Pulang

Bisikkanlah padaku, siapa yang lebih buruk di dunia ini dibandingkan dengan orang yang membohongi dunia dan hatinya sendiri. Kemudian akan kuraungkan sekeras-kerasnya kabar demikian ke seluruh pelosok dunia agar mereka tahu sosok makhluk yang paling buruk dalam pandangannya. Aku.

***

Langkah gontainya terus berjalan, menyusuri tiap-tiap inci pedesaan yang masih sangat asri. Almia, panggil ia begitu. Gadis yang umurnya sekitar 21 tahun, berperawakan tinggi, dan berkulit sawo matang. Pakaian dan jilbab yang dipakainya tentulah menjadikan ciri bahwa ia dari golongan Muslim.

Almia adalah seorang pengajar di sebuah desa kecil di Jawa Barat. Bukan pengajar ulung, bukan pula pengajar tarif mahal. Hanya seorang penyalur bakat yang ingin menghidupkan anak-anak berekonomi terbatas untuk mengais pelajaran setinggi mungkin.

Shabaahal khair, yaa Aulaadii?” sapanya kepada anak-anak itu. Sesampainya Almia di ruangan yang disebutnya sebagai kelas.

Shabaahan-nuur, yaa Ustadzah.”

“Anak-anak, hari ini kita akan belajar praktik shalat, ya ….”

Begitulah rupanya anak-anak yang kisaran umurnya antara tujuh sampai delapan tahun menyahut, bermain, berwajah malas, semuanya bercampur saat sang guru memberikan tugas kepada mereka. Di sela-selanya mengajar, Almia tiba-tiba saja terusik dengan sesuatu yang dilihatnya.

Ia diam-diam memperhatikan sosok wanita yang berada di ujung kelasnya. Wanita dengan tinggi badan yang hampir sejajar dengannya. Almia memperkirakan, usianya pun tidak jauh berbeda dengannya.

Ada dua hal yang membuatnya berpikir keras sejak tadi. Pertama, wanita itu tidak berjilbab sebagaimana murid-muridnya yang lain. Kedua, Almia tidak mengajar orang yang berusia dewasa, bahkan tidak terdengar kabar jika akan ada murid dewasa yang ada di kelasnya.

Murid-muridnya masih sibuk dengan berbagai macam tingkah. Begitu pun Almia yang berhenti menatap wanita di ujung kelasnya. Tepat. Sekitar lima detik kemudian Almia mendapatkan tatapan balik dari wanita yang ada di ujung kelasnya.

Ia tersenyum manis pada Almia kemudian beranjak meninggalkan kelas. Almia dengan mengerutkan keningnya, ia merasa kebingungan, dan memutuskan untuk mengikutinya.

“Anak-anak, kalian boleh menghafal terlebih dahulu. Bu Mia pergi sebentar, ya. Tidak boleh ribut,” ujarnya sebelum meninggalkan kelas.

***

Tanpa ketinggalan jejak, Almia dengan cepat mengikuti sosok wanita tadi. Ketukan suara heels yang dipakainya membuat gema di sekitar koridor yang menuju ke arah balkon. Gadis itu berhenti di tepi balkon, ia membelakangi Almia.

Tidak lama kemudian gadis itu berbalik mendadak. Almia sedikit tercengang ke belakang.

“Kamu?” tanya Almia dengan gugup.

“Hai, Almia. Alangkah munafiknya kamu.” Wanita itu langsung menyapanya tanpa canggung sedikit pun.

“A … apa maksud ucapanmu?” Lidahnya mendadak terasa kelu.

“Semudah itukah kamu menutupi kejahatanmu? Dengan sehelai kain yang menutupi kepalamu itu?” Wanita itu menunjuk jilbab yang yang membalut kepala Almia. Almia hanya tertegun.

“Begitu mulianya dirimu, mengajari anak-anak itu ilmu agama demi mengangkat derajatmu. Padahal hatimu tahu sendiri bagaimana kotornya dirimu.” Wanita itu tersenyum sinis.

“Terserah apa katamu,” sahut Almia, tidak ingin terpengaruh dengan ucapan wanita itu.

“Baiklah, terserah padaku. Kalau begitu dengarkan aku. Aku dan hatimu tahu bagaimana seharusnya dirimu berbuat. Jika memang kau ingin menghapusnya, hapuslah dengan benar. Jika memang tidak ingin menghapusnya, maka hentikanlah sandiwaramu,” ujarnya dengan lantang.

“Aku benar-benar berpikir… kamu gila. Mengatakan segala yang tidak masuk akal.” Almia mengepalkan tangannya.

“Benarkah? Almia, jangan melakukan kebaikan hanya untuk menutupi kejahatanmu. Lakukanlah untuk menghapusnya, kemudian bertaubat. Jika tidak, pulanglah ke masa di mana kamu adalah Almia yang sesungguhnya.” Segaris senyum kembali menghiasi wajah itu.

