Pilihan dan Keterpaksaan

ilustrasi by: riaurealita.com

SAVANA- Hidup tak sepenuhnya pilihan, tapi lebih sering kumpulan keterpaksaan. Begitu kata Pak Danu, tukang cendol yang suka mangkal di pertigaan ini. Sekarang lapak Pak Danu sedang sepi, jadi kami bisa ngobrol ngaler ngidul sepuasnya, tidak seperti biasanya yang sekedar basa basi.

Tiap kali saya pulang kampung, saya memang hampir selalu mampir di lapak Pak Danu ini. Selain karena porsi cendolnya yang lebih banyak dari yang biasa saya beli di kota, tapi juga rasanya enak, yang terbuat dari bahan-bahan yang serba alami. 

Pak Danu sudah sepuh, maka yang ia lakukan sekarang hanya mangkal di pertigaan menunggu pelanggan datang, tidak keliling ke kampung-kampung atau ke sawah jika sedang musim panen tiba.

“Dulu sawaktu penggayangan PKI, Abah juga ikut dalam barisan Abri. Masuk hutan, naik ke bukit-bukit. Pokoknya, tiap lembah disusuri.” kenang Pak Danu. “Sekarang kok PKI enak banget bisa masuk parlemen.” tambahnya.

Saya kebingungan mau menimpali apa, maka saya hanya tersenyum kecut saja.

“Dulu itu, kami perang melawan PKI taruhannya nyawa. Sekarang kok dielus-elus.” timpal lagi Pak Danu.

“Emang sekarang PKI masih ada ya Bah?” tanya saya. Benar-benar bertanya.

“Wah kamu ini anak muda gimana sih, gak tau berita. Lha itu yang mau mengganti Pancasila. Makanya kalau ada berita itu dibaca, bukan maen game mulu. Harusnya sekarang kamu tuh yang perang ke Gedung Istana!”

Saya sedikit membatin. Bukan karena tersinggung oleh omelannya kepada saya, tapi sepertinya sekarang opini dan berita memang sudah tak bisa dibedakan lagi.

Saya pun mencoba mengalihkan pembicaraan.

***

Saat kecil, Pak Danu bisa dibilang anak yang menonjol. Ia hampir lihai dalam semua permainan, juga pelajaran. Banyak yang ingin berteman dengannya, namun banyak pula yang iri. Kekurangan Pak Danu waktu itu mungkin hanya satu, bahwa ia sudah tak punya ayah yang akan selalu membimbing dan melindunginya. Tapi justeru karena itu, ia bisa lebih dewasa dari kebanyakan anak lainnya.

Saat usia belasan, ketika yang lain masih asyik bermain dan belajar, ia sudah harus bekerja. Tentu yang bernasib seperti Pak Danu waktu itu terhitung banyak. Perceraian bukan sesuatu yang ganjil di kampung-kampung, sama halnya dengan nikah muda.

Menginjak usia 17 tahunan, Pak Danu sudah hampir bisa semua pekerjaan orang dewasa. Hampir tiap hari bekerja, liburnya saat Idul Fitri dan Idul Adha, ditambah ketika ia sedang sakit parah. Ia menikah saat usia 19 tahun.

Karena punya tubuh yang kekar, maka Pak Danu pun diminta untuk membantu Abri dalam rangka membasmi PKI. Pak Danu merasa terhormat, merasa dirinya sebagai orang terpilih. Pak Danu pun menyusuri bukit-bukit dan lembah-lembah, bermalam di semak-semak, dan tak memikirkan imbalan apa pun selain dikenang sebagai pahlawan.

Dan benar saja, ia tak dikasih imbalan apa-apa selain ucapan terimakasih. Orang-orang yang duduk santai di posko saja yang menuai panennya.

Pak Danu tidak berkecil hati. Ia sadar bukan anak sekolahan. Pak Danu pun bekerja lagi seperti biasanya, pergi ke sawah jika musim hujan, dan pergi ke ladang jika musim kemarau.

