Refleksi Esensi Nilai Pendidikan

Ilustrator: Rizki Agustian

SAVANA- Nilai akhir dari proses pendidikan, sejatinya terrekapitulasi dari keberhasilannya menciptakan perubahan pada dirinya dan lingkungan. Itulah fungsi dari pada pendidikan yang sesungguhnya.

Islam adalah agama pendidikan. Islam selalu menganjurkan agar setiap hamba-Nya mampu mengambil pelajaran dari derap langkah yang dilaluinya. Ini menandakan pendidikan itu tidak hanya terbatas dalam ruang-ruang kelas semata, tidak hanya terbatas di bangku-bangku sekolah atau perguruan tinggi, namun manakala berada di mana pun, proses pendidikan haruslah didapatkannya.

Secara normatif, Allah swt sudah mengkhabarkan melalui Rasul-Nya, sebagaimana tertuang di dalam Qalam-Nya.

Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayat-Nya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran“. (Qs Shod : 29)

Ayat-ayat yang dimaksud dari redaksi di atas, bukan hanya terdapat pada ayat-ayat yang tertuang di dalam qalam-Nya saja (Qauliyah), namun pada ayat-ayat yang di luar dari yang termaktub itu (Qauniyah). Banyak sekali pelajaran yang bisa kita dapatkan, dengan syarat: “Hanya orang-orang yang berakal sehatlah kemudian mampu mengambil pelajaran”.

Tokoh Bangsa sekaligus tokoh Persatuan Islam (Persis) pernah mengatakan soal Agama Islam sebagai Agama Pendidikan. “Jikalau satu agama yang begini hakikatnya masih belum boleh dinamakan agama pendidikan atau pencerdasan manusia, maka kita hendak numpang bertanya: Agama macam mana lagi sebenarnya yang lebih berhak dinamakan ‘agama pendidik bangsa-bangsa?’ lantaran kita tidak tahu dan ingin tahu! Hanya kita tahu ada satu agama yang antara lain kitab sucinya memuat beberapa ayat yang menerangkan bahwa semua kejayaan dunia itu tak lain dari pada barang kosong yang tak berarti belaka, anitas vanitatum.

“Dan yang pengikut-pengikutnya atas nama agama itu pernah membunuh seorang Hypatia lantaran berani menjadikan akalnya memperdalam ilmu pengetahuan, dan pernah membunuh seorang Galileo Galilei, lantaran berani mengatakan bumi ini berputar. Entahlah kalau yang begitu berhak dinamakan agama pendidik bagsa-bangsa.” (Mohammad Natsir, Islam dan Akal Merdeka, Sega Arsy: Bandung, 2015, hlm.25)

Natsir menerangkan akan hakikat agama Islam yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia, merupakan satu agama rasional, agama yang memberikan pendidikan bagi manusia menggunakan potensi akalnya untuk belajar dan berpikir, serta mendorong perkembangan ilmu pengetahuan untuk memberi manfaat kepada manusia dalam mendapatkan kebaikan-kebaikan bagi kehidupannya.

Kemudian apabila mainset kita terkukung oleh pernyataan bahwa pendidikan hanya bisa didapat dalam ruang-ruang formal, maka tak ayal kemajuan akan selalu mandeg dalam proses perkembangannya, karena semua manusia tidak semua bisa merasakan pendidikan secara formal.

Oleh sebab itu, mainset semacam ini perlu sedikit diubah dengan pernyataan: pendidikan itu bisa didapatkan walau pun tanpa secara ruang formal.

Artinya, bukan meniadakan ruang-ruang formal, namun jangan sampai mendikotomisasikan soal pendidikan yang hanya bisa didapat diruang-ruang formal.

Implikasinya apabila mainset itu sudah menjadikan sebagai hal yang normatif, maka jangan heran apabila banyak yang frustasi akibat nilai-nilai yang didapatnya ketika tak sesuai dengan harapan dan tak sesuai dengan tekanan yang terus terngiang dalam benaknya, bahwa kita harus mendapatkan nilai yang bagus atau nilai yang tinggi.

Pernyataan soal Pendidikan semacam ini hanya akan mengkerdilkan seseorang saja, bahwa mereka tidak bebas dalam mengeekspresikan dirinya.

Ketika semuanya hanya terpaku dalam ruang-ruang yang formal dan hanya mendapatkan dogmatisasi teoritis saja, maka soft skillnya akan terpendam dan akan berakibat pada dirinya tidak bisa mengejawantahkan ilmu yang didapatnya kedalam kehidupan yang real.

Dalam dunia pendidikan pun mengungkapkan dengan berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Qs Ar-Rad : 11)

Tuliskan Komentarmu !