Preman dalam Pusaran Kuasa

ridwan rustandi
Ilustrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Istilah preman bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Preman selalu dikonotasikan secara negatif sebagai orang atau sekelompok orang yang dipandang mengganggu keamanan, mengancam ketentraman dan merusak ketertiban umum. Keberadaan preman dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia mengakar kuat sejak masa Jawa Kuno era kerajaan, penjajahan Belanda, Jepang, sampai dengan era kemerdekaan Indonesia. Narasi sejarah Indonesia menempatkan para preman sebagai bagian dari lapisan sosial masyarakat yang memiliki peran dan status sosial tertentu.

Preman dipandang sebagai para jago yang memiliki keterampilan beladiri tertentu dan keberanian dalam melakukan sesuatu. Hanya saja, keterampilan dan keberanian tersebut digunakan pada area perbuatan yang cenderung menindas orang lain di sekitarnya. Preman dicitrakan sebagai simbol kuasa yang berusaha menguasai areal tertentu, menjadi bandit-bandit bengal yang memiliki sekawanan orang dengan maksud dan tujuan yang sama.

Pada area moral, preman identik dengan tindakan kriminal yang merugikan orang lain, apakah dalam bentuk mencuri, merampok, membunuh, mengambil upeti, memperkosa hak dan bertindak semena-mena-sekehendaknya. Preman memiliki libido kuasa untuk menguasai dan menindas orang lain.

Vrijman, Preman, Premanisme

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah preman adalah sebutan kepada orang jahat (penodong, perampok, pemeras, dan sebagainya). Preman juga diartikan sebagai partikelir, swasta, bukan bagian dari tentara dan sipil (abdi negara) serta menunjukkan kepunyaan sendiri dalam bentuk harta, kendaraan, rumah, dan sebagainya.

Sementara itu, gaya hidup yang dilakukan oleh seorang preman yang biasanya mengedepankan kekerasan disebut premanisme. Kata ini merujuk pada tindakan atau perbuatan yang dilakukan oleh orang atau sekelompok orang yang melakukan kekerasan terhadap orang-orang di sekitarnya. Sehingga, ada perasaan terancam, terintimidasi, terdzalimi, takut dan tidak berani dari masyarakat umum yang menjadi objek kuasa para preman (KBBI Daring, 2019).

Kata vrijman sendiri berasal dari bahasa Belanda yang berarti ‘orang bebas’. Pada awalnya, vrijman adalah istilah yang dilekatkan oleh penjajah Belanda kepada orang atau sekelompok orang yang senantiasa melakukan kegaduhan umum dan tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Oleh sebab itu, pada era ini vrijman dimaknai secara positif oleh kalangan massa-rakyat sebagai penolong jelata dan penentang penguasa.

Dalam bahasa Inggris, vrijman memiliki padanan kata freeman artinya manusia bebas. Baru pada awal abad ke-17, makna vrijman bergeser merujuk pada orang-orang yang bekerja pada VOC tapi bukan pegawainya. Vrijman adalah orang atau sekelompok orang yang disewa secara khusus untuk melakukan negosiasi atas nama kongsi dagang Belanda. Pada era ini, vrijman dinisbatkan sebagai makelar yang melakukan pekerjaan tertentu sesuai dengan kontrak pembayarnya (www.tirto.id, 2019).

Seiring perkembangan zaman, pemaknaan masyarakat umum terhadap preman atau vrijman mengalami pergeseran sesuai konteks budaya, ruang publik dan ekonomi-politik. Pemaknaan vrijman disesuaikan dengan medan area tempat para preman tersebut hidup dan menampakkan kekuatannya. Di Banten, preman dikenal dengan sebutan Jawara, istilah Jeger terkenal sebagai preman di kalangan masyarakat Sunda, di wilayah pedesaan Jawa, penyebutan preman banyak menggunakan istilah Blater, Weri, Benggolan, Berandal, Parewa dan Gali (Gabungan Liar) atau Bromocorah. Sementara di Jakarta, sebutan preman banyak dikenal dengan istilah Jago dan Centeng. Sedangkan di Minangkabau, preman lebih dikenal dengan sebutan Preman Tuluak (Tadie, 2009). Vrijman, Preman, Jawara, Jago, Centeng, Bromocorah dan lain sebagainya adalah mereka yang dipandang memiliki kekuatan fisik dan spiritual dan dimitoskan sebagai orang kuat yang kebal dengan senjata (Matanasi, 2011).

