Sabyan dan Prototype Islam Milenial

Ilustrasi Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Nissa Sabyan, siapa yang tak kenal dengan perempuan kelahiran Jakarta ini? Namanya melejit  ke panggung musik Tanah Air setelah berhasil mengcover beberapa lagu shalawat seperti Deen Assalam, Yaa Habibal Qalbi, Yaa Maulana dan lain sebagainya.

Hingga kini, followers instagramnya mencapai 1.3 juta, pun dengan viewers youtubenya rerata mencapai 150 juta. Sabyan bukan hanya sukses mewarnai dunia musik Tanah Air, tapi juga sukses membawakan Islam pada generasi millennial.

Apa yang dibawa Sabyan ini adalah apa yang saya sebut dengan secara tidak serius sebagai “Islam Millenial”. Islam millenial ini adalah Islam yang dibawakan oleh para generasi millenial dan dipersembahkan untuk generasi millenial dengan tidak merubah hal-hal yang bersifat substansial dalam Islam. Sehingga apa yang saya istilahkan itu hanya berkisar pada bentuk pengekspresian ataupun metode penyampaian Islam.

Menurut Karl Mannheim, generasi millenial ini adalah generasi yang berhasil melewati millennium kedua, dan karakteristik dari generasi ini di antaranya adalah banyak menggunakan komunikasi instan, aformalis, dan selalu ingin mendapat akses yang mudah, murah, dan cepat. Dengan memperhatikan hal-hal menonjol dalam karakteristik milenial ini, maka menjadi cocok jika Sabyan menjadi prototype Islam Milllenial.

Asumsi saya didasarkan pada analisa pendek ini; pertama, penampilan. Penampilan yang dibawakan Sabyan terbilang unik karena dapat memadukan dua citra, yakni citra Islam yang menutup aurat dan citra anak-anak muda millenial yang santai dan anti formalis. Ini menentukan enak atau tidaknya untuk ditonton.

Kedua, konten-konten lagu yang dibawakan. Konten-konten lagu yang dibawakan merupakan lagu-lagu yang sebetulnya merupakan lagu yang sudah berkembang puluhan tahun lalu dan selalu dilantunkan di masjid-masjid oleh orang tua kita. Dalam hal ini, Sabyan melakukan rekondisi terhadap lagu-lagu shalawat tersebut agar lagu-lagu shalawat tersebut menjadi fresh kembali. Konten dalam lagu tersebut menjadi lebih kaya lagi maknanya setelah disuguhkan translate dalam setiap videonya, seperti lagu Deen As Salam yang menyampaikan bahwa Islam merupakan agama damai. Ini sangat menentukan sampai atau tidaknya pesan pada pendengar dan penonton di Youtube.

Ketiga, pemilihan media penyampaian. Media penyampaian lagunya dipilih dalam aplikasi yang sudah mencapai satu miliar download dalam Playstore, tidak lagi melalui media pengeras suara masjid. Hal ini pun sangat menentukan untuk tercapai atau tidaknya pesan kepada masyarakat yang luas. Youtube kini menjadi salah satu aplikasi yang paling banyak diminati oleh generasi millenial karena menyuguhkan kemudahan dalam mengakses segala sesuatu, dari hal yang sifatnya edukasi/pendidikan sampai hiburan.

Setidaknya itulah beberapa faktor kesuksesan Sabyan di belantara musik Tanah Air, selain memiliki paras cantik dan suara merdu, banyak nilai dakwah yang disampaikan dalam lagu-lagunya tersebut dengan metode yang khas gaya millenial.

Dengan demikian, pola-pola yang dilakukan Sabyan ini harus kemudian ditiru oleh para aktivis dakwah di era millenial dengan terus melakukan pengembangan-pengembangan yang lebih baik lagi. Dan akan menjadi usang ketika dakwah hanya dilakukan di masjid dan mimbar saja, apalagi yang menjadi sasaran dakwah kita saat ini tidak hanya orang tua, melainkan anak-anak muda millenial yang senangnya bermain gadget dan nongkrong di café-cafe.

Maka perlu kita akomodir anak-anak muda millenial tersebut dengan pola-pola yang bisa mereka terima. Karena dalam prinsip dakwah, suatu pesan tidak akan sampai kepada penerima pesan (Madh’u) jika penyampai pesan (da’i) tidak dapat menganalisa siapa dan bagaimana si penerima pesan tersebut. (Wallahu a’lam)

Tuliskan Komentarmu !