“Pergi kamu, Rara!” bentak Almia. Ia muak dengan tingkah wanita biadab itu.

Teriakan Almia pecah. Tangannya ia gunakan untuk menutupi kedua telinganya. Matanya memerah. Di lain sisi, teman mengajarnya yang sejak tadi mengawasi Almia berlari mendekat.

“Almia, sadar! Hei, kamu kenapa?” Suci menggoncangkan tubuh Almia.

Almia berbalik padanya dan memejamkan mata. “Suci tolong, dia mengganggu kehidupanku. Rara, dia menggangguku.” Almia terus saja meracau.

“Dia, dia siapa? Rara siapa? Dari tadi aku hanya melihatmu berbicara sendiri. Istighfar Almia, nyebut …,” sahut Suci, ia semakin tidak mengerti apa yang diucapkan Almia.

Almia memanggil kembali ingatannya. Ia melihat ke sekelilingnya. Suasana bangunan sekolah, wajah Suci, suara anak-anak yang saling bersahutan, dan  kemudian semuanya berubah gelap. Almia tidak sadarkan diri.

***

Tepat tiga hari setelah kondisinya pulih, hari ini Almia bisa kembali melakukan aktifitas dengan normal. Namun sebelum kembali mengajar, ia memutuskan untuk menemui Suci untuk menceritakan hal-hal yang mengusiknya tentang kejadian tiga hari lalu.

Hari ini ada acara pengajian umum, Almia dan Suci memutuskan untuk mengobrol di masjid yang menjadi lokasi pengajian umum tersebut. Keduanya sengaja datang lebih cepat dari jadwal pengajian yang seharusnya. Masih ada beberapa jam lagi sebelum pengajian dimulai. Masih banyak waktu.

“Hari itu kamu mengawasiku, kan? Apakah kamu mendengar semuanya?” tanya Almia.

Suci mengangguk. “Aku merasa khawatir saat kamu berjalan dengan tergesa keluar kelas, dan mengikutimu. Maafkan aku Almia, jika aku lancang.” Suci menggenggam tangan Almia.

Almia tersenyum sesaat. “Terima kasih Suci. Bolehkan aku tahu apa saja yang sudah kamu dengar dari percakapan kami?”

“Percakapan kami?” Suci mengerutkan alisnya.  Ia berpikir sejenak. “Almia, aku pikir kamu berbicara sendiri. Kamu yang bertanya dan yang menjawab,” ujar Suci, wajahnya mendadak pucat. “Apa menurutmu itu percakapan?”

Kali ini Almia pun merasa bingung, ia menatap wajah Suci dengan lekat. Ada seulas senyum yang ia paksakan. “Suci, boleh aku bertanya padamu? Apa yang kamu pikirkan jika temanmu adalah orang munafik? Ia seperti baik, padahal tidak. Ia seperti mengamalkan segala kebaikan dan mengabdi kepada Allah, namun tidak pernah ada setitik iman pun dalam hatinya. Apa kamu akan menasihatinya?”

Suci mengalihkan pandangannya menuju langit biru. Ia berpikir sejenak dan tersenyum. “Menurutmu bagaimana, Almia? Dia itu orang munafik, bukan? Jika aku menasihatinya, mungkin saja ia bersikap baik dan menerima nasihatku, namun hatinya tetap membenciku. Bahkan mungkin bisa saja lebih dari itu.”

Almia tersenyum tipis. Ia memejamkan matanya dan mendengarkan bisikkan kecil di telinga kirinya. “Kamu minta pendapat temanmu? Kenapa, Almia? Bukankah kamu orang yang tidak butuh masukkan dari orang lain? Kamu segalanya, Almia ….”

Seketika Almia membuka matanya dan melihat ke arah kirinya. Seperti waktu itu, Rara muncul kembali. Anehnya, kenapa Suci tidak bisa melihatnya? Sosok gaib kah ia?

“Almia …,” Suci menyentuh bahunya. Membuat hatinya merespons dengan tatapan kaget. “Sudah masuk shalat dzuhur,” ujar Suci dengan senyuman yang menyejukkan.

Almia mengangguk. Tidak terasa, adzan di siang hari yang terik terdengar berkumandang. Lantunannya syahdu, membuat langit seakan ikut bertasbih.

***

Setelah shalat dzuhur, Almia memikirkan hal-hal yang belakangan ini menimpa dirinya. Seraya berdzikir, ia panjatkan segala pertanyaannya kepada sang Maha Penjawab. Ia memejamkan matanya perlahan, untuk mendapatkan kesan damai dalam berserah. Namun, tidak sampai lima menit, Almia dipaksa membuka mata.

Ada seseorang yang melambaikan tangan padanya. Rara. “Suci, aku akan kembali sebentar lagi.” Almia pun beranjak sebelum menyelesaikan dzikirnya.

