Pesan untuk Kematian

Ilustrasion by detik.com

Hai, Kematian, bagaimana kabarmu?

Tentu kamu selalu dalam keadaan sehat, bukan? Fisikmu harus tetap kuat, pikiranmu mesti selalu fokus sebab ribuan, jutaan, hingga miliaran tugas sedang menantimu. Memilih orang yang bakal kamu ajak ke duniamu.

Kematian, aku masih saja ingat kepadamu. Barangkali kamu lupa. Kita berdua pernah saling bertatapan pada sebuah perjumpaan singkat di rumah sakit. Perjumpaan mengguncang dada dan pikiran, hati dan nuraniku. Aku masih saja ingat, ketika kamu perlahan mengajak adikku pergi.

Kamu mengajak adikku begitu perlahan, tenang dan hati-hati. Bersikeras, ketika di waktu yang sama, aku membujuk adikku supaya enggan mengiyakan ajakanmu. Dasar, adikku yang aku sayangi itu lebih memilih pergi denganmu, kemudian begitu tenang mengucapkan selamat tinggal kepadaku dengan berbagai kenangan kebaikan yang telah ia lakukan.

Kematian, di mana kamu sekarang?

Mau kah kamu mengantarkan kerinduanku?

Kematian, mungkin kamu telah mengetahuinya. Sejak kamu mengajak adikku pergi, kerinduan itu selalu datang padaku. Setiap pagi ketika tukang cilok melewati rumahku, pada hari Kamis ketika penjual aromanis tiba di lapangan voli menjelang sore hari atau ketika pedagang Martabak Bandung mulai membuka lapaknya di depan pabrik tekstil yang selalu penuh oleh buruh ketika tanggal gajian tiba. Kerinduan aku rasakan di mana-mana.

Barangkali, saat ini, kamu sedang dengan adikku. Sampaikan kerinduanku ini ya, Kematian. Bahwa kami satu keluarga baik-baik saja. Walau, tanaman di pekarangan rumah selalu kering hingga dua pekan, apalagi ketika musim kemarau seperti saat ini. Akibatnya, rumah kami kelihatan gersang dan penuh dengan debu di kaca jendelanya.

Kematian, aku tahu mengapa kamu mengajak adikku pergi. Itu menjadi ujian paling berat dan sulit dalam hidup kami yang pernah kami lalui. Mungkin, hingga saat ini, kami belum lulus dari ujian yang kamu berikan. Sebab, soal jawaban yang berupa, kesabaran dan keikhlasan selalu saja diganggu oleh kesedihan yang larut. Kesedihan yang membuat airmata pun enggan menitik lagi, kesedihan tanpa suara.

Kematian, aku tahu kamu tak pernah tidur walau hanya sekejap.

Sampaikan kerinduaku pada adikku, ya! Aku mohon. Sampaikan, walaupun saat ini mungkin adikku dalam keadaan yang sangat bahagia dan sudah tidak memikirkan kami lagi. Benar-benar bahagia. Tidur nyenyak, bermimpi sedang berada pada sebuah taman indah. Penuh dengan pepohonan rindang dan teduh. Sedangkan di taman itu, terdapat sebuah rumah kecil sederhana yang nyaman lengkap dengan perabotan dan teh hangat.

Sampaikan pada adikku, bahwa kakaknya begitu merindukannya. Bahkan selalu kebingunan, entah harus melakukan apa ketika keinginan untuk berjumpa hanya diakhiri oleh melihat lima menit ke layar gawai. Sebuah video dari masa silam seolah tidak cukup untuk memenuhi keinginan untuk bertatap.

Kematian, apapun yang kamu ketahui tentang perasaan mengenai adikku, sampaikan saja lah. Bahwa segala hal yang telah terjadi diyakini sebagai penentuan terbaik oleh Tuhan. Baik untuk siapa pun, termasuk bagimu Kematian.

Sampaikan pada adikku itu, jika saat ini, ia tak perlu memikirkan lagi apa yang akan terjadi di hari esok. Mempersiapkan barang bawaan atau menghitung keperluan supaya cukup untuk perjalanan harian. Sudah tak perlu, risau dengan berbagai berita menakutkan mengenai perkembangan negara ini atau bingung memilih kepala desa akhir tahun nanti.

Sampaikan kerinduan ini ya, Kematian! Bahwa setiap waktu setelah tidur usai dan mata mulai berkedip, maka selama itu pula doa terkirim untuk adikku. Oh, juga untuk orang-orang terdekat yang telah kamu ajak ke duniamu lebih dulu. Kematian, sebenarnya bagaimana sih duniamu itu? lebih menyulitkan dari kehidupan, kah? Apakah di sana harus sarapan setiap pagi supaya tidak salatri? Apakah di sana ada pencemaran limbah pabrik tekstil? Apakah di sana ada hutan yang dibakar demi industri orang-orang besar?

Kematian, yang jelas kamu harus sampaikan kerinduaku ini, yah! Temui adikku, sampaikan salam kepadanya. Bukan hanya dariku, tetapi dari orang-orang yang juga merinduinya. Dari siapa pun yang telah ia tinggalkan.

Dan Kematian, ini terakhir yah, aku berpesan padamu, jika kelak tiba waktunya kamu menjemputku untuk mengajak ke duniamu, datang lah dengan baik-baik. Datang padaku bersama adikku. Supaya kematian bukanlah satu perpisahan, tetapi sebuah perjumpaan kembali.

Tuliskan Komentarmu !