Ia adalah Kartini, nama yang selalu dijadikan sebagai simbol perjuangan perempuan di Indonesia.

Kartini dipandang sebagai ikon yang mampu membawa kesadaran personal menuju kesadaran komunal. Kartini mewujud menjadi spirit perjuangan perempuan Indonesia, meskipun kita sadari betul bahwa masih banyak peran serta perjuangan perempuan-perempuan Indonesia dari dulu sampai sekarang yang tidak bisa dinegasikan.

Kartini selalu diperingati sebagai hari perjuangan perempuan Indonesia setiap tahunnya, sebab Kartini dipandang mampu mentransformasi peran perempuan yang awalnya terbatas pada ruang-ruang domestik ke dalam ruang-ruang publik. Perempuan Indonesia memiliki hak hidup, hak perjuangan yang sama sebagai manusia seutuhnya.

Gegap gempita teknologi menawarkan keterbukaan dan akses yang cepat bagi perempuan untuk diakui pada ruang-ruang publik. Kemunculan kotak ajaib (televise) misalnya, menambah deret kuasa teknologis dalam rangkaian rutinitas manusia. Kotak ajaib menjadi media massa yang memiliki pengaruh signifikan dalam merubah tatanan kehidupan manusia, termasuk perempuan.

Frame mediasi lewat televisi menawarkan citra serba-serbi untuk mengkonstruksi gaya hidup dan identitas perempuan. Lewat iklan, suguhan mata acara, dan segenap produksi tv lainnya, perempuan mengkonstruksi dirinya dalam bentuk cerminan diri. Ada kuasa teknologis yang bersifat hegemonik dan dominatif. Imaji perempuan dalam kotak ajaib sangat bersandar pada mata-mata yang memandanginya. Perempuan ingin mengkonstruksi identitas idealnya berdasar pada selera publik. Dalam hal ini, perempuan mewujud menjadi objek citraan yang penuh rekayasa dan berhasrat mencapainya. Pada akhirnya, citraan media massa seperti televisi membawa kesadaran perempuan dari aurat menuju hasrat.

Aurat perempuan Indonesia yang dicitrakan sebagai perempuan pejuang dalam deretan historis perjuangan kemerdekaan Indonesia, penuh dengan sesuatu yang bersifat tabu dan dikendalikan oleh kaum adam, mulai tereduksi dan dibawa pada keserbaan hasrat yang bebas, cepat dan instan. Dengan begitu, kuasa teknologis mempengaruhi cara pandang perempuan dari yang serba sakral menjadi profan, dari yang terkendali menjadi banal, dari yang serba tabu menjadi terbuka, dari yang serba domestik menjadi publik. Perempuan dalam ruang ge-stell membentuk persona diri dengan bercermin pada pandangan orang dan akhirnya ia memandang dirinya sendiri.

Erotisme Perempuan, Seksi ala TV

Seringkali, program televisi menampilkan Perempuan sebagai aktor utama di depan layar. Biasanya, pilihan Perempuan sebagai pengisi ruang-ruang publik disesuaikan dengan akumulasi perhitungan kepentingan ekonomi para pelaku media tersebut. Perempuan dipandang sebagai komoditas utama dalam mengembangkan program siaran yang ada. Perempuan dicitrakan pula sebagai pengugah konsumen lainnya, penarik daya para penyaksi TV dan disamakan dengan alat promosi aktif yang bisa mendobrak rating sebuah program TV. Sehingga, Perempuan dipermak sedemikian rupa secara fisik dan batinnya supaya menjadi magnet bagi para penikmat TV, peningkat gairah seksual, serta dicitrakan dengan gaya erotisme yang sensual.

Peranan Perempuan sebagai public figure begitu dominan. Parahnya, justeru Perempuan tersebut yang terkesan rela menampilkan bagian tubuh tertentu dengan iming-iming meningkatnya popularitas dirinya sebagai entertainer. Padahal, di sisi lain kita bisa lihat, media cenderung mengeksploitasi Perempuan dengan berbagai cara. Hal tersebut dilakukan untuk menguatkan kepentingan-kepentingan ekonomi, politik dan ideologi para pemilik media.

