Revolusi Industri 4.0 dan Arah Baru Pergerakan Mahasiswa

arah pergerakkan baru mahasisiwa

SAVANA- “Dalam menghadapi perubahan di era revolusi industry 4.0 ini, mahasiswa seharusnya menjadi kaum yang mewarnai perubahan, bukan justru terwarnai oleh perubahan itu”, celoteh rekanku yang memandang perubahan di era baru ini dengan nada sinis-skeptis. Dia punya pandangan bahwa perubahan yang terjadi di era baru ini berpengaruh buruk pada berbagai aspek kehidupan, sehingga harapan kemajuan itu seharusnya direalisasikan dengan pola-pola dan perencanaan dahulu.

Misal, sosialitas manusia menjadi rendah setelah munculnya gadget. Dalam hal ini dia memimpikan satu masyarakat yang berinteraksi dengan baik tanpa “via”, sehingga hubungan emosional antar manusia terjalin erat dengan baik.

Selanjutnya pada aspek bisnis. Katanya, perubahan pola bisnis di era baru ini memicu konflik yang begitu tajam. Misal, perseteruan ojol (ojek online) vs opang (ojek pangkalan) yang tak jarang sampai mengeluarkan darah. Bisnis ojol dinilai telah men-disrupsi bisnis opang. Masih dalam aspek bisnis, kata dia, bisnis di era baru ini semakin tidak rasional, karena cukup dengan memiliki foto dari suatu produk seseorang, sudah bisa mendapatkan penghasilan yang cukup.

Baginya kerja adalah sesuai dengan apa yang dikategorikan oleh H.Arvon, bahwa kerja harus mengeluarkan energi. Kemudian, katanya bisnis di era baru ini telah meruntuhkan nilai guna karena terbiaskan oleh nilai symbol atau prestise. Orang lebih mengutamakan citra ketimbang kegunaannya, orang lebih melirik foto-foto produk yang cantik dalam Instagram tanpa menimbang kualitas dan kegunaan dari produk tersebut.

Orang-orang menyebut era baru ini dengan Revolusi Industri 4.0. Istilah ‘Revolusi Industri’ ini pertama kali dibahasakan oleh Friedrich Engels dan Louis-Augustie Blanquie di pertengahan abad ke-19. Revolusi industri ini atau yang disebut juga dengan era disruption  dicirikan dengan digitalisasi dan otomatisasi di berbagai aspek kehidupan dengan pendasaran efektivitas dan efisiensi kerja.

Namun sebenarnya, revolusi industri pada fase berapa pun akan berujung pada revolusi sosial yang menyebabkan kekacauan (chaos) suatu tatanan masyarakat. Maka, inilah yang disebut dengan era disruption. Lantas, di mana posisi mahasiswa dalam menghadapi revolusi industri 4.0 ini? Apa tesis yang diungkapkan di awal dapat merepresentasikan paradigma gerakan mahasiswa hari ini?

Berdasarkan analisis sederhana saya, hari ini genus mahasiswa terbagi kepada dua tipologi yang cukup unik. Pertama, mahasiswa kiri, yaitu mahasiswa yang kadar sinismenya cukup tinggi terhadap pemerintah, bahkan tak jarang dirinya pun selalu dipandang sinis. Output mahasiswa ini  seringkali berakhir pada anarkisme. Biasanya mereka ini adalah pembaca setia Karl Marx, atau yang ‘agak’ religius dikit Ali Syari’ati, Hassan Hanafi dan yang lainnya. Namun pembacaannya selalu berakhir pada Mikhail Bakunin, Emma Goldman dan yang lainnya.

Kedua, mahasiswa kanan. Mahasiswa ini punya kadar sinisme yang rendah terhadap pemerintah, bahkan seringkali punya hubungan yang baik dengan pemerintah. Karena kedekatannya dengan pemerintah, seringkali akses terhadap ‘proyek-proyek’ pemerintahan dapat dengan mudah mereka akses, alhasil keuangan organisasi dan pribadi dapat terjaga dengan baik. Mereka bukan pembaca radikal seperti mahasiswa kiri, tapi mereka memiliki modal sosial yang kuat.

