Ramadhan dan Eskploitasi Hasrat

ridwan rustandi
Ilustrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Arjun Appadurai (2003) mendefisinikan globalisasi laiknya sebuah arus yang terjadi pada beberapa aspek, antara lain: ethnoscapes, mediascapes, technoscapes, financescapes dan ideoscapes.

Ethnoscapes mengkoneksikan manusia dari beragam latar belakang dan status sosial secara tidak terbatas berdasarkan ruang fisik dan spasial. Mediascapes merujuk pada kehadiran teknologi komunikasi dan informasi yang dapat dijadikan sebagai saluran dalam mengkoneksikan beragam kepentingan dan gagasan.

Technospaces berkaitan kehadiran teknologi mekanikal dan informasi yang menyebar melintasi dengan kecepatan tinggi. Financescapes merujuk pada gerakan kapital global dalam bentuk pertukaran komoditas. Ideoscapes berkaitan dengan sebaran sistem ideologi dalam konteks politik, ideologi negara dan gerakan ideologi yang bersinggungan langsung dengan koneksi kekuasaan negara.

Arus globalisasi tersebut dapat dengan mudah masuk, menyebar dan berpengaruh terhadap berbagai sektor kehidupan manusia. Pengaruh ini dapat kita amati baik pada aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, budaya dan agama.

Perubahan dan pergeseran nilai dan budaya masyarakat berkembang seiring dengan percepatan arus globalisasi ini. Bahkan, perubahan itu masuk pada ruang-ruang privasi baik yang berkaitan dengan identitas, selera dan gaya hidup, mode produksi dan konsumsi, bahkan dalam ruang sakralitas agama.

Dalam pandangan Robertson (1992) globalisasi menyebabkan terjadinya penyusutan ruang dan waktu. Hal ini terutama terjadi pada ruang-ruang kebudayaan manusia, ditandai dengan tidak adanya batas secara fisik antar wilayah teritorial.

Lorong Privasi

Teknologi digital masuk ke dalam lorong-lorong privasi kehidupan manusia. Internet memberikan koneksi tak terbatas dalam kerangka membangun hubungan sosial antar berbagai elemen masyarakat.

Hal ini terjadi dari mulai selera, gaya hidup, identitas, mode produksi, pola konsumsi sampai dengan aktivitas politik. Lorong privasi ini termuat dalam sebuah ruang digital yang memungkinkan setiap orang memiliki dan mengetahui segala sesuatu.

Lorong privasi ini di isi oleh berbagai imaji yang memungkinkan manusia memiliki cara dan sudut pandang yang berbeda dengan pola kehidupan nyata. Lorong privasi ini terwujud dalam sebentuk medium mayantara, tempat menyatukan berbagai kepentingan dan gagasan bersama. Yang dibincangkan bervariasi, dari mulai menyuarakan gagasan, menguatkan pengalaman, memperdalam pengetahuan sampai dengan menggerakan gagasan.

Dalam lorong privasi ini pula otoritas bergeser, dari sebuah institusi kenegaraan menjadi aktor personal yang dapat meng’klik’ segala kepentingan dan kebutuhan hanya dalam waktu sekejap.

Lebih lanjut, lorong privasi ini masuk tidak hanya pada ruang sosial dan kebudayaan saja, tetapi juga agama. Nilai-nilai sakralitas keagamaan direpresentasikan ke dalam sebuah ruang digital tempat segala kebutuhan manusia bersinggungan. Bahkan, medium digital itu sendiri telah menjadi sebuah agama tempat memberhalakan segala hasrat, menguatkan jiga paganisme yang ada dalam diri manusia.

Lorong pivasi ini mewujud menjadi sebuah jalan yang dalam pandangan sebagian orang menjadi tempat menemukan kebenaran dan kebahagiaan. Dalam hal ini, lorong privasi ini dipenuhi oleh nilai-nilai citra yang membius khalayak. Lebih jauh lagi, lorong privasi mengkomodifikasi nilai-nilai agama menjadi sebuah produk atau dagangan yang diperjualbelikan dengan logika pasar.

Shaum dan Komodifikasi Hasrat

Secara doktrin, shaum adalah ekspresi dan ritual keagamaan yang mengajarkan nilai-nilai kesadaran untuk menahan hawa nafsu dan memperhatikan sesama. Momentum shaum di bulan ramadhan menghendaki adanya pengereman dalam berbagai pemenuhan kebutuhan hidup manusia yang dipandang mempraktikkan perilaku konsumtif dan pemborosan.

Nilai-nilai ajaran dalam ibadah shaum ramadhan, secara simbolik dapat dimaknai sebagai sebuah ruang yang melatih setiap individu untuk menguatkan sisi ketuhanan sekaligus sisi kemanusiaannya.

Hasrat memiliki dan memenuhi kebutuhan yang ada dalam diri manusia dapat dipandang sebagai sesuatu yang wajar. Dalam kerangka sosiologis, gejala ini dapat didefinisikan sebagai bagian dari survival strategy yang menjadi ciri manusia sebagai social animal. Pemenuhan kebutuhan manusia berlangsung dalam berbagai hierarki.

Dalam pandangan Abraham Maslow (1984) hierarki kebutuhan manusia mulai dari kebutuhan fisiologis, rasa aman, social needs, kebutuhan untuk dihargai dan kebutuhan aktualisasi diri. Kelima jenis kebutuhan ini berkaitan dengan dua pemenuhan kebutuhan manusia, yakni untuk deficiency need atau kebutuhan karena rasa kekurangan dan growth need atau kebutuhan untuk tumbuh.

Pada momentum ramadhan, tampak bahwa pemenuhan hasrat kadang-kadang didasari oleh motif keinginan bukan kebutuhan. Nilai-nilai citra yang tersebar melalui beragam saluran media berimplikasi terhadap pola konsumsi masyarakat.

Nilai-nilai kesederhanaan dalam shaum ramadhan terkontaminasi oleh pemenuhan hasrat duniawi manusia. Hal ini dapat kita amati dalam beberapa aspek tradisi pada saat momentum ramadhan tiba. Misalnya, tradisi ‘bukber’, religiotainment dengan munculnya sinetron dan program televisi bernuansa religi, atau kehadiran iklan-iklan yang serba ‘tiba-tiba’ religius.

Dalam pandangan Baudrillard (2005) gejala ini disebut dengan gejala konsumerisme, yakni sebuah budaya konsumsi modern yang dapat menciptakan pergeseran dari mode of production menjadi mode of consumption, dari rasio menjadi hasrat konsumsi.

Oleh sebab itu, sudah sepatutnya kita merefleksikan dan menginternalisasikan kembali nilai-nilai sakralitas dalam ibadah shaum ramadhan pada porsi dan kedudukan yang seharusnya. Sebagaimana sabda Rosulullah Saw bahwa: afdholul jihadu an yujahaada rojulu nafsahu wa hawahu (seutama jihad adalah mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu).

Di era teknologi digital, jihad yang utama adalah menahan hasrat dari berbagai bentuk eksploitasi nilai citra yang mengarah pada gaya hidup hedonisme, pola hidup konsumtif dan dari produksi konten-konten negatif.

Tuliskan Komentarmu !