Salah satu program dewasa yang menyuguhkan erotisme perempuan ini misalnya popular magazine. Aktor utama dalam Popular Magazine adalah perempuan-perempuan yang tidak tabu membincangkan seksualitas. Popular Magazine merupakan majalah dewasa yang kemudian bertransformasi dalam bentuk digital. Salah satu yang menyedot perhatian adalah channel Youtubenya yang memiliki kurang lebih 307 ribu subscriber. Kalau kita lihat, dalam akun Youtube ini, perempuan sebagai aktornya ditampilkan dengan wajah-wajah sensual dan berani berbicara seks. Topik yang diperbincangkan beragam, mulai dari tutorial senggama, pengenalan gaya-gaya berhubungan dalam ML (bukan Mobile Lagends), sampai dengan tips dan trik untuk memuaskan hasrat seksual. Perempuan-perempuan tersebut dicitrakan dengan begitu sensual, mereka diseting bukan hanya menyampaikan narasi-narasi seksualitas saja, tetapi juga memvisualisaskan beberapa gaya-gaya seksualitasnya, walaupun tidak sampai melakukannya laiknya dalam film porno.

Dalam panorama ini, teknologi layar mengemas perbincangan seks yang bersifat tabu bagi sebagian besar perempuan Indonesia menjadi sesuatu yang bersifat terbuka, bahkan liar. Aurat perempuan yang dipandang suci dan mesti tertutup dibincangkan secara terbuka dan bercampur dengan upaya pemuasan hasrat. Baik hasrat perempuan itu sendiri maupun hasrat bagi para penontonnya. Bahkan, Popular Magazine memiliki program khusus untuk memberikan kesempatan kepada setiap perempuan agar berani menampilkan citra sensual bahkan erotis melalui visualisasi layar dalam bentuk program pencarian bakat yang mereka sebut Miss Popular.

Kalau kita lihat, beberapa media televisi nasional memiliki program khusus yang diproyeksikan untuk menampilkan citra perempuan dari sisi sensualitas dan seksualitasnya. Misalnya sebut saja program RoofTop, Kakek-Kakek Narsis (KKN), Wisata Malam, Kuis Bisik-bisik, Nah Ini Dia, dan lain-lain. Kesemuanya merupakan mata acara di beberapa stasiun televisi Indonesia yang menyuguhkan perempuan sebagai pemeran utama dan mengobjektifikasi citra perempuan yang seksi. Ini menjadi bukti bagaimana televisi melalui teknologi layar dan kuasanya mengkonstruksi konsep seksi dan cantik bagi perempuan. Objektifikasi perempuan ini berpengaruh terhadap cara pandang perempuan dalam memaknai kata seksi. Perempuan berusaha memaknai seksi berdasarkan pada pandangan publik. Sehingga, ia pada akhirnya berusaha memandang dirinya sebagai seksi dengan bercermin pada pandangan publik.

Menurut Thamrin Tamagola (2015), representasi citra perempuan dalam layar dapat dikategorikan ke dalam empat citra, yakni citra pigura, citra pilar, citra peraduan dan citra pergaulan. Citra pigura berarti perempuan sebagai sosok sempurna dengan bentuk ideal seperti yang tampak pada penyiar berita dan video klip. Citra pilar, sebagai penyangga keutuhan dan penata rumah tangga, seperti iklan saus dan iklan mencuci baju. Citra peraduan, sebagai objek seksual. Citra pergaulan, perempuan jadi kurang percaya diri dalam bergaul akibat adanya iklan alat kecantikan. Pada akhirnya, keempat citra inilah yang mempengaruhi cara pandang perempuan dalam mengkonstruksi dirinya sendiri. Makna cantik ideal, seksi, putih, menarik, dan lain-lain disetting melalui beragam tanda dan direpresentasikan melalui produk, benda dan komoditi yang dijual secara massal untuk menggali keuntungan ekonomi tertentu.

