Pesanku Untuk Kematian (Lagi dan Lagi)

SAVANA- Halo… halo… Di sana kah Kau Kematian? Bagaimana dengan surat-suratku?

Aku titipkan padamu tempo hari, sudah kau kah sampaikan?

Halo… halo… Kematian yang selalu tersenyum,

Sudah begitu lama sejak surat kedua aku titipkan kepadamu. Tak ada kabar apa-apa lagi darimu. Aku tahu kau begitu sibuk, berkeliaran dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu desa, pindah ke kota, dari kota bergerak ke negara, dari negara A ke negara B. Setelah itu menuju tempat bernama C, tak ada akhirnya. Terus bergerak dari satu rumah ke rumah lainnya, dari rumah termegah sampai rumah paling reyot yang ditopang oleh satu tihang. Dari Kantor pemerintahan sampai istana-istana di pedesaan. 

Kematian, kau tentu tak ada lelahnya. Berbagai suasana telah kau singgahi. Siapapun orangnya telah kau jumpai dan kau ajak. Tak perlu tahu jabatannya, tak perlu tahu usianya, tak perlu tahu kekasihnya. Kematian, kau tak pernah memandang dari lekuk badan. Perempuan atau laki-laki. Jika sudah waktunya, sudahlah tak bisa berkutik. 

Kematian yang super sibuk tetapi selalu tersenyum,

Diantara kesibukan-kesibukanmu itu, mau yah datang padaku membawa secarik surat yang sudah aku siapkan untuk adikku. Isinya tentu kau sudah tahu. Apalagi kalau bukan kerinduan yang masih saja dirasakan semenjak kau ajak adikku pergi. 

Aku hanya ingin menyampaikan beberapa keluhan yang selalu tercipta dari kerinduanku itu. Semacam keluhan yang terasa di kepala ataupun di dada. Semacam penyakit yang ada obatnya walau hanya berjumpa sekejap dalam rangkuman doa di setiap waktu. 

Namun tentunya, bukan hanya itu saja yang ingin aku sampaikan. Ada beberapa sih, mungkin agak banyak. Ya, apalagi kalau bukan celotehan mengenai berbagai masalah kehidupan.

Yah begitulah, namanya juga hidup. Selagi menunggu datangnya kau, Kematian. Segala macam kegiatan harus dilakukan. Nah itu pula yang ingin aku sampaikan dalam suratku, pada adikku. Adik perempuan yang telah kau ajak hampir setahun lalu. 

Dalam waktu yang hampir setahun itu pula, ada banyak peristiwa dan kejadian. Ada banyak kesedihan bahkan kegembiraan. Puluhan atau bahkan ribuan bayi lahir, tetapi juga tentunya ada banyak orang juga yang kau ajak kan, Kematian. Mengakhiri segala apa yang telah dilalui di dunia untuk memulai segala hal baru di duniamu, Kematian. 

Baiklah, Kematian yang rendah hati dan selalu begitu. 

Sebagai seorang Kakak, yang begitu dekat dengan adiknya. Tentu, waktu hampir setahun terasa begitu lama. Waktu seolah bergerak lambat dan jalan di tempat. Semua serba leha-leha dan tak ada gunanya. Selama itu juga, perasaan yang muncul adalah perasaan aneh dan tak bisa ditafsir. Memangnya, selama ini ada ya perasaan yang bisa ditafsir. Perasaan adalah hal yang paling mudah untuk disembunyikan kepada orang lain. Walau sesekali wajah dan gerak mata sulit untuk disembunyikan. 

Begitu pun tentang segala hal yang dinilai baik-baik saja. Segala hal yang katanya harus dihadapi dengan senyuman atau apapun yang diiringi oleh kata-kata motivasi dan menyentuh. Semacam kalimat yang bisa membuat orang yang dalam keterpurukan seketika bangkit dan berkata “ya” pada kehidupan. Sepertinya, tak ada yang berjalan baik-baik saja. 

Saat ini, setiap orang menyimpan masalahnya sendiri-sendiri. Bahwa segala hal sedang dipeluk erat oleh sebuah masalah besar. Masalah yang kita semua tahu bahwa jalan keluar utamanya adalah dengan berbagi dan ngobrol. Lalu, Kematian. Rasanya begitu ngilu dan terpukul ketika orang yang selalu diajak berbagi masalah itu sudah tiada. Telah kau ajak oleh mu, Kematian. Hampir setahun lalu. 

Sejak saat itu, kata-kata ikhlas dan sabar merupakan tamparan besar. Di antara kami, menyimpan rindunya sendiri-sendiri. Berusaha memalingkan isi pikiran dengan berbagai aktivitas tambahan. Tetapi sepertinya, ada saja yang kurang. Ada saja hal yang mengingatkan pada adikku, yang telah kau ajak. Sehingga segalanya seolah tak bemakna lagi. Sehingga angin pun tak terasa segar, air sudah tak bisa menjernihkan dan tanah tak bisa menumbuhkan apapun walaupun hanya sekedar sebenih pohon kaliandra. 

Begitulah, Kematian yang tertawanya manis dan tak bersuara. 

Suratku atau apalah ini, tolong sampaikan ya pada adikku. Oh bukan hanya untuk adikku tetapi kepada siapa pun yang telah kau ajak. Bahwa semua mungkin baik-baik saja. Menjalani hidup seolah tanpa apa-apa. 

Lalu Kematian. Jika sudah tiba saatnya kau datang padaku. Datanglah dengan senyumanmu yang manis itu. Bertemu dengan sebuah kegembiraan, serupa ketika melihat bunga-bunga bermekaran di taman kecil saat pertengahan musim panas. Datanglah, serupa suara angin di tengah kebun pohon bambu yang membuat tenang dan kalem. Kemudian, datanglah bersama adikku ya. Supaya Kematian, bukanlah perpisahan, tetapi perjumpaan kembali.

Tuliskan Komentarmu !