Dengan begitu, pemaknaan terhadap preman tidak melulu merujuk pada dimensi tunggal untuk menyebut orang dengan tindakan kriminalitas tertentu. Melainkan juga, preman dapat dimaknai sebagai orang yang memiliki kekuatan di atas orang-orang pada umumnya, sehingga bebas melakukan tindakan apapun, tidak terikat, sesuai kontrak, dan sekehendaknya. Pada titik ini, preman memiliki dualitas makna yang boleh jadi dikonotasikan secara negatif, namun tak mustahil pula para preman dalam makna positif dipandang sebagai jago-jago yang banyak menolong orang-orang di sekitarnya.

Preman dan Identitas Kuasa

Petrik Matanasi (2011) mengumpulkan narasi-narasi tentang eksistensi preman dalam lintas sejarah Indonesia melalui sebuah buku yang berjudul “Para Jagoan dari Ken Arok sampai Kusni Kasdut”. Secara umum, buku ini dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana peran dan status sosial preman dalam sejarah panjang Indonesia sejak masa kerajaan, penjajahan dan kemerdekaan. Kehadiran sosok-sosok jagoan yang menjadi mitos bagi sebagian kalangan masyarakat Indonesia dengan kekuatan fisik dan spiritual tertentu merupakan bukti bagaimana identitas preman melekat dengan ruang kuasa tertentu.

Dimulai dari sosok Ken Arok yang dianggap sebagai preman tertua di Indonesia. Keterampilan beladiri yang didukung dengan keberanian dalam melakukan perlawanan, Ken Arok berhasil melakukan mobilitas sosial dari seorang preman mewujud menjadi seorang Raja dengan tahta dan kuasa. Ken Arok adalah manifestasi preman jalanan yang bertransformasi menjadi penguasa kerajaan Singasari.

Sosok Untung Surapati, digambarkan sebagai sosok penguasa yang berani menentang kongsi dagang Belanda. Pada mulanya, Untung adalah sosok preman yang hidup di lingkungan perbudakan. Untung kecil adalah seorang budak yang berani, terampil dan melawan. Sampai suatu ketika Untung Surapati mewujud menjadi penguasa dan gigih melakukan perlawanan terhadap penjajah.

Bagi sebagian besar masyarakat Betawi, sosok Pitung dianggap sebagai preman penolong jelata. Pitung adalah si jago dari Betawi yang merampok orang-orang kaya demi membantu jelata. Pitung adalah representasi jagoan yang berani merampok (sebagai tindakan kriminal) untuk membantu orang-orang lemah. Perilaku Pitung tak jarang membuat geram penjajah. Cerita Pitung selalu digambarkan sebagai perampok baik hati yang tak ubahnya seperti gambaran Robinhood dalam film-film Holywood.

Lain di Betawi lain lagi di Sulawesi, gerombolan pemberontak pimpinan I Tollo terkenal sebagai preman yang melawan pemerintah kolonial. Di bawah dukungan tersembunyi dari para bangsawan Gowa, Tollo mewujud menjadi para jago yang membuat geram Belanda. Tak jarang, beberapa aksi perlawanannya membuat Belanda harus mengerahkan pasukan militernya untuk menjaga kekuasaanya. Tollo adalah sosok preman yang berkompromi dengan bangsawan Gowa sebagai alat politik para bangsawan untuk melawan kolonialisme Belanda.

Nama-nama yang disebutkan di atas adalah sebagian dari para jago atau preman yang banyak bersinggungan dengan kekuasaan, penguasa bahkan menjadi orang yang berkuasa. Nama-nama lain seperti Imam Sape’i atau Bang Pe’i, preman pasar Senen yang dianggap dekat dengan Soekarno, walaupun buta huruf tapi pernah menempati jabatan pemerintahan penting sebagai Menteri Keamanan Rakyat; Ibnu Hajar, preman rakyat dari Kalimantan yang tergabung dalam militer dan akhirnya menjadi pahlawan nasional; Para jawara dan jeger di sekitaran perkebunan Onderneming di wilayah Jawa Barat dan Banten; Suradi Bledeg, preman di kaki gunung di wilayah Jawa Tengah; sampai dengan Jan Rapar dan Kusni Kasdut yang menjelma menjadi penguasa-penguasa ibukota di balik tokoh-tokoh publik dan politik. Dalam kesimpulan Ong Hok Ham (2002), para jago, jawara dan preman di Indonesia ini layaknya mafioso di Amerika dan Sicillia Italia yang dapat melakukan kontrol terhadap akses-akses ruang publik tertentu, baik secara politik, ekonomi bahkan hukum.