Iklan, Medsos dan Eksploitasi Tubuh Perempuan

Iklan menjadi lumbung ekonomi bagi media massa. Lewat iklan, media bisa bertahan dan mengembangkan bisnisnya. Iklan dengan durasi tertentu menjadi kekuatan finansial bagi media. Pada sisi lain, produksi iklan dalam media massa dibuat sekreatif mungkin, agar efek terpaan iklan mampu menyentuh ruang-ruang psikologis penonton dan menggerakkan penonton untuk mengkonsumsi produk dalam iklan tersebut. Yang menarik adalah, bagaimana dalam sebagian besar iklan selalu menampilkan tubuh perempuan. Perempuan disetting sedemikian rupa sebagai daya tarik konsumen. Pada titik inilah, tubuh perempuan dikemas mengikuti logika media massa yang mewakili simbol-simbol komoditas tertentu. Melalui iklan, tubuh perempuan dikemas dalam citra yang fetish. Tubuh perempuan yang ideal dalam teknologi layar adalah tubuh yang cantik, menarik, seksi, putih, rambut lurus, dan lain-lain. Imaji perempuan tentang tubuhnya adalah standar kecantikan media massa yang harus dicapai oleh semua perempuan.

Selain iklan, kemunculan new media (internet) lewat fitur social media memberikan ruang baru bagi aktualisasi citraan perempuan secara bebas dan terbuka. Media sosial seperti facebook, twitter, instagram, youtube, dan lain-lain seolah menjadi ruang komunikasi baru, menjadi tempat bagi perempuan untuk menampilkan tubuhnya dalam teknologi layar. Bedanya, kalau iklan sangat tergantung pada pengiklannya, maka lewat medsos perempuan bisa dengan bebas menunjukkan tubuhnya yang ideal kepada publik.

Namun, pada titik tertentu, media sosial juga tak jarang menjadi ruang mediasi dalam aktualisasi sifat narsisctic perempuan dalam berbagai hal, termasuk dalam menampilkan kemolekan tubuhnya. Hal ini semakin didorong dengan merebaknya perilaku selfie, sebuah tindakan swapoto yang dilakukan untuk mencapai kepuasaan psikologis tertentu. Perempuan menginginkan daya pikatnya diminati bahkan dinikmati oleh orang-orang yang memandangnya. Keduanya, baik televisi lewat iklannya maupun internet lewat media sosial menjadi ruang aktualisasi, ruang hegemoni, ruang komodifikasi bahkan ruang eksploitasi tubuh perempuan.

Dalam pandangan Marwah Daud Ibrahim (2013), ada beberapa alasan mengapa hegemoni media mengintimidasi Perempuan sebagai aktor utama dengan permak-permak yang dilakukannya. Media menjadikan Perempuan sebagai objek seksual kaum adam, dan cenderung melupakan proses perlindungan terhadap hak-hak Perempuan.  Perempuan dijadikan sebagai komoditas media, dan hampir semua pihak merasa senang dengan eksploitasi tubuh Perempuan tersebut. Ironis memang, harusnya media mampu memberikan satu pelajaran cerdas terhadap masyarakat Indonesia bagaimana menghargai kaum hawa sebagai manusia seutuhnya. Bagaimanapun, laki-laki dan perempuan diciptakan dari sumber yang sama dan masing-masing tidak boleh saling mendominasi, atau satu pihak jangan sampai terdiskriminasi karena kepentingan pihak yang lain.

Alasan pertama mengapa Perempuan dipandang dominan dan dicitrakan erotis dalam media karena hampir sebagian besar aktivitas yang berkaitan dengan media dikuasai oleh laki-laki. Mulai dari cameraman, fotografer, reporter, editor, dan lain-lain. Hal ini memungkinkan Perempuan hanya sebagai objek media saja. Atau sebenarnya Perempuan sebagai objek lelaki saja. Tampilan-tampilan yang disuguhkan cenderung lebih mengedepankan libido laki-laki, dilihat dari sudut pandang laki-laki dan angel yang didapat jelas angel laki-laki disesuaikan dengan kebutuhan lelaki tersebut.

Kedua, secara psikologis manusia mempunyai harapan besar dalam hidupnya. Manusia ingin mengekspresikan syahwat atau ambisinya dan ingin memperoleh penegasan dan pengakuan dari pihak lain. Laki-laki dan Perempuan mempunyai satu keinginan yang sama dalam alam bawah sadarnya. Keinginan menjadi manusia paripurna  dan ingin mendapat reinforcement dalam pihak lain. Hasrat untuk menggapai kesuksesan secara instan, menjadikan perempuan rela untuk mengguar sensualitas di depan layar demi kelangsungan cita-cita hidupnya.

