Pram, Sastra dan Pandangan Kita

Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Pramoedya Ananta Toer adalah manusia yang lahir pada Tahun 1925, di Blora, Jawa Tengah, dan mati pada Tahun 2006. Semasa hidupnya ia telah menulis berpuluh-puluh buku, ada yang masih utuh sampai sekarang, dan banyak juga yang telah dibakar habis.[1]

Pram memulai karier menulisnya dalam majalah Sadar dan Migguan Merdeka, pada tahun 1947. Lalu bekerja di penerbitan pemerintah Balai Pustaka pada tahun 1950, dan menikah dengan Arfah Ilyas. Di sanalah Pram mulai terkemuka dalam dunia sastra.[2]

Namun pada tahun 1952 Pram memilih untuk keluar dari Balai Pustaka, tak ada penjelasan eksplisit (terus terang) yang menyebabkan Pram memilih mundur, namun dapat diduga karena gajinya yang lebih sedikit tinimbang teman-temannya yang sepekerjaan dengannya, hanya karena Pram cuma berijazah sekolah dasar. Yang disoalkan Pram bukan soal besar-kecilnya gaji, tapi tak simpati melihat keadaan seperti itu.[3]

Selanjutnya Pram hanya fokus untuk menulis, siang-malam jari-jarinya digerakan hanya untuk menekan tombol-tombol mesin tik. Menulis sudah dijadikan profesi oleh Pram, untuk mencukupi hajat hidupnya sehari-hari. Namun minat baca pada sastra masih kurang pada waktu itu, terus honorarium yang sedikit, ditambah potongan pajaknya yang mencapai 20 %, menyebabkan Pram tak bisa lepas dari kemiskinan. Bahkan gara-gara masalah perekonomiannya, menyebabkan Pram tak bisa mempertahankan rumah tangganya dengan Arfah Ilyas.[4]

Pada tahun 1955 Pram pun menikah lagi dengan Maemunah, dan hidup harmonis walau masih di bawah tekanan ekonomi. Namun pada tahun 1964, Pram di tahan di Salemba, tuduhannya karena karya-karya Pram dianggap mengajarkan ajaran komunisme, terutama dalam roman Panggil Aku Kartini Saja jilid I, II, III, IV dan roman Gadis Pantai jilid I, II dan III. Tetapi anehnya tanpa ada proses pengadilan terlebih dahulu.

Lalu pada bulan Juli 1969 dipindahkan ke pulau Nusakambangan, dan pada bulan Agustusnya di berangkatkan ke pembuangan terakhir, yakni Pulau Buru, dengan status tahanan politik. Namun pada tahun 1972 status diganti menjadi warga baru Pulau Buru, katanya biar lebih “sopan”. Dan Pram dibebaskan pada bulan Desember 1979.

Dalam masa pembuangan di Pulau Buru, Pram sudah menelurkan banyak karya, yang paling dikenal adalah Tetralogi Buru. Pengalaman selama 10 tahun di Pulau Buru, tentu tak ingin Pram lewatkan begitu saja, Pram pun mulai mengumpulkan esai dan surat yang tak terkirim, lalu dibukukan dengan judul Nyanyi Sunyi Seorang Bisu jilid I dan II,  sekaligus sebagai satu-satunya buku Pram yang ditulis non-fiksi selama di Pulau Buru.

Kehidupan Pram yang selalu berada di bawah tekanan ekonomi, menyebabkan Ajip Rosidi berprasangka bahwa Pram berpindah haluan menjadi golongan kiri (komunisme),[5] ia seolah mengingkari bahwa gaya hidup merupakan sebuah pilihan. Dalam buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II Pram selalu menyangkal bila dikatakan sebagai golongan kiri atau apapun itu bila dikatakan golongan. Lied Vanee Stomme pun menegaskan tak ada bukti dalam karya Pram yang mengajarkan golongan kiri, kalau pun ada, tentu penahanan Pram akan melalui pengadilan terlebih dahulu.