Persepsi kita terhadap para jago, jawara dan preman tersebut dipengaruhi konteks ruang dan waktu. Pada awalnya, pemaknaan preman sebagai orang yang melakukan tindakan perlawanan secara bengal dan bergerombol menunjukkan konotasi negatif. Sebab, pada satu spektrum sejarah, para jago ini mempersonifikasikan dirinya dengan identitas yang memiliki kuasa untuk menindas orang lain.

Sementara pada spektrum sejarah lainnya, kita mendapati kenyataan bahwa para jago ini memiliki andil yang besar dalam melakukan perubahan terhadap lingkungannya. Para jago atau preman ini menjadi penolong jelata di tengah intimidasi yang muncul sebagai akibat dari feodalisme dan kolonialisme penguasa atau penjajah. Bahkan tidak sedikit dari mereka mendapatkan gelar kepahlawanan atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Fenomena di atas, bagi Burke dan Stets berkaitan dengan pemaknaan terhadap identitas. Pemaknaan terhadap identitas dapat dimaknasi baik dalam konteks identitas peran (role identity) maupun identitas sosial (social identity). Role Identity merujuk pada internalisasi peran seseorang atas dirinya. Identitas peran merujuk pada kebudayaan dan interpretasi orang lain. Sedangkan social identity merupakan identifikasi seseorang pada kategori yang sama. Identitas sosial adalah ruang kuasa individu untuk mengidentifikasi dirinya sebagai apa dan bagaimana pada konteks sosial tertentu (Fakhruroji, 2011).

Era globalisasi memberikan peluang bagi siapa pun untuk bertransformasi sebagaimana yang dikehendakinya. Medium komunikasi super canggih berdampak pada upaya mengkonstruksi identitas. Hari ini, dengan perangkat super canggih setiap individu bisa dengan bebas dan leluasa mengekspresikan identitasnya. Interpretasi terhadap identitas vrijman, preman, jawara, jago, jeger, centeng dan lain sebagainya dapat bertransformasi mengikuti arus perubahan yang serba cepat.

Kemunculan preman-preman kontemporer yang lebih terorganisir, sistemik dan terstruktur adalah wujud tindakan premanisme dalam lintas sejarah nasional selalu memiliki tempat sesuai dengan peran dan status sosial tertentu. Keterlibatan para preman di Indonesia seperti Johny Indo, John Kei dan Hercules dalam kontestasi politik nasional menjadi bukti bagaimana preman memiliki ruang dan akses terhadap kekuasaan. Bahkan, boleh jadi justeru para preman itulah yang menentukan kuasa tersebut secara dominatif dan hegemonik. Pada akhirnya, para preman, jago dan jawara tidak bisa dilepaskan dari pusaran kuasa. Namun yang perlu disadari kenyataan bahwa di atas orang yang berkuasa ada Dzat yang Maha Kuasa.

Pustaka Acuan :

Fakhruroji, M. (2011). Islam Digital. Bandung: Penerbit Sajjad.

Matanasi, P. (2011). Para Jagoan: Dari Ken Arok Sampai Kusni Kasdut. Yogyakarta: Trompet Book.

Ong Hok Ham. (2002). Dari Soal Priyayi Sampai Nyai Blorong. Jakarta: Kompas.

Tadie, J. (2009). Wilayah Kekerasan di Jakarta. Jakarta: Penerbit Komunitas Bambu.

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/preman, diakses 23 Juli 2019

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/premanisme, diakses pada 23 Juli 2019

https://tirto.id/sejarah-ken-arok-perampok-jadi-raja-eeAj, diakses 23 Juli 2019

Tuliskan Komentarmu !