Di halaman belakang masjid, Rara sudah menunggunya. Almia tidak sabar untuk mengungkapkan segala yang ada di benaknya.

“Hai, Almia … akhirnya kamu kembali ke masjid. Luar biasa,” ujarnya.

“Apa maksudmu? Setiap hari aku shalat dan mengabdi di masjid,” sergah Almia.

Rara tersenyum sinis. “Benar, jawabanmu benar. Tapi, bukankah kamu hanya melangkahkan kakimu saja? Berbeda dengan hatimu yang tertinggal di sana?”

“Rara, bicaralah dengan benar. Jangan membuatku bimbang.” Amarah Almia mulai memuncak.

“Baiklah Almia, akan aku jelaskan. Kamu pergi shalat, kamu pergi mengajar, dan segala yang berhubungan dengan Islam hanya untuk mendapatkan derajat di hadapan manusia. Sementara di rumah, kamu tidak pernah seperti itu. Kamu tidak shalat, bahkan kamu seorang pembangkang terhadap kedua orang tuamu! Tidak ada setitik iman pun di hatimu!” tegas Rara.

Almia bergeming. Suasana di sekitarnya mendadak hening.

“Akui itu, Almia. Akui jika kamu tidak punya iman di hatimu. Kamu berbicara tinggi padahal diri kamu sendiri hanya manusia rendahan. Pulanglah pada jalanmu, Almia. Kembalilah ke masjid dengan hatimu dan juga imanmu,” sahutnya lagi.

Almia tersenyum meremehkan. “Aku akan kembali, dan aku akan pulang, pada waktunya tiba. Berhenti mengaturku, Rara!” bentak Almia. Ia semakin muak melihat sosok Rara yang selalu hadir dalam hidupnya.

“Baiklah, Almia. Semoga nanti bukanlah penyesalan untukmu.” Rara mengerling dengan senyuman sinis yang menghiasi wajahnya.

***

Hari Sabtu. Hari saat Almia seharusnya mengajar dan mengisi kajian keislaman. Sudah beberapa jam berlalu dan Almia tidak kunjung datang. Suci mengingat kembali pertemuan terakhirnya bersama Almia, saat Almia izin untuk keluar sebentar seusai shalat dzuhur, sebelum pengajian umum dimulai.

Almia tidak pernah kembali ke masjid setelah itu. Begitu pun saat pengajian berlangsung, Almia tidak sekali pun menampakkan batang hidungnya. Ia pikir, mungkin Almia ada urusan mendesak dan membuatnya tidak bisa mengikuti pengajiaan. Namun, entah kenapa ada kejanggalan yang ia rasakan.

“Suci, aku akan kembali sebentar lagi,” ujar Almia, hanya itu kata-kata yang Suci ingat.

Suci memutuskan untuk datang ke rumah Almia usai mengajar. Ia khawatir jika sesuatu terjadi padanya. Matanya dibuat terbelalak dan berair dengan bendera kuning yang terpampang di pagar rumah Almia. Seorang wanita paruh baya berhambur dari dalam rumah dengan mata sendu.

“Temannya Almia, ya? Almia ada di masjid, Nak,” ujar wanita itu dengan mata yang sembab.

Suci mengangguk dan membalas dengan senyuman. Syukurlah, Almia baik-baik saja, gumam Suci.

Wanita paruh baya yang merupakan Ibu dari Almia, mengantarkan Suci menuju masjid yang tidak jauh dari rumah Almia. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Suci pun merasa kikuk, namun ia segera menepisnya. Masjid yang dituju sudah semakin dekat, dan, banyak sekali orang-orang yang berkumpul di sana.

Suci melangkahkan kakinya ke dalam masjid, dan melihat sosok manusia yang terkapar ditutupi kain putih bersih. Suci mengamati seisi masjid itu, namun ia tidak menemukan sosok Almia.

“Almira sudah tiada, Nak. Maafkan segala kesalahannya, ya!” ujar Ibu Almia sambil sesegukkan menahan air matanya untuk menetes kembali.

“Almira? Siapa itu Almira, Bu?” Suci tercengang. Kepalanya limbung.

“Almia adalah Almira, Nak!” jawab Ibu Almia.

Tangis mereka pun pecah, seiring dengan semakin riuhnya orang-orang yang datang untuk mendoakan Almia.

***

Hari itu, Almia pulang. Ucapannya tempo hari pada Suci, ternyata bukan sekadar kebetulan. Almia benar-benar kembali sebentar lagi sejak saat itu. Dan hari itu juga para malaikat mengetahui segalanya. Almia dan Rara adalah Almira.

Jika kamu mempunyai hati, maka Rara adalah hatimu. Hatimu mengetahui segalanya tentangmu, walaupun kamu mengelaknya. Namun pada akhirnya, kamu akan mengikuti satu perintah hatimu. Pulang.

 

Tuliskan Komentarmu !