Romantisme dan Spiritualitas Ramadan

rosihan fahmi
Ilustrasi: Rizki Agustian

SAVANA- Membincangkan momen ramadan, bisa banyak kata kunci yang bermunculan. Sebut saja seperti aroma bahwa ramadan sebagai bulan penuh rahmat, penuh ampunan, saling berempati pada sesama, saling merasakan hingga momen berbagi dan mengabdi.

Aroma lainnya yang tak kalah seru untuk diperbincangkan adalah rasa haus dan lapar, hingga bau mulut. Atau sandal jepit yang tertukar di emperan mesjid hingga hilang entah ke mana.

Tentunya masih banyak lagi ceruk aroma hikmah yang dapat digali di momen ibadah shaum di bulan ramadan ini, karena sejatinya momen ini bukan sekadar momen “olah raga tubuh”: menahan dari rasa haus dan lapar. Lebih dari itu, ini momen “olah ruh” yang tak hanya berbatas pada kebaikan pribadi, namun memiliki pesan untuk perubahan sosial dalam balut Lillahi ta’ala.

Tapi kata kunci yang paling populer dalam momen ramadan tiada lain adalah haus dan lapar hingga bau mulut. Mengapa demikian? Karena ini semua berdampak langsung pada tubuh, hingga seolah menjadi hal yang paling dominan.

Sayang seribu sayang tentunya, pabila ramadan hanya tertuju pada shaum atau puasa semata, hanya akan berujung pada sejuta ucapan yang tersebar ramai dalam spanduk: “selamat menunaikan ibadah puasa”.

Alhasil, seolah ibadah di bulan ramadan hanya sebatas shaum, sebatas tertuju pada tubuh semata. Sejatinya, ibadah shaum di bulan ramadan mampu melampaui tubuh. Ibadah shaum merupakan ibadah ruh untuk perubahan tatanan sosial masyarakat dalam balut menggapai rida Illahi rabbi.

Tubuh hanyalah media terdekat sebagai sasaran ibadah shaum. Terjebak pada tubuh, mengakibatkan ibadah shaum cenderung “meterialiatis”. Menunaikan ibadah shaum, berarti menunaikan ibadah perubahan diri hingga bakti untuk negeri dalam balut Illahi rabbi.

Momen lainnya yang tak kalah romantis dan sentimentil adalah buka bersama. Buka bersama sesama teman, teman sekelas, teman sekantor dan yang penting bersama keluarga. Buka bersama keluarga pada akhirnya bukan sekadar ajang makan dan minum. Banyak tersebar nilai-nilai berharga dalam ritual bersama keluarga.

Ritual ramadan melalui buka bersama keluarga menjadi ajang berbagi bersama, momen yang mungkin jarang ditemui di bulan-bulan lainnya; entah atas nama kesibukan pribadi, hingga enggan berbagi waktu untuk ada bersama.

Bersama ramadan, keutuhan keluarga sangat terasa. Sedari persiapan sahur, saling mengingatkan satu sama lain proses menjalani ibadah shaum pada sesama anggota keluarga, hingga akhir ditutup buka bersama keluarga dalam balut bahagia.

Dengan demikian, momen ibadah shaum di bulan ramadan ini turut memperkuat pondasi masyarakat dalam berbagi dan saling mengingatkan: keluarga.

Momen ibadah shaum menjadi momen keluarga yang intim dan sentimentil, penuh dengan romantisme dan drama dalam keluarga.

Selamat menunaikan ibadah shaum di bulan ramadan ini dalam bahagia. Wallahu’alam.

Tuliskan Komentarmu !