Petani Macam Apa yang Revolusioner?

Sumber gambar: kompasiana.com

SAVANA- “Ini semacam laporan bincang santai bersama para petani yang dianalisis dengan teori yang agak dan sok ilmiah, dengan hiperbolis yang cukup kuat hehe..”

Kira-kira, apa yang ada di benak kita ketika mendengar kata ‘petani’? Coba saya tebak, pasti pikiran kita akan langsung terkoneksi dengan pesawahan, pedesaan, padi, tanam-tanaman hijau, cangkul, kerbau, dan lainnya, kan?

Ya, bicara petani, pikiran kita selalu terhubung dengan item-item tersebut. Namun supaya lebih ilmiah, selaku akademisi pula baiknya kita berangkat dari definisi. Dalam KBBI, petani didefinisikan sebagai orang yang kerjaannya bercocok tanam.

Sebagai masyarakat mayoritas yang hidup di pedesaan, petani menduduki klasemen menengah -yaelah kek sepakbola aja-, yaitu yang berada di antara masyarakat primitif dan masyakat industri. Masyarakat luar desa sering memandang petani sebagai satu sumber tenaga kerja dan barang yang dapat menambah kekuasaan (fund of power). Didukung lagi dengan konsep dual economy  Lewis dan Kuznets, petani diposisikan sebagai pemegang sektor produksi berpendapatan rendah dan subsisten.

Produkvitas rendah ini berpengaruh pada pendapatan yang rendah dan tabungan yang rendah pula. Ciri lain dari ekonomi pedesaan yang dihuni para petani ditandai dengan tingkat pengangguran yang tinggi karena sektor pertanian tidak mampu menyerap tenaga kerja yang banyak dan kontinyu. Akibatnya, migrasi tenaga kerja dari pedesaan ke perkotaan menjadi fenomena yang tak bisa dihindari. Beda halnya dengan sektor perkotaan yang secara umum ditandai dengan aktivitas industri manufaktur dan jasa yang sangat dinamis dan cenderung memiliki tingkat produktivitas tinggi.

Namun dalam beberapa kasus, petani justru menjadi pendobrak berbagai stagnasi dan subordinasi yang selalu disandarkan secara alamiah padanya -entah darimana penyematan ini asalnya. Sama halnya fenomena petani yang kutemukan di salah satu desa yang asri, hijau nan  indah, cukup jauh dari akses perkotaan. Cocok untuk semedi dan menenangkan pikiran.

Kumulai kisahnya di sini, kujuluki dia ‘Petani Revolusioner’. Petani ini punya mentalitas perubahan yang kuat, makanya kusematkan ‘revolusioner’ padanya. Petani tersebut menjadi salah satu pionir komoditas utama di desa tersebut, yakni buah mahal berwarna merah, berbintik-bintik, dan cukup terkenal. Namanya strawberry.

Berawal dari profesinya sebagai kuli di sebidang tanah, justru kini dia membina dan membantu hampir 400 petani di desa tersebut, bahkan konon hampir 90% lahan strawberry di desa tersebut adalah miliknya. Hingga kini dia aktif dalam membangun desa dan membantu para petani untuk bisa sejahtera. Seperti messiah di tengah huru hara akhir zaman, dia menjadi tokoh yang amat dihormati dan sering dimintai bantuan oleh masyarakat desa.

Lompatan luar biasanya ini berangkat dari keresahannya sebagai kuli di sebuah lahan. Menurutnya, ada ketidakadilan dalam sirkulasi mata rantai pertanian. Pertama, titik permasalahan tersebut terletak pada aspek distribusi, yakni di pengumpul/bandar/tengkulak.

Tengkulak yang berposisi sebagai penerima hasil tani, dengan berbagai strategi yang diterapkannya amat menjerat para petani kecil. Mereka membeli hasil tani dari petani dengan harga serendah-rendahnya dan menjualnya kembali dengan setinggi-tingginya. Kedua, strategi kontrak, pinjaman, dan manipulasi-manipulasi lainnya. Hal tersebut memang menjadi mainstream mata rantai dalam pertanian, namun petani revolusioner ini berani lepas dari apa yang disebut false of consciousness oleh Marx.

