Politik Online

ridwan rustandi

“Sejatinya, sebuah akun dikatakan aktif, manakala akun yang kita miliki digunakan sebagai media dialog”– Syafiq Basri-

Internet, sebagai media komunikasi dan informasi memiliki daya jangkau luas, ditambah perangkat-perangkat teknologi yang cenderung memudahkan para penggunanya dalam bertukar informasi. Sebut saja misalnya Google, mesin pencari ini diciptakan sebagai bank data yang meramu berbagai informasi dari belahan dunia mana pun yang kemudian dapat digunakan oleh siapa pun dalam mencari dan mengolah informasi.

Kita tidak perlu susah-susah untuk mencari informasi di segenap pejuru dunia, cukup duduk di depan layar komputer bahkan di handphone sekalipun, sambungkan internet dan cukup searching di mesin google. Dengan cepat, beragam informasi yang kita inginkan akan tersaji.

Bahkan, dunia bisnis dewasa ini terbantu dengan hadirnya mesin ini, dimana kita bisa memasarkan produk yang kita miliki, dengan biaya yang relatif murah dan daya jangkau massa yang begitu luas.

Peningkatan pengguna internet di dunia setiap tahunnya mengalami  lonjakan yang cukup signifikan. We Are Social merilis laporan bahwa pada Tahun 2017, Indonesia menempati urutan ke 4 pengguna internet terbesar di dunia, dengan jumlah 132 juta pengguna. Dan hampir sebagian besar memiliki akun jejaring sosial, entah itu facebook, twitter, instragram, tik-tok dan lain-lain.

Jejaring Sosial dan  Popularitas Politik

Munculnya jejaring sosial atau lazim disebut media sosial semacam facebook dan twitter, menambah semarak penggunaan internet di dunia. Melalui jejaring ini, siapa pun dan di belahan dunia mana pun dapat bertukar gagasan, informasi, ngobrol santai (chatting) atau menjalin pertemanan tanpa dibatasi ruang gerak komunikasi dan batasan geografis.

Melalui jejaring ini pula, kita dapat mengumpulkan massa, menyamakan pandangan mengenai satu permasalahan atau isu yang pada akhirnya mengharuskan kita untuk menyikapi setiap problem kehidupan secara kolektif.

Disadari atau tidak, jejaring sosial memberikan dampak pada kehidupan kita. Baik secara personal maupun komunal, baik di bidang ekonomi, pendidikan, psikologi bahkan politik.

Contoh kasus, revolusi semi Arab pada awal tahun 2011 yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah, sedikit banyaknya didukung oleh pengangkatan isu bersama tentang rezim kepemimpinan militer dan disebarkan melalui jejaring sosial. Tercatat, revolusi Tunisia, Mesir, Libya berhasil menggulingkan rezim yang memerintah.

Kesamaan pandangan yang di angkat kemudian dituangkan dalam sebuah akun jejaring sosial dan menerima tanggapan yang cukup ramai, mengundang kolektivitas pikiran dan gerakan demi mencapai tujuan yang sama.

Selain itu, sebut saja dalam kampanye media pada Pilgub Jawa Barat beberapa bulan lalu, setiap tim pemenangan memanfaatkan jejaring sosial untuk menghimpun massa.

Bahkan, Burhanudin Muhtadi, peneliti LSI dan pengamat Politik, di salah satu media Televisi Nasional mengungkapkan bahwa salah satu jurus jitu yang dilakukan tim kampanye Jokowi-Ahok (pada Pilgub Jakarta 2012 lalu) sehingga bisa memenangkan Pilgub Jakarta dalam dua putaran adalah kreativitas yang dituangkan melalui jejaring sosial untuk menghimpun kaum muda Jakarta. Dan ini terbukti efektif. Tentu, pada Pilgub Jawa Barat kemarin geliatnya semakin massal.

Dalam literasi komunikasi, efek-efek lanjutan yang disebabkan oleh setiap media komunikasi massa dikenal dengan istilah “Pass-along Effect”. Syafiq Basri Assegaf (2012), pakar Komunikasi Universitas Paramadina, dalam salah satu artikelnya mengungkapkan bahwa efek lanjutan dari sebuah komunikasi massa yang terjadi secara aktif dalam sebuah media memunculkan efek terpaan yang saling terhubung satu sama lain antara pengguna (interconnected).

“Pass-Along effect” ini tercipta manakala setiap pengguna aktif berdialog (sharing Social) mengenai pesan komunikasi apapun. Sebab, dengan dialog aktif, baik komunikator maupun komunikan terlibat (sorge) saling menjelaskan dan dianggap nyata keberadaanya. Pada akhirnya, memunculkan pemahaman yang sama bahkan tindakan yang sama.

Dalam hal ini, seseorang yang terlibat secara aktif dalam sebuah jejaring sosial, akan menerima dampak lanjutan dari komunikasi massa yang terjalin dan mampu meningkatkan respon terhadap sebuah isu yang pada akhirnya menciptakan tindakan.

Fenomena revolusi Arab atau kemenangan Ridwan-Uu pada Pilgub Jabar di atas merupakan salah satu bagian dari dampak berlanjut media komunikasi massa dalam bidang Politik, dan terbukti mampu meningkatkan popularitas politik di Tanah Air.

Menjelang Pilpres 2019, tentu media sosial kita akan semakin riuh lagi, dan bisa menjadi alat kampanye yang ampuh.

Tuliskan Komentarmu !