SEBUAH TANGIS

ilustrasi by: portalsatu.com

Kadang, ada sikap yang tak terdefinisi secara pasti. Sebuah melodrama melankolis untuk menunjukkan “ada”, atau paling tidak, ingin didengar.

Keberadaan manusia memang selalu ingin diakui. Sejauh mana efek kehadirannya pada satu kelompok atau segelintir orang, lebih jauh lagi, pada seluruh kehidupan. Kadang, untuk mengukur itu, manusia bersikap ambigu; menangis.

Menangis adalah sebuah wacana yang tak pernah habis. Selama manusia masih mempunyai rasa yang tak teraba, selama itu, menangis selalu punya jalan cerita.

Dalam posisi seperti ini, menangis tak hanya tergambar dengan tetesan air mata, tapi lebih kepada “penunjukkan” sikap yang tak terdefinisi. Sebuah ungkapan yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri, namun seolah “memaksa” orang lain untuk mencoba mengerti juga.

Selalu ada harapan yang tak tercapai di balik sebuah tangisan yang seperti ini, dan dengan ia menangis, sebuah fakta inginnya sejalan dengan apa yang ia harap, paling tidak, siapa pun orang yang mendengar tangisan, dapat memahami.

Isak tangis, selalu menghadirkan sebuah cerita yang tragis, atau dipoles supaya terkesan tragis. Tak pedulilah dengan kisah orang lain, yang terpenting adalah “aku dengan harapku”. Persetan dengan kucuran keringat hingga darah orang sebelah, yang kumau tau adalah “aku sudah cukup berkorban untuk itu”. Tangisan adalah ego.

Pada gilirannya, kita pun akan mendengar sebuah tangisan. Sebaris kata mutiara terpasang dengan bijak. Seolah kita rasakan dunia abu-abu yang kadung direduksi. Tak jarang juga hati inginnya menggerutu “gitu aja kok repot”, namun kita jangan pernah lupa, “menangis adalah sebuah wacana yang tak pernah habis”, selalu ada “sesuatu” yang tak pernah terlihat di balik semua itu.

Namun, adakalanya juga kita menangis bukan untuk “diri sendiri”. Bukan ego yang ingin diakui realitas, tapi justru realitas yang sudah terakui oleh kita. Pada situasi seperti ini, kita mengaitkan “diri” pada sesuatu yang jauh di sana, pada sebuah cerita epik yang entah terjadi atau tidak, pada sebuah riwayat heroik yang berakhir mengenaskan. Kita pun seolah terlibat.

Menangis adalah sikap yang tak terdefinisi secara pasti. “Jika aku menangis, aku pun tak tau kenapa, karena selalu ada bagian yang tak dapat dimengerti”. Mungkin aku salah jika mengaitkan tangisan dengan alam logika, karena sebuah tangis, adalah perwujudan dari sebuah rasa yang tak teraba. Sikap ambigu juga.

Tuliskan Komentarmu !