Tidak ada pengangguran di kampungnya, karena setiap orang bisa menciptakan pekerjaannya sendiri. Yang dibutuhkan hanya satu, yaitu tenaga yang kuat. Tidak perlu ijazah, surat keterangan sehat atau baik, daftar riwayat hidup dan sebangsanya. Hanya saja, tidak ada jenjang karir, juga tidak ada jaminan akan untung.

Pak Danu sempat menanam cabai, namun karena salah perhitungan memberikan pupuk, daun cabainya jadi keriput, buahnya pun hanya sedikit. Pak Danu juga sempat menanam timun, buahnya lebat, namun saat hendak dipanen, harganya mendadak anjlok. Timun itu pun akhirnya dibiarkan membusuk di tangkainya, karena kalau dipaksa dipanen pun, upah kuli pikul dari ladang ke jalan raya lebih mahal ketimbang hasil menjual timunnya.

Namun apabila keberuntungannya sedang berpihak, Pak Danu bisa untung hingga lima kali lipat. Bagi seorang petani, hasil sebesar itu adalah sebuah keberuntungan, walau bagi Pegawai Negeri Sipil pendapatan seperti itu biasa saja, malah cenderung dianggap receh.

Saat anak pertama Pak Danu lulus SMA, ladang dan sawah Pak Danu satu persatu mulai dijual, dan membiarkan anaknya merantau ke kota untuk belajar lagi di perguruan tinggi. Pak Danu pun beralih profesi menjadi tukang cendol, berkeliling dari rumah satu ke rumah yang lainnya, dari hiburan dangdutan hingga ke selametan sunatan.

Keputusan Pak Danu untuk meneruskan sekolah anaknya dianggap keputusan yang “sangat-sangat berani” oleh penduduk kampung lainnya -untuk tak mengatakannya sedikit gila. Karena waktu itu, hanya anak kepala desa dan anak PNS saja yang boleh berharap untuk meneruskan sekolahnya di kota.

“Supaya dia bisa hidup dengan pilihan, tak seperti kami yang hidup dengan keterpaksaan,” ujar Pak Danu.

Dan benar saja anggapan penduduk kampung itu, belum juga anaknya sarjana, tanah Pak Danu sudah ludes, dan yang tersisa hanya sepetak tanah yang kini menjadi rumahnya. Anak Pak Danu pun kembali lagi ke kampungnya tanpa membawa selembar ijazah yang amat didambakan oleh ayahnya itu.

Pak Danu sempat malu karena jadi gunjingan tetangga, hingga ia tak berjualan beberapa hari. Istrinya mulai menguat-nguatkan, bahwa ia sudah berusaha begitu keras. Namun Pak Danu tak bergeming. Istrinya yang biasa hanya menjual gorengan di depan rumah, mulai membuat dan berkeliling menjajakan cendol juga, dibantu oleh anaknya yang gagal jadi sarjana itu.

Setelah beberapa lama, Pak Danu pun akhirnya berkeliling jualan cendol lagi. Sedang anaknya menjadi buruh tani, sampingannya ia memelihara empat ekor domba milik tetangganya.

***

Tenaga manusia ada batasnya. Pak Danu pun merasa sudah tidak akan kuat lagi jika harus berkeliling ke kampung-kampung, maka ia pun memutuskan untuk mangkal saja di pertigaan ini, lalu bertemu dengan saya tiap sebulan sekali.

Perubahan di daerah kami bergerak begitu cepat. Cerita Pak Danu yang 15 tahun lalu itu terdengar begitu asing. Sekarang anak petani sudah banyak yang jadi sarjana, terlebih yang mulai mau masuk atau yang sedang kuliah. Jarak dari daerah kami ke kota pun sudah terasa semakin dekat. Jika dulu harus ditempuh dengan waktu 6 jam, sekarang sudah bisa dengan waktu 2 jam.

Dikarenakan cendol di gelas saya sudah habis, dan saya pun bingung hendak bertanya apa lagi, maka saya pun lekas pamit.

Pak Danu gagal bukan karena malas, ia hanya kalah saja dengan orang-orang culas. Dan kebanyakan dari kita bernasib sama.

Tuliskan Komentarmu !