Sekelumit Tentang ‘Orang-Orang Proyek’

doc pribadi

SAVANA- Karya sastra menjadi salah satu bentuk ekspresi kumpulan emosi penulisnya, yang membuncahruah keluar menjadi kumpulan kata-kata. Salah satunya novel Orang-Orang Proyek ini, yang ditulis oleh Ahmad Tohari pada tahun 2002, dan telah beberapa kali mengalami cetak ulang dengan penerbit yang berbeda. Latar suasana novel ini masih bernuansa orde baru yaitu sekitar tahun 1992.

Novel ini terbagi ke dalam lima bagian cerita. Dengan 256 halaman ini menceritakan seorang sarjana teknik yang bimbang antara mempertahankan idealismenya atau mengikuti arus di lapangan yang tak pernah diduganya. Ia harus memimpin sebuah pengerjaan proyek jembatan yang menghubungkan sebuah desa yang sudah lama terputus aksesnya masing-masing. Jembatan tersebut dibangun di atas sungai Cibawor, begitu di dalam novel ini disebutkan.

Tentu dalam sebuah proyek, banyak profesi terlibat, seperti insinyur, mandor, tukang dan bahkan warteg. Insinyur tersebut bernama Kabul. Memang, Ahmad Tohari sebagai penulis ini yang telah menulis banyak dikenal sebagai seorang penulis yang sering mengangkat kisah-kisah dari orang-orang kecil, seperti yang dikisahkan novel ini, dimana Kabul dengan
kejujuran dan kesungguhannya ingin berpihak pada masyarakat miskin dengan membangun jembatan dengan sebaik mungkin.

Sesuai judul novel ini, secara keseluruhan menceritakan mengenai sekelumit kisah orang-orang proyek dan dinamika di dalamnya. Seperti apakah anggaran sebuah proyek itu benar-benar sesuai dengan kualitas yang dihasilkannya? Atau anggaran besar yang keluar tak menjamin kualitas hasil dari proyek tersebut? Apa yang menghambat sebuah proyek dari awal pembangunan sampai selesai?.

Di sini juga diceritakan, bahwa ternyata sebuah proyek itu tak jarang ditunggangi kepentingan politik. Selain itu, pelaku korup ternyata bukan hanya di ranah para birokrat besar saja. Di akar rumput pun, di tingkat masyarakat pun, laku korup tak dipungkiri keberadaannya. Kita hanya tak pernah mengakui dan menyadari hal itu. Kita sering mengutuk sikap para koruptor kelas kakap, tapi apakah kita juga tidak korup? Sekalipun itu hanya kelas teri?

Selain mengenai kisah orang-orang proyek, dalam novel ini juga tak terlewatkan kisah asmara antara Kabul dan Wati. Wati sendiri bekerja di proyek yang sama dengan Kabul sebagai seorang sekretaris. Mereka berdua bisa dikatakan sebagai cinlok (cinta lokasi), yang juga dibubuhi intrik bahwa ternyata Wati sudah mempunyai pacar. Namun pada akhirnya
Kabul dan Wati menjadi pasangan suami dan istri. Tapi cukup sepertinya, kisah kasmaran ini bukan menjadi topik utama yang ingin diangkat dalam novel ini.

Selain kisah asmara, diceritakan juga bagaimana obrolan-obrolan yang mendalam antara Kabul dan Pak Tarya, seorang lelaki pensiunan yang kini memiliki hobi memancing. Bagaimana pengalaman yang dimilikinya kemudian memunculkan obrolan yang penuh makna antara pemuda yang idealis dan lelaki tua yang realistis dan cenderung kompromistis
terhadap keadaan.

Kabul pun sebagai pemimpin proyek tersebut pun harus dipertemukan dengan seorang sahabatnya yang dulu satu kampus tapi beda jurusan, yaitu Bejo. Meskipun keduanya berbeda jurusan, akan tetapi keduanya merupakan seorang aktivis pada saat masih berkuliah. Dan ternyata sahabatnya itu merupakan seorang kades di mana proyek Kabul itu berlangsung.

Namun timbul permasalahan di sana, dulu setiap pemimpin daerah baik itu tingkat terendah sampai yang paling atas, mereka otomatis menjadi anggota partai pemerintahan yang sedang berkuasa. Jadi, sekalipun mereka dulu sama-sama aktivis, pada akhrinya berbeda pandangan
satu sama lain.

Sebenarnya, kata “proyek” tidak bisa hanya digambarkan sebagai bentuk pembangunan gedung, jembatan seperti dalam novel ini dan hal lainnya saja yang berkaitan dengan bangun membangun. Karena program bantuan pemerintah untuk masyarakat yang terkena pandemi Covid-19 yang sedang marak pun itu bisa dikatakan sebagai proyek, karena hal tersebut akan menjadi ladang mencari untung para pelaku korup. Jadi dalam novel proyek dipahami secara luas, yang pada intinya sebagai ajang mencari celah mendapat keuntungan.

Karena masih dalam suasana orde baru, tentu novel ini tidak akan melewatkan begitu saja mengenai bagaimana pemerintahan yang pada saat itu memimpin. Walaupun tidak secara eksplisit menyebutkan nama partainya, tapi di sini terasa jelas mengarah ke mana sebutan partai yang ada di dalam novel ini. Partai tersebut dinamai dengan partai Golongan Lestari Menang atau disingkat GLM yang memiliki lambang pohon beringin.

Dan ada cerita yang menarik. Suatu saat, di akhirat nanti, para penghuni surga dan neraka mendapatkan sebuah proyek untuk membangun sebuah jembatan yang menghubungkan keduanya. Maka pembuatan jembatan pun dibagi dua, setengah oleh penghuni surga setengah lagi oleh penghuni neraka. Dan ternyata yang lebih dulu selesai adalah pengerjaan yang dilakukan para penghuni neraka, karena ternyata di sana banyak mantan orang-orang proyek.

Judul : Orang-orang Proyek
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun : April, 2016. (Cetakan ketiga)
Tebal : 256 halaman ; 20 cm

Tuliskan Komentarmu !