Ketiga, boleh jadi Perempuan memasuki masa anomali. Eksistensi atau keberadaannya sedang tertantang dengan hebat. Ketika Perempuan sedang menikmati pendidikannya, informasi dan cakrawala wawasan, keinginan dan tuntutan untuk memperpanjang langkahnya semakin besar. Dalam keadaan seperti ini Perempuan tidak mau menghentikan langkah yang ia mulai dan ingin mencapai klimaks kesuksesan sesuai standar kehidupannya. Entah itu kesuksesan pendidikan, ekonomi, politik ataupun kesuksesan sebagai Perempuan yang berkeluarga. Dalam hal ini Perempuan tetap dipandang sebagai objek.

Terakhir, erotisme Perempuan dalam media bisa jadi muncul sebagai wujud kekangan nilai yang kian hari kian longgar. Manusia adalah homo homini lupus (manusia ibarat serigala yang berlaku kanibal), begitulah ungkapan Thomas Hobbes. Ketika muncul aturan sebagai perangkat nilai dan norma sosial yang disepakati, pada dasarnya manusia mencoba mengalihkan hasrat-hasrat hewaninya yang cenderung biadab dan disalurkan melalui serangkaian kegiatan yang lebih bermanfaat, sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia terhadap diri, lingkungan dan sesamanya. Nilai dan norma tersebut muncul untuk mengatur manusia supaya tidak terjebak pada aktivitas hewani yang dapat merugikan manusia lainnya.  Nilai dan norma social pula digunakan untuk menyadarkan manusia dalam menegakkan kenyamanan, keamanan dan kedamaian di lingkungan sosialnya.

Erotisme Perempuan yang disuguhkan media bisa jadi karena longgarnya nilai-nilai sosial yang ada dan cenderung terjadi penyimpangan perilaku Perempuan dalam proses eksistensial dirinya. Perempuan merasa nyaman dengan kebebasan yang ia dapat dan pihak lainnya cenderung apatis, tidak mau memperhatikan apa yang dilakukan atau bahkan menjadi bagian dari penikmat erotisme yang ada.

Dalam kajian psikologi ada yang disebut dengan Fetis Envy, yakni rasa iri yang dimiliki oleh perempuan Karena alat vital yang ia miliki tidak sama dengan laki-laki. Rasa iri ini menjadikan dirinya sebagai seseorang yang rendah diri dan tidak dapat mencapai keparipurnaan yang dimiliki laki-laki. Sementara dalam kajian Feminis Marxis ada yang disebut Fetisisme Komoditas, perempuan ijadikan sebagai komoditas kaum lelaki dalam menggali dan meningkatkan kepentingan ekonomi dirinya. Seks-ploitasi perempuan dalam media merupakan wujud dari kesenjangan ekonomi.

Dengan demikian, seksploitasi perempuan Indonesia masa kini dapat terjadi pada ruang-ruang media massa apapun. Semuanya bersifat terbuka, masif dan cepat. Seks yang awalnya tabu dalam pandangan perempuan Indonesia menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Jangankan untuk ditampilkan, untuk diperbincangkan saja dianggap sebagai seuatu yang tidak sejalan dengan moralitas bangsa Indonesia.

Kehadiran teknologi layar dengan kuasanya, mengubah paradigma seks yang awalnya terjaga dan penuh aurat menjadi sesuatu yang banal dan berhasrat. Bahkan, seksualitas perempuan dengan citraan media massa dan hegemoni yang dikemasnya dieksploitasi dengan prospek ekonomi tertentu.

Kartini-kartini Indonesia yang dulu, menjaga seksualitas hanya pada ruang-ruang domestik dan personal. Sekarang dengan hegemoni media, beralih pada perbincangan seksualitas yang bersandar pada pandangan orang lain dan dibincangkan pada ruang-ruang publik. Semoga kesadaran akan kemerdekaan bagi perempuan sebagaimana yang diperjuangkan oleh Kartini dan pejuang perempuan Indonesia lainnya senantiasa berkesesuaian dengan tradisi dan nilai moral yang dijunjung oleh bangsa Indonesia. Sebab, perempuan memiliki hak dan martabat yang sama untuk dijaga dan diposisikan pada derajat yang tinggi.

Tuliskan Komentarmu !