Pram pun sempat menanggapi mengenai penahanannya itu, dan mengtakan bahwa Orba memang menghendaki para tapol untuk tinggal di pulau Buru selama 10 tahun, tak perlu ada kesalahan yang mesti dibawa ke pengadilan.[6] Sedang dalam buku Cerita dari Blora, pada judul cerpen Dia yang Menyerah, Pram begitu amat geram kepada yang ia namai si Merah (PKI) dengan pemberontakkan dan kesadisannya pada rakyat Republik.

Walau sudah dibebaskan, tapi Pram tak bebas sepenuhnya. Pram masih wajib-lapor satu kali satu minggu, dari tahun 1979 sampai tahun 1988. Dalam KTP-nya pun diberi tanda “ET”, kepanjangan dari ex-tapol sebagai ciri khusus sebagai para tahanan rumah. Tentu dengan maksud agar orang lain atau perusahan mudah mengenali, karena segala sesuatu harus pakai KTP dan para ex-tapol diberikan perlakuan “istimewa”.[7]

Karya adalah  buah pikiran seseorang, maka dengan membaca karya orang lain, kita akan dipaksa masuk ke alam pikirannya. Karya Pram yang paling kentara “api” semangatnya dalam menulis terdapat pada roman Rumah Kaca, karena di sana akan dijumpai ungkapan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”.

Namun ungkapan Pram itu tidak seluruhnya sejalan dengan kenyataan, karena Sokrates pun tak menulis, tetapi tetap ada dalam sejarah, dan tidak menutup kemungkin juga ada yang banyak orang menulis, tapi tak tercatat dalam sejarah. Maksud Pram, kecil harapannya orang yang tidak menulis akan terkenang dalam sejarah, karena ia bertumpu kepada orang lain untuk menuliskannya, terlebih yang dituliskannya itu bukan buah pikirannya sendiri, tapi interpretasi dari yang menuliskannya.

Dalam roman Rumah Kaca pun dikisahkan bertapa hebatnya kekuatan tulisan. Walau Minke sudah dibuang ke pulau Nusakambangan, tetapi tulisan-tulisannya yang dimuat dalam majalah Harian Medan, begitu mempengaruhi rakyat Hindia pada waktu itu, hingga melahirkan tokoh-tokoh baru yang berawal dari semangat Minke.

Orang yang menulisnya entah ada di mana dan entah masih ada atau tidak, tapi pengaruh buah pikirannya dalam bentuk tulisan mampu mengubah keadaan, sekecil-kecilnya mengubah pikiran seseorang.

Selanjutnya dalam roman Bukan Pasar Malam, Pram menuturkan bahwa manusia diniscayakan akan mati, dan yang belum mati harap-harap cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana. Pram tidak menyoalkan tentang kematian, tapi apa yang mampu kau berikan pada kehidupan sebelum kematian itu datang?

Menulis merupakan salah satu cara mudah dan murah untuk membela apa yang kau anggap itu kebenaran. Mengangkat orang-orang yang lemah dan menghinakan mereka yang berkuasa secara sewenang-wenang. Pram menyadari, bahwa menulis memang bukanlah satu-satunya jalan untuk memberikan arti pada kehidupan. Masih dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II, Pram bertutur, “hanya dengan menulis yang bisa aku lakukan, dan orang boleh suka atau tidak kepada tulisanku, urusanku hanya menyuguhkan apa yang aku bisa”.

————————————–

[1] Savifitri Scherer, “Pramoedya Ananta Toer Luruh dalam Ideologi” Jakarta. 2012. Komunitas Bambu.

[2] Ibid.

[3] Pramoedya Ananta Toer, “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II”. Jakarta. 2000. Hasta Mitra.

[4] Ibid.

[5]Savifitri Scherer, Op. Cit.

[6] Pramoedya Ananta Toer, “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I” Jakarta, 2000. Hasta Mitra

[7] Ibid.

Tuliskan Komentarmu !