Kedua genus mahasiswa ini sudah muncul sejak puluhan tahun lalu, tapi produktivitas mereka berhenti di era ini. Bisa kita lihat nilai rupiah yang menurun saja tak pandai mereka olah. Narasi-narasi yang mereka angkat tak jarang hanya muncul dari reaksi terhadap apa yang muncul dari media sosial saja. Pada akhirnya mereka selalu mengungkit romantisme gerakan mereka di masa lalu yang berhasil menurunkan rezim ini lah.. itu lah.. dan bla bla bla.

Hari ini kita tengah menginjak revolusi industri 4.0, mahasiswa yang punya identitas agent of change seharusnya tidak kaku terhadap kebaruan dan kekinian, bahkan seharusnya mereka menjadi motornya. Apa yang diungkap diatas sana perihal sosialitas, pola kerja, sampai pola bisnis merupakan tesis lama  dengan mindset lama. Jika mereka tetap konsisten nan ‘jumud’ dengan cara baca yang sama terhadap buku dan realitas, tanpa melihat peluang gerakan baru dalam menciptakan platform gerakan baru, maka mereka akan semakin dimatikan oleh kebaruan dan kekinian.

Sekarang mari kita dengar sedikit khutbah filsafat negasinya Muhammad Al-Fayyadl dan Reza A.A Wattimena tentang ‘kekinian’. Kata dia, kebijaksanaan tertinggi adalah melepas kehidupan di dalam keberlanjutannya. Ini berarti melepas ingatan dan masa lalu, sambil bisa terus belajar darinya. Di dalam filsafat Timur, inilah pencerahan yang tertinggi. Orang menjadi sadar bahwa yang sesungguhnya ada adalah kekinian. Sisanya hanya ilusi yang menyiksa diri.

Selanjutnya Fayyadl mengungkapkan, dunia lama adalah dunia impoten untuk melahirkan kebaruan. Ia adalah dunia yang telah ada dan tak lagi menjadi. Ia menjadi sejauh untuk mengulang ketelah-ada-annya. Sampai kaoan kiya mampu menanggung siklus dari masa kini yang melampaui: terus-menerus membawa masa lampau ke dalam “kekinian” kita?.

Keberlanjutan juga menghayati kekinian. Apa yang sedang kamu lakukan? Lakukan dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa, tanpa memikirkan tujuan ataupun hasil yang ingin dicapai. Hidup yang terus menerus di dalam kekinian juga berarti menyentuh tujuan utama dari filsafat, yakni mencapai kebijaksanaan. Fayyadl menutup, kekinian adalah kebaruan terus menerus. Kekinian adalah kemungkinan tanpa batas. Hidup dalam kekinian berarti hidup dalam harapan. Jika kekinian lenyap dalam ingatan ataupun ambisi buta, maka penderitan dan ketersesatan adalah buahnya.

Maka dari itu, untuk tetap membuat gerakan mahasiswa sholih likulli zaman wal makan, diperlukan spirit kebaruan yang didasarkan pada kritisisme yang kuat dalam memandang realitas. Kritis tidak melulu menolak, menegasikan dan meniadakan dunia, melainkan sebuah upaya rasional untuk memberikan tanggapan terus menerus atas apa yang ada.

Dengan menanggapi segala sesuatu dengan nalarnya, ia membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi kehidupan. Kemungkinan baru yang penuh harapan, walaupun selalu datang dengan ditemani berbagai krisis (Diurai Wattimena,2010). Ini tulisan sinis untuk gerakan mahasiswa hari ini, tapi karena manusia itu harus adil sejak dalam pikiran, kamu harus juga boleh sinis pada tulisan macam ini. Wallahu a’lam.

Tuliskan Komentarmu !