PKL Selalu Salah dan Konglomerat Selalu Benar

SAVANA- Sudah hampir sebulan aku bekerja di toko buku. Toko itu terletak di pinggir jalan, bersebelahan dengan sebuah mesjid dekat gerbang kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Di toko buku aku memang bekerja sendiri, tapi tidak lantas membuatku kesepian. Setiap hari aku bertemu dengan si Abang tukang parkir, si Om Abdul tukang potocopy, si Mang penjual roti, si Ibu penjual gorengan, si Kakek penjual puyunghay, si Tanteu penjual jamur krispi dan si Bu Haji pemilik ruko penjual rokok dan kelontongan.

Mereka semua orang baik, ramah-ramah dan suka bercanda. Sebagin besar dari mereka berjualan menggunakan roda, mejeng di pinggir jalan raya pinggir gerbang UIN, persis berada di depan toko buku tempat aku bekerja.

Setiap pagi sekitar jam 06.00, mereka biasanya sudah menjajakan dagangannya, berharap para mahasiswa yang akan berangkat kuliah bisa membungkus dulu makanan dari mereka untuk sarapan. Mereka biasanya selalu memulai hari dengan bercanda, berbagi kopi, rokok juga cerita di sela-sela melayani pembeli. Namun apabila jam sudah menunjukan angka Sembilan, polisi yang mengenakan seragam hijau (alias Satpol PP) sudah mulai berkeliaran, dan membuat para pedagang itu tunggang-langgang mencari tempat persembunyian.

Jalanan pun seketika bersih dari para pedagang kaki lima, dan pada saat itu mereka harus bersabar jika barang dagangannya tidak akan laku, setidaknya sampai para petugas satpol PP itu pergi.

Satpol PP selalu rutin melakukan patroli dan merajia para pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan. Para pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan harus dibersihkan, karena mereka menyebabkan jalanan macet.

Atas dasar kebutuhan ekonomi yang mendesak, para pedagang kaki lima tidak pernah kapok oleh rajia Satpol PP, walau pun sudah dirajia beberapa kali, mereka tetap saja bandel berjualan.

“Ya bagaimana lagi, kita tidak ada lagi pencaharian. Kalau gak berjualan kayak gini, ya artinya saya gak ada uang buat dibawa pulang ke rumah, artinya anak bini saya mau dikasih makan apa bila saya tak berjualan?” ungkap si Mamang Tukang Baso Ikan yang sampe sekarang saya masih belum tau siapa namanya itu.

“Uang yang kami cari begitu kecil, tidak banyak kok. Kami hanya butuh uang untuk biaya hidup sehari-hari saja, tidak cukup untuk beli mobil, apartemen, apalagi beli pesawat. Dan di jalanan inilah kami mendapatkan uang kecil tersebut, karena kalau ditempat lain, barang dagangan kami tidak laku,” tambah Mamang Baso itu.

Ya ya, aku pahami itu. Mereka hanya rakyat kecil yang sama halnya denganku, hanya mengumpulkan uang recehan untuk dapat tetap bertahan hidup.

Lain lagi jika kemacetan yang terjadi di kawasan TSM Bandung, Jalan Gatot Subroto yang terdapat sebuah hotel mewah dengan arena wahana permainan yang megah milik konglomerat  asal Jakarta itu, atau di Jalan Terusan Buah Batu yang terdapat Transmart yang di dalamnya ada bioskop dan juga pizza dan KFC itu. Walau pun dengan hadirnya supermarket tersebut sama membuat jalanan lebih macet, bahkan lebih macet daripada kemacetan yang disebabkan oleh para PKL Cipadung, tapi supermarket itu tidak bakal dirajia oleh Satpol PP.

Ya, mereka aman dari caci maki para pengendara mau pun nyinyir dari kita atau dari rajia Satpol PP yang menertibkan kesemarawutan kota. Mereka juga aman dari penggusuran pembangunan, walau karena mereka menyebabkan jalanan lebih macet. Tentu, mungkin karena mereka berjualan di toko yang megah juga besar, tentu mungkin karena mereka adalah para pedagang yang omsetnya miliaran.

Walau makanan yang dijual sejatinya sama, ayam yang dijual di tukang pecel lele sama dari ayam sayur sebagaimana ayam yang dijual di KFC; walau telor ceplok yang dijual di warteg sama dengan yang dijual di KFC, tapi sungguh nasib mereka tidaklah sama, pandangan dunia terhadap keduanya pun berbeda.

Mungkin bisa jadi penyebabnya adalah karena pemiliknya memiliki kekayaan (modal) yang berbeda, hingga membuat “citra” dagangannya pun menjadi berbeda. Pemilik toko-toko megah itu punya omset miliaran, sedangkan para PKL itu omsetnya hanya cukup untuk bertamasya makan roti seribuan di depan TV.

Tentu harus dibedakan dong, orang kaya bagaimana pun keadaanya selalu lebih benar dari orang miskin. Orang kaya bisa membeli kebenaran, kebijakan dan juga dukungan. Orang miskin, mana mampu?

Tuliskan Komentarmu !