Samaran dan Rahasia yang Terungkap

samaran

SAVANA- Saya selalu percaya ucapan seorang teman dulu: cara mengatasi kebosanan adalah dengan mencari kegiatan lain, dan kegiatan yang paling menyenangkan adalah dengan duduk dan membaca buku. Hingga saat ini, fatwa dari teman saya ini selalu saya jadikan pedoman.

Beberapa hari terakhir, saya dipinjami buku oleh seorang kawan. Buku yang sangat tipis juga sangat tidak selera (sebenarnya) dari judul maupun covernya. Kadang pepatah mengingatkan: jangan menilai sebuah buku dari covernya. Namun itu tidak berlaku untuk saya, karena saya termasuk pembaca yang juga menilai buku dari covernya.

Novel Samaran saya baca dengan rada males, namun melihat betapa bosannya saya waktu itu, saya akhirnya memulai membaca, terlebih sudah beberapa hari kehabisan buku bacaan. Hingga setelah saya membaca sampai selesai, anggapan saya bahwa buku Samaran bukan bacaan bermutu ternyata salah besar, karena ternyata inilah novel yang membuat saya terhibur, ketawa, juga berpikir keras.

Entah apa yang terpikir dalam benak penulis ketika menulis novel yang super kancil ini. Novel Samaran berkisah tentang suatu desa terpencil dengan sejarahnya yang panjang, sebuah tempat yang bahkan bisa dikatakan jauh dari dunia luar. Kehidupan masyarakatnya beragam, juga karakter masing-masing penduduknya. Bahkan setiap orang bisa saling mengenal satu sama lain baik dan buruknya, itu dikarenakan hubungan kekerabatan yang ada di Samaran sudah terjaga kental dan itu diwariskan turun temurun.

Melihat Samaran juga sebenarnya menunjukkan wajah desa yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Interaksi sosial yang dibangun dalam Samaran jelas sekali bahwa penulis sangat memahami kehidupan yang ada di desa.

Saya benar-benar harus berpikir keras ketika membaca novel ini, alur cerita yang digunakan dalam penulisan ini menggunakan alur maju mundur, juga ini yang saya kira menjadikan novel ini menarik, karena dari alur maju mundur tersebut konflik yang terjadi antara konflik tokoh satu dengan tokoh lainnya bisa kita ketahui. Jalinan kisah inilah yang menjadikan novel ini sangat kuat.

Namun ini juga bisa menjadi kekurangan novel Samaran, ketika pembaca tidak bisa berpikir keras dan konsentrasi, karena jalinan cerita yang melompat dari penceritaan satu tokoh dengan tokoh lainnya, juga dengan kejadian satu dengan kejadian lainnya sangat rumit untuk dipahami. Makanya saya katakan dari awal bahwa ini sebuah novel yang membuat saya harus berpikir keras.

Secara garis besar, novel ini berkisah tentang kehidupan sebuah desa yang bernama Samaran, dengan dinamika kehidupan penduduknya. Namun kisah yang ditawarkan sungguh menghibur, kita tidak akan pernah menyangka bahwa di dalamnya terdapat hiburan yang diselipkan penulis, juga banyak kejadian nyata yang terjadi disekitar kita, terutama peristiwa 1965. Kisah-kisah yang terjalin dan sambung menyambung itulah yang dinarasikan sangat apik oleh Mas Dadang, dan itu berhasil membuat saya terkagum-kagum setelah membaca novel ini.

Akhir kisah ini juga merupakan akhir yang tidak terduga. Rahasia tokoh-tokoh dalam novel ini terbongkar semuanya oleh narator, dan saking kesalnya dengan akhir yang tak terduga, saya sampai mengumpat berkali-kali, dalam arti saya awalnya bisa menebak akhir kisah ini namun ternyata dugaan saya meleset. Penulis dengan apik mengawali sebuah cerita dari narasi yang bisa membuat penasaran untuk melanjutkan membaca novel ini, juga menutup dengan apik kisah yang tak terduga ini.

Siapa pun yang berharap akan menemukan bahasa indah dalam novel ini layaknya Novel Pulang karya Leila S Chudori, ataupun bakal menemukan jalinan cerita indah dalam Novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, saya kira anda harus membuang jauh-jauh pikiran itu. Namun jika anda menyukai karya Sabda Armandio dalam karyanya 24 Jam Bersama Gaspar, saya kira novel ini tidak akan mengecewakan anda. Samaran adalah kita dimana tempat imajinatif itu adalah kita dalam kehidupan sehari-hari, Samaran adalah kita dimana setiap tokoh yang dibangun adalah kita dalam lingkungan masyarakat sehari-hari.

Jika Mas Dadang mampu membuat lakon sedemikian rupa dalam kisah fiksi, mampukah kita mengambil pelajaran dari kisah fiksi tersebut untuk dijadikan teladan dalam kehidupan kita sehari-hari? Karena pada dasarnya Samaran adalah wujud nyata dari kehidupan masyarakat kita di desa, dan Samaran adalah wujud masyarakat kita itu sendiri.

Judul : Samaran
Penulis : Dadang Ari Murtopo
Penerbit : Buku Mojok
Cetakan : I, Februari 2018
Tebal : iv+ 200hlm; 13x 20cm
ISBN : 978-602-1318-60-7

Tuliskan Komentarmu !