Dia memandang, semestinya dalam sirkulasi mata rantai tersebut ada semacam trickle down effect atau efek tetesan mata air. Jika di hulu mendapat keuntungan besar, maka hilir pun seharusnya dapat merasakan hal tersebut.

Berangkat dari hal tersebut petani revolusioner ini beritikad agar sirkulasi semacam ini mesti digantikan dengan sistem sirkulasi yang lebih adil, dan dia bermimpi bahwa dirinyalah yang harus menciptakan sirkulasi itu. Dengan perjuangan kerasnya melawan ketidakadilan tengkulak, akhirnya petani tersebut bisa menjadi petani kelas kakap yang malang melintang hingga produksi taninya bisa mencapai luar negeri dan memberdayakan ratusan petani di daerah sana.

Ada dua pola strategis ketika petani lepas dari false of consciousness dan ingin memperbaiki hidupnya dari jerat ketidakadilan para tengkulak pemilik modal. Pertama, pola revolusioner yang dibangun oleh rengrengan marxis ortodoks. Lewat pola ini, dengan membangun people power, para buruh tani di seluruh penjuru dunia diseru untuk bersatu dan melakukan perlawanan keras terhadap para kaum elit, sehingga mata rantai yang tidak adil tersebut bisa ditumpas dengan kekerasan.

Pola ini dinilai efektif -pada masanya hehe-, terbukti dengan terbentuknya Uni Soviet sebagai negara pusat kaum ini. Bertahan cukup lama, namun akhirnya runtuh pada Tahun 1991. Tak kehilangan semangatnya, meskipun negaranya runtuh, pola semacam ini masih menunjukan keberpengaruhannya pada Tahun 1994 dalam Pemberontakan Chiapas di Meksiko. Pemberontakan Chiapas ini merupakan gerakan sekelompok petani miskin yang menentang eksploitasi dari sistem ekonomi kapital. Pemberontakan itu terjadi sebelum berlangsungnya KTT pembentukan NAFTA (North Atlantic Free Trade Area) yang menyatukan Amerika Serikat, Kanada,  dan meksiko dalam sebuah sistem pasar terbuka dan bebas.

Kedua, pola dengan pembangunan dan perbaikan sarana, alat, dan hubungan produksi (yang secara konkret dilakukan oleh petani di pedesaan yang saya tuliskan di atas). Kuncinya sih sederhana, cukup punya mentalitas perubahan yang kuat. Mentalitas itu terbangun dari kesadaran dan kesadaran itu terbangun karena keresahan pada kondisi sosial yang dihadapi.

Nah, dari sini, menurutmu, mana yang lebih revolusioner? Menurutku sih, pola kedua, karena pola ini lebih relevan dan kontekstual dengan zaman. Perlawanan dengan pola ini bagiku cukup elegan karena mampu menciptakan kondisi sosial yang aman dan berkeadilan, tanpa menciptakan bentuk otoritarianisme yang baru, dengan pola ini pula petani dapat melakukan bargaining position dengan sektor industri dari segi pendapatan. Dengan pola ini, diskursus petani sebagai aktor pertumbuhan ekonomi nasional dapat benar-benar terealisasi.

Terakhir, petani memang perlu dibina, namun terus menerus menggulirkan wacana semacam itu hanya bentuk afirmasi bahwa petani itu lemah, petani itu hanya objek pembangunan, petani itu hanya barang untuk menambah kekuasaan. Langkah utama yang perlu dilakukan adalah mengubah mindset bahwa petani merupakan subjek dan mitra dalam pembangunan yang mampu mendidik diri mereka sendiri. Wallahu a’lam.

Tuliskan Komentarmu !