Savana Post: Dari Manusia, Untuk Manusia

savana post untuk manusia
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- “Inspirasi tidak datang begitu saja. Ia hadir didahului oleh prakondisi yang lalu membuntutinya.

Catat ya, ini tulisan sederhana saja. Tidak banyak faedah, mungkin, tapi bermakna –setidaknya menurut saya. Anda boleh beda pendapat soal ini, yang penting jangan menjadikan perbedaan tersebut semacam skisma dalam Agama yang merunut perpecahan bingkai bhinneka tunggal ika. Saya sudah terlalu muak dengan sampah-sampah hoaks dan ujaran sarat akan rasa benci di sosial media. Hingga akhirnya saya bertamasya ke savanapost.com.

Inspirasi saya menulis risalah sederhana ini bermula dari komentar saya di akun facebook Savana Post terkait postingannya mengenai esai pertama saya (Baper dalam Secangkir Kopi). Tentu ucapan terimakasih adalah sebagai pembuka komentar saya. Lha, wong saya ini manusia loh, masih memiliki radar kebaikan untuk merespon kebaikan orang lain. Ya, yang paling sederhana bilang terimakasih.

Masih di kolom komentar, saya menanyakan perihal tulisan yang bernuansa humor. Apakah boleh? tanya saya. “Asal dimengerti oleh umat manusia,” itulah jawaban admin Savana Post.

Bagi saya yang awam soal hermeneutika, analisis wacana kritis, ilmu mantiq dan balaghah, jawaban admin Savana Post membuat saya jadi sedikit mikir, dan ingin mencari makna yang tidak biasa.

Asal dimengerti oleh umat manusia. Ya, bisa jadi itu hal biasa, bahwa menulis di savanapost.com dengan genus tulisan beraroma humor tak mengapa, yang penting orang yang membaca dapat mengerti. Bahasanya bisa dipahami. Mungkin itu yang dimaksud Savana Post. Mungkin lho, ya!

“Lalu, apa maksud makna yang tidak biasa?” bisik kolong langit.

Begini, keempat disiplin ilmu di atas, katakanlah sebagai piranti ilmiah untuk melakukan tafsir atas suatu teks. Maka hermeneutika, analisis wacana kritis, ilmu mantiq dan balaghah memiliki landasan filosofis dan metodologinya sendiri-sendiri secara ilmiah dan ketat.

Nah, di sini saya mencoba melakukan semacam tafsir bebas non-scientific atas teks “asal dimengerti oleh umat manusia”. Dalam soal ini, saya taklid pada metode kearifan Cak Nun dalam mendekati teks kitab suci, yakni Tadabbur.

Konsep Tadabbur Cak Nun bukan soal keketatan ilmiah dan kebenaran objektif, atau berurusan dengan metode kuantitatif yang positivism atau kualitatif post-positivism. Akan tetapi, dalam satu Maiyahannya Cak Nun pernah berkata: “Tadabbur bukan memungkasi sebuah permenungan dengan benar atau salah. Yang hendak dituju dari proses Tadabbur adalah kebaikan, keindahan, atau kesafian.

Jawaban Savana Post di atas, hemat saya merupakan proposisi yang merepresentasikan savanapost.com itu sendiri. Terlepas admin menuliskannya asal nulis, bagi saya ada nilai yang secara implisit menjadi semangat savanapost.com sebagai alternatif, bahkan pilihan bagi saya untuk tumbuh dan berkembang.

Asal dimengeti oleh umat manusia mengandung beberapa pesan. Pesan-pesan tersebut sudah saya kemas menjadi semacam tesis-tesis dalam kognisi, di antaranya:

Pertama, selangit apapun ide, jika tidak membumi, hanya akan menjadi gumpalan awan hitam yang tak kunjung jadi hujan.

Sebagus apapun ide untuk ditulis di dalam benak dan memori otak, jika kemudian tidak mampu untuk menuangkannya dalam bahasa tulisan yang bisa dimengerti oleh pembaca, maka ide hanya sebagai ide. Bukan ide sebagai transformasi sosial.

Kedua, menjadi bagian dari savanapost.com bukan hanya sebagai penulis yang andal. Akan tetapi, dituntut menjadi pribadi yang mampu untuk bisa dimengerti orang lain sekaligus mengerti “yang liyan’’.

Ini meniscayakan sebuah attitude atau kepribadian yang apik. Bahwa sebagai penulis, bukan jumawa yang menjadi jubahnya karena telah popular atau superior. Kemengertian adalah dimensi safi sebagai ruang bagi perjumpaan martabat yang satu dengan martabat yang lain. Saling memartabati antara penulis dan panakawan (pengasuh) savanapost.com, antara penulis dan pembaca. Dalam istilah jawa masyhur dikenal ngajeni.

Ketiga, savanapot.com adalah dari manusia, oleh manusia, dan untuk manusia.

Oke, oke, ini terkesan biasa saja. Tapi untuk siapa lagi kalau bukan manusia? Namun, salah satu karakter yang harus ada agar kita tetap disebut sebagai manusia adalah punya rasa malu. Kalau tidak, apa bedanya kita dengan satokewan kecebong atau kamfret?

Rasa malu paling dasar sebagai tukang nulis bagi saya adalah malu kalau tulisan yang saya bikin itu bukan hasil olah pikir pribadi alias plagiat. Savanapost.com itu udara segar bagi saya yang kerap puyeng kalau menulis sebuah makalah yang notabenenya ketat bahasa dan metodologi. Saya lebih suka menulis opini atau esai begini, biar tidak perlu menuliskan banyak catatan kaki dan referensi.

Bukankah Gus Dur seorang kolumnis, seorang yang cenderung menulis opini atau esai ketimbang makalah yang penuh catatan kaki? Bukankah Cak Nun sebagai tokoh bangsa ini adalah seorang esais juga? Esai atau opini bagi saya lebih orisinil ketimbang makalah. Esai dan opini lebih merupakan lumeran ide atau analisis pribadi atas realitas alam dan sosial. Bukankah lebih orisinil sekaligus mesra?

Sini, Abang peluk ~

Baca Juga: Pram, Sastra, dan Pandangan Kita

Tuliskan Komentarmu !